Rabu, 01 Juli 2015

Yasa Kirti Krama Terkait Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan sesungguhnya bertujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan krama dan seisi Desa Adat Kedonganan.  Kesukesan (sida karya atau labda karya) tidak hanya tergantung pada besarnya biaya yang dihabiskan, tetapi yang jauh lebih penting adalah rasa bhakti, tulus dan ikhlas seluruh krama Desa Adat Kedonganan untuk mendukung dan mensukseskan karya ini.

Bentuk dukungan krama desa itu diwujudkan dalam yasa kirti. Yasa Kirti adalah sebuah kesepakatan perilaku dan tata cara pelaksanaan upacara yadnya yang patut dipersembahkan melalui suatu keputusan bersama agar dapat dilaksanakan oleh seluruh krama Desa Adat Kedonganan.

Krama lanang ngayah menyiapkan ulam caru sebagai sarana upakara Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. (Foto: Mahendra De Winatha)

Adapun yasa kirti yang patut dilaksanakan dalam hubungan itu sebagai berikut.
1.      Yasa kirti dalam bentuk perilaku
2.      Yasa kirti dalam bentuk dana punia
3.      Yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara

1. Yasa Kirti dalam Bentuk Perilaku

Yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku, yaitu yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh krama Desa Adat Kedonganan. Dalam lontar Dewa Tattwa diatur mengenai yasa kirti dalam bentuk perilaku sebagai berikut.

Kramanya Sang kumingkin karya sanistha, madya, utama, manah lega dadi ayu, ayasa angalem druweya mwang kamugutan kalilirang wong atuha, ayasa angambekaken krodha mwang ujar gangsul, ujar menak juga kawedar denira, mangkana kramanya sang anger paken karya, anywasim, panging budhi mwang krodha”.

Artinya,

“Tata caranya bagi mereka yang bersiap-siap akan melaksanakan upacara kanista, madya atau uttama, pikiran yang senang, dan ikhlaslah yang menjadikan baik. Janganlah tidak ikhlas atau terlalu menyayangi harta benda yang diperlukan untuk yadnya. Janganlah menentang petunjuk orang tua. Jangan berperilaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengar itu juga hendaknya diucapkan. Demikianlah tata caraya orang yang akan melaksanakan yadnya. Jangan menyimpang dari budi baik dan jangan menampilkan kemarahan.”

Jika dirumuskan secara sederhana, yasa kirti krama Desa Adat Kedonganan dalam mendukung Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan, sebagai berikut.
  • Tidak dibenarkan mengikatkan diri pada harta benda yang akan dipergunakan untuk yadnya. Sewajarnya yadnya itu dilandasi dengan keikhlasan.
  • Tidak dibenarkan menampilkan kemarahan serta mengeluarkan kata-kata yang kasar.
  • Janganlah menyimpang dari kebenaran.
  • Tata cara pelaksanaan yadnya itu hendaknya sesuai dan menurut ketentuan dalam sastranya.
  • Ketiga unsur utama pelaksana yadnya, yaitu pendeta (sulinggih)  yang akan memuja, tukang (serati) banten dan orang yang melaksanakan yadnya itu hendaknya seiring sejalan, tidak saling bertentangan.
  • Tidak boleh berpikir yang tidak baik, serta mengeluarkan kata-kata yang kasar dan tidak enak didengar.
  • Perbuatan yang mencerminkan rasa bhakti yang dilandasi kesucian diri pribadi hendaknya yang selalu ditampilkan.
  • Saat ngaturang ayah patut mengenakan busana adat Bali.
  • Sebelum masuk ke pura wajib nyiratin raga (memerciki diri) dengan tirtha pabersihan/panglukatan yang disediakan di depan lawang/kori agung.
  • Krama desa yang ceda angga (cacat) sejak lahir dimohonkan dengan sangat untuk tidak ikut nanding banten suci, bagya pulakerti, catur serta sarana upakara lainnya yang dihaturkan sanggar tawang.

2. Yasa Kerti Berupa Dana Punya

Dana punya diartikan sebagai persembahan dalam bentuk harta benda. Dalam ajaran agama Hindu, umat dianjurkan untuk melaksanakan dana punya karena pahalanya sangat besar.

