Minggu, 02 April 2017

Pastikan Aman Dikonsumsi, LPD Kedonganan Tetap Bagikan Daging Babi Galungan Besok

Meskipun merebak isu penyakit meningitis streptococcus suis (MSS) atau meningitis babi, LPD Desa Adat Kedonganan didukung Desa Adat Kedonganan tetap akan melaksanakan kembali program berbagi daging babi menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Pembagian daging babi bakal dilaksanakan besok, Senin (3/4) pagi di jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Desa Adat Kedonganan. 

“Program berbagi daging babi ini sudah menjadi program rutin LPD Desa Adat Kedonganan sehingga diputuskan untuk tetap dilanjutkan. Tapi, kami tetap memastikan agar babi yang dipotong benar-benar sehat dan bebas dari bakteri  Streptococcus suis (S.s),” kata Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja.

Memang, dalam rapat antara Bendesa Adat Kedonganan, prajuru desa serta pengurus LPD Kedonganan pada 20 Maret 2017 lalu, disepakati membentuk tim khusus untuk memastikan kesehatan babi yang akan dipotong. Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menunjuk krama Desa Adat Kedonganan yang berkompeten dalam bidang kesehatan hewan berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Veteriner Bali serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk terlebih dahulu memeriksa kesehatan babi yang akan dipotong.

Rapat Bendesa Adat Kedonganan, prajuru desa, serta pengurus LPD Kedonganan membahas program berbagi daging babi menjelang hari raya Galungan.
Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan program berbagi daging babi sudah menjadi ikon LPD Kedonganan. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk tetap melaksanakan program itu, meskipun di masyarakat merebak isu MSS. Pihaknya bertambah yakin tetap melanjutkan program ini karena pakar dan instansi terkait memastikan daging babi aman dikonsumsi sepanjang dalam kondisi sehat dan diproses dengan cara yang benar.

“Sejak pertama kali program ini dilaksanakan, kami memang sudah selalu mendahului melakukan pemeriksaan kesehatan babi yang akan dipotong. Kami selalu menyertakan dokter hewan untuk memastikan daging babi itu layak potong dan layak konsumsi. Kini, pemeriksaan diintensifkan dengan melibatkan instansi terkait,” kata Madra.

Krama yang ditugasi menjadi tim khusus pemeriksaan kesehatan babi, Wayan Yustisia Semarariana menjelaskan pihaknya sudah mengambil sampel darah babi yang akan dipotong. Sampel darah itu juga sudah dikirim ke Balai Besar Veteriner Bali dan dikoordinasikan kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Badung.

“Kalau babinya segar, tak mungkin ada bakteri. Babi yang dipotong untuk program berbagi daging babi di LPD Kedonganan ini tergolong segar dan sehat, sehingga aman untuk dikonsumsi,” kata dokter hewan yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Unud ini.

Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kesehatan babi yang akan dipotong.
Yus juga mengajak krama Desa Adat Kedonganan untuk tidak ragu mengolah daging babi yang didapat dalam program berbagi daging babi LPD Kedonganan. Sepanjang daging babi itu diolah dengan benar, olahan daging babi itu aman untuk dikonsumsi.


Sebelumnya guru besar Fakultas Peternakan Unud yang juga Ketua Asosiasi Ilmuwan Peternakan, Komang Budarsa menyebutkan isu MSS jangan sampai menjadi ketakutan berlebih bagi masyarakat, apalagi sampai menjauhi kuliner khas Pulau Dewata itu. Menurutnya, bakteri S.s akan mati saat dimasak dengan matang dalam suhu 56 derajat. “Jadi sebenarnya masyarakat tidak perlu takut. Jangan takut hanya karena ada isu ini. Sesungguhnya tidak segawat itu,” ujarnya saat diskusi kajian ilmiah Streptococcus suis yang digelar Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Peradah Badung dan BEM Peternakan Unud, pertengahan Maret lalu. 

LPD Kedonganan akan membagikan sekitar 7 ton daging babi. Setiap krama nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200 ribu menerima 3 kg daging babi serta uang bumbu.

Krama Desa Adat Kedonganan diharapkan berkumpul di jaba Pura Bale Agung atau halaman parkir timur LPD Kedonganan mulai pukul 07.00. (*)


0 komentar:

Posting Komentar