Rabu, 29 Maret 2017

"Mabuug-buugan" Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Kabupaten Badung

Tradisi Mabuug-buugan yang dilaksanakan krama Desa Adat Kedonganan saban hari Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi, ditetapkan sebagai warisan budaya Kabupaten Badung. Penetapan ini disampaikan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prastha saat acara Segara Langu di Pantai Kedonganan, Rabu, 29 Maret 2017. 

Mabuug-buugan sempat vakum selama puluhan tahun. Tradisi ini kembali dihidupkan dengan inisiasi Sekaa Teruna Desa Adat Kedonganan, Eka Santhi mulai tahun 2015 lalu. Tradisi yang berwujud mandi lumpur di Segara Kangin ini pun mendapat apresiasi positif krama Desa Adat Kedonganan serta warga luar Kedonganan. 

Suasana tradisi Mabuug-buugan di Segara Kangin (areal hutan mangrove di Pantai Timur) Desa Adat Kedonganan.
Itu sebabnya, pada pelaksanaan ketiga kali tahun ini, pesertanya cukup membludak, sekitar 500 orang. Mereka tidak hanya dari kalangan anak-anak, remaja, juga orang dewasa dan orang tua.

Salah seorang peserta Mabuug-buugan, Shanti mengaku senang dengan tradisi ini. Dia berharap tradisi ini akan dilanjutkan karena menjadi media efektif untuk merekatkan kebersamaan di antara krama Desa Adat Kedonganan, khususnya anak-anak muda. 

"Saya senang banget, kita bisa ngumpul-ngumpul dengan sesama teman di Desa Adat Kedonganan," kata Shanti. 

Pemangku Pura Dalem Desa Adat Kedonganan, I Made Maja menyatakan tradisi Mabuug-buugan sarat dengan makna. Tujuan utama tradisi Mabuug-buugan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. "Melalui tradisi ini, umat diharapkan memiliki pikiran yang suci dan bersih menyongsong kehidupan baru yang lebih baik di tahun baru Saka 1939," kata Maja.

Ketua Panitia, Made Adi Bagiastra menjelaskan tradisi Mabuug-buugan secara filosofis bermakna penyucian bhuwana alit dan bhuwana agung. "Kami hanya melanjutkan tradisi yang sudah diwariskan leluhur," kata Adi. 

Tradisi Mabuug-buugan diawali di depan Pura Desa Ada Kedonganan. Selanjutnya, peserta menuju Segara Kangin. Di sinilah tradisi Mabuug-buugan dilaksanakan. Para peserta bermandi lumpur di areal hutan mangrove dengan riang. Bahkan, para peserta saling lempar lumpur hingga terkesan seperti perang lumpur. Setelah puas bermain lumpur, peserta berkeliling desa menuju Segara Kauh. Di Pantai Kedonganan, mereka melukat bersama.

Tradisi Mabuug-buugan tahun ini juga dirangkaikan dengan kegiatan Segara Langu. Saat acara Segara Langu dilaksanakan pertunjukan seni dan pameran berbagai makanan tradisional Bali. (*)

Simak juga beritanya di Bali TV berikut ini.





0 komentar:

Posting Komentar