Senin, 03 April 2017

Bagikan Daging Babi Sehat, Kedonganan Jadi Pionir Tanggap Darurat MSS

Upaya serius LPD dan Desa Adat Kedonganan memeriksa babi sebelum dipotong dan dibagikan kepada krama dalam program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan dan Kuningan" diapresiasi Pemkab Badung. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja yang mewakili Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menyebut Desa Adat Kedonganan sebagai satu-satunya desa adat tanggap darurat bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS). 

"Kedonganan menjadi pionir dalam upaya mewujudkan daging babi yang sehat untuk dikonsumsi warga," kata Sudaratmaja saat memberikan sambutan dalam acara pembagian daging babi kepada krama Desa Adat Kedonganan di jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Kedonganan, Senin, 3 April 2017.

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja didampingi Camat Kuta, I Gde Rai Wijaya, Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja dan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyerahkan daging babi secara simbolis kepada para kelian banjar se-Desa Adat Kedonganan. 
Menurut Sudaratmaja, berkaca pada kasus penyebaran MSS serta program positif di Kedonganan, Badung sudah mengintensifkan pengawasan kegiatan pemotongan babi di wilayah Badung menjelang hari raya Galungan. Bahkan, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun ini, pihaknya mengusulkan anggaran untuk kegiatan pemeriksaan babi yang akan dipotong di seluruh desa adat di Kedonganan setiap menjelang hari raya Galungan.

"Mengapa saat hari raya Idul Adha kita bisa lakukan pengawasan pemotongan hewan korban, sedangkan saat Penampahan Galungan tidak? Tradisi pemotongan babi menjelang hari raya Galungan ini juga harus kita kawal sehingga warga dipastikan mengkonsumsi daging babi yang sehat," kata Sudaratmaja.

Sudaratmaja menjelaskan, di Badung terdapat 122 desa adat. Karena itu, kata dia, tidak sulit bagi pihaknya mengadakan pengawasan. Setiap ada kelompok warga yang melaksanakan tradisi mapatung, pihaknya akan menerjunkan tim untuk memastikan babi yang dipotong memang sehat.

"Pemeriksaan meliputi antemortem sebelum hewan dipotong dan postmortem setelah babi dipotong. Yang diperiksa tentu bukan hanya bakteri MSS tapi penyakit secara umum. Kalau babinya sakit, jangan dipotong. Intinya, masyarakat bisa mengkonsumsi daging segar," kata Sudaratmaja. 

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja dan Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya didampingi Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra serta para kalian banjar berpose bersama menunjukkan bahwa daging babi sehat aman dikonsumsi.
Mengenai personel yang akan dilibatkan dalam pengawasan ke desa-desa adat, Sudaratmaja mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. "Itu gampang dilakukan. Kalau memang kekurangan personel, kami bisa libatkan mahasiswa untuk ikut mengadakan pengawasan," kata Sudaratmaja, 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja mengungkapkan merebaknya kasus bakteri MSS memang cukup meyita perhatian masyarakat. Namun di sisi lain, kegiatan mapatung di Kedonganan yang difasilitasi LPD melalui program "Berbagi Daging Babi" sudah menjadi tradisi sehingga tetap harus dijalankan. Untuk itu, pihaknya menggelar rapat melibatkan prajuru desa, kelian banjar, serta pengurus LPD yang memutuskan untuk membentuk tim dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah yang menangani masalah kesehatan hewan.

"Astungkara, babi yang dipotong dan dibagikan hari ini dalam keadaan sehat. Karena itu, tidak perlu ragu untuk menerima dan mengolah daging babi ini. Sepanjang diolah dengan benar dan bersih, olahan babi itu aman untuk dikonsumsi," kata Puja.

Puja pun menyampaikan terima kasih kepada tim serta Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung serta Balai Veteriner Bali yang telah membantu memastikan kesehatan babi yang akan dipotong dan dibagikan kepada krama Desa Adat Kedonganan. 

Plt. Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Wayan Suriawan menjelaskan pembagian daging babi menjelang hari Galungan ini sudah menjadi program rutin LPD sebagai wujud labda (manfaat) yang diberikan LPD kepada krama sebagai pemilik dan nasabah. Program ini dimulai tahun 2010 dan tahun ini memasuki pelaksanan ke delapan.

"Tahun ini total babi yang dipotong 6,7 ton. Krama yang menerima daging babi sebanyak 2.250 orang," beber Suriawan.

Setiap nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200 ribu menerima masing-masing 3 kg daging babi. Selain daging babi, krama juga menerima uang bumbu Rp 50.000.  (*)

0 komentar:

Posting Komentar