Sabtu, 29 Juli 2017

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7). Kegiatan serangkaian perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Kedonganan itu, selain untuk meringankan beban krama juga mewujudkan Panca Kertha di Desa Adat Kedonganan.

“Dalam pararem LPD, juga memberi ruang akan hal tersebut. Itu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masuk dalam panca kertha, menjaga keseimbangan sekala dan niskala mencapai moksartham jagadhita,” beber Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra.

Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal Desa Adat Kedonganan, Sabtu (29/7).

Upacara ini, imbuh Madra, merupakan buah dari sinergi masyarakat adat. Ke depan, kata dia, kegiatan ini akan menjadi salah satu produk LPD Kedonganan.


“Panglukatan Sapuh Leger merupakan amanat sastra agama. Sebagai lembaga keuangan adat Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu, kami mencoba meresponsnya,” kata Madra. 

Upacara Panglukatan Sapuh Leger diikuti lebih dari 700 krama. Upacara di-puput Ida Pandita Mpu Jaya Wijayanandha dari Griya Kutuh, Kuta.

Manggala Prawartaka Karya, Nyoman Suarjana menjelaskan para peserta itu terbagi dalam 19 kategori. Ada kategori anak yang dilahirkan pada rahina Tumpek Wayang, anak melik, anak sampir (anak yang dilahirkan berkalung tali pusar), tiba angker (anak yang terlahir terbelit tali pusar atau tidak menangis), anak jempina (anak terlahir premature), anak margana (anak yang terlahir di tengah perjalanan), anak wahana (anak yang lahir di tengah keramaian), anak julung aangi (anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit), anak julung sungsang (anak yang lahir tepat tengah hari), anak kembar, anak kembar buncing, tawang gantungan (anak lahir kembar selisih satu hari), pancoran apit telaga (tiga bersaudara: perempuan-laki-perempuan), telaga apit pancoran (laki-perempuan-laki), papilan (lima bersaudara: 4 perempuan dan 1 laki), padangon (lima bersaudara: 4 laki dan 1 perempuan), sanan empeg (anak yang lagir diapit oleh saudara yang meninggal), puja daha (perempuan yang sedang hamil melewati Tumpek Wayang), serta anak julung sarab, julung macan, dan julung caplok (anak yang lahir pada saat matahari tenggelam).

Suarjana mengakui, ritual ini baru pertama kali digelar di Desa Adat Kedonganan. Pelaksanaan ritual itu didasari atas keputusan prajuru Desa Adat Kedonganan, dengan persiapan kurang lebih selama dua minggu. 

“Tentu ini menjadi momentum yang sangat luar biasa bagi masyarakat. Masyarakat tentu akan sangat diringankan, karena semua biaya ditanggung oleh desa adat,” ujarnya. 

Suarjana berharap agar ritual bisa terselenggara secara berkelanjutan, minimal  sekali dalam setahun. “Meski ini baru dilaksanakan pertama kalinya, masyarakat tampaknya sangat antusias. Buktinya, peserta yang ikut cukuplah banyak,” tandasnya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar