Rabu, 09 September 2015

"Selae Tiban" LPD Kedonganan, Krama Diingatkan Jangan Terlena

Usia 25 tahun bagi sebuah lembaga keuangan merupakan momentum yang sangat penting. Ibarat manusia, usia 25 tahun merupakan tahapan memasuki usia dewasa. Memang, di usia seperempat abad atau selae tiban itu, LPD Kedonganan telah berkembang pesat hingga menyebabkan munculnya rasa nyaman di kalangan pengurus LPD, prajuru desa dan krama desa. Rasa nyaman ini bisa menjadi berbahaya jika tidak disikapi dengan baik dan tepat. 

Hal ini ditegaskan Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., saat menyampaikan laporan dalam perayaan HUT ke-25 LPD Desa Adat Kedonganan di Balai Banjar Pasek, Kedonganan, Rabu, 9 September 2015 malam. 



"Memang, aset LPD Kedonganan kini sudah mencapai Rp 261 miliar. Tapi, kita jangan terlena. Justru, tantangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di Desa Adat Kedonganan di usia 25 tahun semakin berat," kata Madra.

Madra menunjukkan persaingan ketat dengan berbagai lembaga keuangan umum di Kedonganan, seperti koperasi, bank perkreditan rakyat (BPR) dan bahkan bank umum sudah mulai masuk ke Kedonganan. Untuk menjaga eksistensi dan manfaat LPD Kedonganan bagi desa adat dan krama desa, dibutuhkan kekompakan tiga komponen utama, yakni prajuru desa, pengurus LPD dan krama desa.

"Saya mengamati, selama ini kejadian LPD bangkrut di Bali karena tiga komponen ini tidak kompak. Kita di Kedonganan bersyukur masih tetap kompak dan ini harus terus dijaga dan dikuatkan," kata Madra. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., mengapresiasi capaian LPD Kedonganan di usia 25 tahun. Dia berharap agar apa yang diraih LPD Kedonganan saat ini bisa terus ditingkatkan, terutama peran dan fungsinya sebagai penyangga agama, adat dan budaya Bali di Desa Adat Kedonganan. 

"LPD ini harus dijaga karena merupakan benteng utama menjaga agama, adat dan budaya Bali," tandas Puja. 

Tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig mengaku bangga sebagai krama Desa Adat Kedonganan. Pasalnya, karena LPD, Desa Adat Kedonganan kini telah mengalami kemajuan yang pesat jika dibandingkan 25 tahun lalu. Bahkan, LPD membuat nama Kedonganan dikenal di daerah lain. 

"Berkat LPD, kini pembangunan pura tanpa memungut iuran krama. Krama yang kurang mampu tetapi otaknya bagus, bisa sekolah karena dibantu LPD. Begitu juga krama yang mengalami keterbatasan fisik selalu mendapat bantuan dari LPD," tegas Made Ritig. 

Perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan dihadiri para tokoh dan krama Desa Adat Kedonganan. Pada acara perayaan ini juga diserahkan penghargaan kepada para tokoh masyarakat yang menjadi perintis pendirian LPD Kedonganan dan pengembang LPD Kedonganan. Selain itu, juga diserahkan secara simbolis bantuan kepada siswa dari kekuarga kurang mampu, krama disabilitas dan para pemenang lomba serta penghargaan kepada karyawan dengan masa kerja 15 tahun. Di akhir acara dilaksanakan acara potong tumpeng oleh Kepala LPD dan Bendesa Adat Kedonganan.

Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan perayaan HUT dilaksanakan sepanjang tahun 2015 dengan berbagai jenis kegiatan pokok, meliputi bidang parhyangan, pawongan dan palemahan. Berbagai rangkaian kegiatan itu telah digelar sejak Mei 2015 lalu dan akan berakhir pada 27 Desember 2015 sebagai puncak acara. (*)

0 komentar:

Posting Komentar