Minggu, 27 Desember 2015

Syukuri LPD Membuat Makin "Elah", Tapi Jangan "Ngelahin"

Wawancara Khusus dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 


Selama 25 tahun, LPD Kedonganan menjadi lokomotif pembangunan di Desa Adat Kedonganan. Kehadiran lembaga keuangan komunitas adat di Kedonganan ini membuat krama dan Desa Adat Kedonganan kian elah, makin mudah, baik dalam hal pembangunan fisik maupun nonfisik. Namun, justru kondisi kian elah ini membiakkan kekhawatiran. Mengapa? Berikut wawancara dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 
Apa makna usia 25 tahun ini bagi LPD Kedonganan?

Ya, bagi sebuah lembaga, usia 25 tahun itu pertanda memasuki tahap kematangan. Selama seperempat abad ini, LPD Kedonganan sudah memainkan peran sebagai motor penggerak, stabilisator dan dinamisator pembangunan di desa adat. LPD men-drive kehidupan kita beradat dan berbudaya Bali berlandaskan ajaran agama Hindu.

Di usia ke-25 tahun ini, LPD Kedonganan merasa sudah sukses?

Penilaian itu seharusnya diberikan krama. Tapi, kami di LPD Kedonganan memiliki ukuran sukses itu pada tiga aspek, yakni sukses parhyangan, sukses pawongan dan sukses palemahan. Kami menyebutnya trisukses LPD Kedonganan. Dari aspek parhyangan, kami bersyukur, semua parhyangan di desa adat kini sudah diperbaiki dan di situ ada peran LPD. Pelaksanaan upacara, aci rutin di kahyangan desa maupun banjar-banjar juga sudah tidak lagi menjadi masalah karena sumber pendanaannya dari LPD. Bahkan LPD memberikan punia secara rutin ke dadia dan paibon. Masih dalam kaitan yadnya, LPD juga memfasilitasi program desa adat berupa ngaben dan nyekah ngemasa setiap tiga tahun. Dalam aspek pawongan, LPD selama ini tidak pernah absen membina prestasi belajar anak-anak Kedonganan melalui tes beasiswa prestasi, lomba cerdas cermat dan beasiswa untuk anak yang orang tuanya kurang mampu. Kami juga mendorong tumbuhnya wirausaha muda melalui pelatihan dan lomba. Dari sisi palemahan, LPD juga menjadi motor penggerak dan fasilitator penataan Pantai Kedonganan hingga kini berkembang menjadi kawasan wisata kuliner berbasis komunitas adat. Di satu sisi palemahan tertata, di sisi lain pawongan secara ekonomi juga berkembang. Kami terus berupaya mensinergikan tiga aspek ini agar makin bermanfaat bagi krama dan desa adat. 

Usia 25 tahun kerap diidentikkan dengan zona nyaman. Komentar Anda?

Kita sadari hal itu. Kami membagi perkembangan LPD Kedonganan ini ke dalam empat periode. Pertama, periode perintis yang dimulai tahun 1990 hinga sekitar tahun 1995. Ini masa awal yang sulit karena kami tak hanya berjuang membangun lembaga tetapi juga merebut kepercayaan krama. Kedua, periode pengembang. Periode ini ditandai dengan pendirian kantor yang representatif dan kepercayaan krama mulai tumbuh. Ketiga, periode penikmat. Pada periode ini manfaat LPD makin dirasakan krama. Periode inilah yang perlu kita sikapi secara hati-hati. Pada umumnya ketika sudah merasa nyaman, masyarakat berpikir elah (mudah, gampang), akhirnya lengah. Masyarakat merasa sudah ada LPD yang menjadi tumpuan. Prajuru juga merasa sudah ada LPD yang mendukung pendanaan desa. Karyawan merasa, LPD kita sudah besar. Akhirnya, tidak ada antisipasi atas berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kalau kita lengah di periode ini, bisa saja kita terejembab ke periode keempat, periode penghancur. Karena itu, krama desa, prajuru desa dan karyawan LPD tidak boleh ngelahin (menggampangkan) hanya karena melihat LPD kini sudah besar. Jusrtu di sinilah kita harus lebih serius dan waspada.

Apa indikator LPD Kedonganan kini memasuki zona nyaman?

Hal itu bisa dilihat dari beberapa contoh. Pembangunan Pura Bale Agung, dianggarkan Rp 3 miliar, habis juga Rp 3 miliar. Miskin kreativitas untuk mencari sumber-sumber dana lain. Pengelolaan pasar desa adat di KUD, enam tahun tidak ada hasil, masyarakat tak memasalahkan. Usaha kafe di pantai jor-joran memberikan komisi, tak ada yang memikirkan untuk mengatasinya dan malah merasa itu wajar. Padahal, itu membunuh kita pelan-pelan. Kenapa bisa begitu? Karena semua merasa nyaman, semua merasa sudah ada yang mem-back up, sudah ada LPD. Kita pun kini jadi manja. Kalau tidak ada uang, tak mau bergerak. Dulu, saya bikin lomba baleganjur, tanpa ada dana pembinaan ke banjar-banjar, orang bersemangat latihan. Sekarang, hal semacam itu sulit kita dapatkan. Terus terang, saya ngeri membayangkan masa depan generasi Kedonganan. Apalagi yang saat ini berusia di bawah 25 tahun. Mereka sudah menerima LPD dalam kondisi besar. Padahal, di balik apa yang kini disebut kesuksesan LPD, awalnya adalah sikap tulus, lurus dan serius para pendahulu.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Tatkala saya menggandengkan undian HUT LPD dengan kegiatan penggalian dana pembangunan Pura Puseh-Desa dan promosi kafe, banyak teman-teman yang bertanya, tak mengerti. Bahkan ada yang bertanya, untuk apa lagi menjual kupon, toh sudah ada dana? Inilah cerminan sikap nyaman. Ini bagian dari upaya merawat semangat untuk terus berusaha, tiada henti berkreativitas. Dengan pola sinergi itu, semua aspek digerakkan, terutama partisipasi krama. Dalam teori pemerintahan modern, partisipasi masyarakat adalah kunci utama. Pola kupon bersama ini membuat partisipasi krama berjalan secara simultan, beriringan dengan aspek ngayah untuk pembangunan pura. Di tengah-tengah LPD menjadi dinamisatornya dengan memberikan hadiah. Pada akhirnya, gerak simultan itu akan memberi manfaat bagi LPD. Memang, upaya ini belum berjalan maksimal, mungkin karena pemahaman yang belum utuh terhadap aspek tujuan dan manfaatnya. Tapi, dampaknya sudah bisa dirasakan. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan fisik Pura Puseh-Desa lebih rendah dari biaya yang dianggarkan. Kenapa bisa begitu? Ada unsur partisipasi krama. Intinya, jangan terlena, jangan malas, jangan cepat berpuas diri. Kita harus terus berusaha.

Apa harapan ke depan?  


Saya berharap kepada pemuda. Itu sebabnya, saya gosok-gosok mereka, saya dorong mereka menjadi wirausaha, saya dorong mereka ikut mengkritisi LPD dan dinamika pembangunan di desa. Mereka harus belajar dari sejarah, dari para pendahulu. (*)

2 komentar:

  1. Dimana saya bisa liat hasil undian pemenang kupon berhadiahnya ngih?

    BalasHapus
  2. Dimana saya bisa liat hasil undian pemenang kupon berhadiahnya ngih?

    BalasHapus