Senin, 05 Oktober 2015

Ngaben dan Nyekah Ngemasa IV Kedonganan: Difasilitasi Desa Adat, Dimotori LPD

Tradisi ngaben dan nyekah atau disebut juga karya atiwa-tiwa lan atma wedana secara massal di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung kian kokoh saja. Untuk keempat kalinya sejak tahun 2006, desa yang kini terkenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner di Bali itu menggelar upacara ngaben dan nyekah ngemasa. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Senin (5/10).

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menjelaskan upacara ngaben dan nyekah ngemasa ini sudah menjadi program rutin Desa Adat Kedonganan saban tiga tahun dan sudah dimasukkan dalam awig-awig desa adat. Program ini hasil sinergi dengan program Simpanan Upacara Adat (Sipadat) LPD Desa Adat Kedonganan.

“Program ini sudah dimulai tahun 2006 dan tahun ini merupakan yang keempat kali,” kata Puja.


Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menambahkan ngaben dan nyekah ngemasa merupakan labda (manfaat) yang diberikan LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali milik desa adat kepada krama Desa Adat Kedonganan selaku pemilik sekaligus nasabah LPD. Biaya upacara sepenuhnya diambil dari hasil pengelolaan dana krama di LPD Kedonganan.

“Krama memang tidak mengeluarkan biaya secara langsung untuk ikut dalam upacara ini. Akan tetapi, krama-lah yang sesungguhnya membiayai upacara ini melalui kegiatan pengelolaan dana krama di LPD. Yang melaksanakan upacara ini juga krama pemilik sawa secara bersama-sama, sementara desa adat sebagai fasilitator dan LPD sebagai motor penggeraknya,” kata Madra.

Pola ngaben dan nyekah massal di Kedonganan ini, kata Madra, didasari konsep pasidhi kara yang menjadi basis semangat komunitas adat Bali. Karena itu, kebersamaan dan kekeluargaan menjiwai setiap rangkaian upacara atau pun kegiatan.
Menurut Puja, upacara ngaben dan nyekah secara massal memang bertujuan memperkuat bangunan kebersamaan di antara krama desa. Menurut Puja, ngaben dan nyekah massal ini tidak sekadar untuk menghemat biaya, tetapi yang jauh lebih penting memupuk semangat kebersamaan dan persatuan di antara krama desa.

Madra menambahkan yang ditonjolkan dalam ngaben dan nyekah massal di Kedonganan yakni kebersahajaan, bukan jor-joran, apalagi adu gengsi. Menurut Madra, ber-yadnya tidak boleh dilandasi semangat jor-joran atau adu gengsi. Justru, yadnya harus semakin memperkuat empati dan simpati terhadap sesama.

Ketua Panitia, I Made Sukada menjelaskan upacara ngaben diikuti 55 sawa, ngelangkir dan ngelungah sebanyak 75 sawa dan nyekah diikuti 100 sekah. Peserta berasal dari seluruh banjar adat di wilayah Desa Adat Kedonganan. Upacara di-puput enam sulinggih.

Sukada menjelaskan rangkaian karya atiwa-tiwa lan atma wedana sudah dimulai pada Jumat (4/9) lalu yang ditandai dengan matur piuning dan nyukat genah pangorong. Jumat (2/10) lalu dilaksanakan upacara ngulapin. Sabtu (3/10)  dilanjutkan dengan nunas tirtha pangaskaran. Minggu (4/10) dilaksanakan upacara pangaskaran, saji tarpana, ngunggahang damar kurung dan nyimpangang adegan ke soang-soang sawa. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Senin (5/10).

Puncak upacara atma wedana atau nyekah dilaksanakan pada Senin (17/10) mendatang. Rangkaian upacara diakhiri dengan nyegara gunung dan nampiang ring Hyang Guru pada Rabu (21/10) mendatang. (b.)


0 komentar:

Posting Komentar