Dalam Slokantara 169 disebutkan:

“Ikang tan dhana, tan bapa, tan ibu amukti phalannya ika, sang gumaweyaken ikang dana punyajuga mukti phalanikang dana punya”.

Artinya :

“Bukan ayah, bukan ibu, dan bukan siapa-siapa yang akan menerima pahala dana punya itu, adalah dia yang mapunya.”

Dalam Manawadharma Sastra sargah IV bait 230 juga disebutkan:

“Bhumido bhumin apnoti/
Dhengham ayurhi hanyadah/
Grhado ghriyani wesmani/
Rupam utanam//”

Artinya :

“Mereka yang mapunya tanah akan mendapat sorga, mereka yang mapunya emas akan mendapat umur panjang, mereka yang mapunya rumah akan mendapat yang utama, mereka yang mapunya akan mendapat kemuliaan.

Panitia karya membuka kesempatan bagi krama desa untuk mempersembahkan dana punya guna mendukung kesuksesan karya dengan dilandasi hati yang bersih, suci, tulus, dan ikhlas.

3. Yasa Kirti Berupa Upacara/Upakara

Yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara berkaitan erat dengan rangkaian upacara selama karya berlangsung. Adapun yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara bagi krama Desa Adat Kedonganan, sebagai berikut.

  1. Soma Umanis Tolu, 1 Juni 2015  di Pura Dalem dimuali melaksanakan upacara dan upakara sebagai berikut.
    1. Pada pagi hari melaksanakan upacara matur piuning di masing-masing parhyangan desa dan prasanak desa.
    2. Pada sore hari (sekitar pukul 14.00 Wita) melaksanakan upacara upakara Melaspas Alit, Mendem Pedagingan sane nguni, Melaspas Gambelan lan Mejaya jaya. 

  1. Soma Umanis Sungsang, 6 Juli 2015 melaksanakan upacara upakara Nyengker Setra. Krama desa yang masih memiliki sawa dan belum di-aben, menghaturkan banten soda putih kuning, nasi angkeb, ketipat pesor lan rantasan putih kuning di tempat sawa atau kuburan.

  1. Kekeran Desa Adat Kedonganan
    1. Sejak Sukra Kliwon Sungsang, 10 Juli 2015 hingga berakhirnya eedan karya penyineban pada Anggara Pon Langkir, 28 Juli 2015 krama Desa Adat Kedonganan tidak diperkenankan melaksanakan upacara sebagai berikut.
·         Pawiwahan, pawarangan (Matipat Bantal)
·         Bhuta Yadnya (mecaru)
·         Pangabenan serta ngeseng sawa/mekingsan di gni di wawidangan setra Desa Adat Kedonganan.
    1. Jika ada krama Desa Adat Kedonganan yang kelayu sekar (meninggal dunia) dalam masa sengker karya agar segera dikubur (kapendem) dengan melaksanakan penguburan seperti biasa. Waktu pelaksanaan penguburan agar dilaksanakan saat engseb surya (senja hari) atau sebelum matahari terbit tanpa membunyikan kentongan banjar, tanpa magegitan serta matetangguran agar krama banjar tidak kena kacuntakan.
    2. Keluarga terdekat, nyama braya yang menyertai penguburan kena cuntaka selama tiga hari sejak hari penguburan atau makutang di setra. Setelah berakhir masa kacuntakan selama tiga hari, krama tersebut kembali bisa ngaturang ayah mengikuti rangkaian karya.
·         Krama desa yang memiliki kelayusekaran tidak diperkenankan melaksanakan upacara pamendeman atau pangabenan karena pelaksanaan ngaben masa sudah semakin dekat. Dibolehkan melaksanakan upacara makingsan di gni di luar desa atau krematorium lalu nganyut ke sagara. Hanya pemangku (eka jati) yang dibolehkan melaksanakan upacara atiwa-tiwa.

  1. Whraspati Wage Sungsang, 9 Juli 2015, masing-masing krama Desa Adat Kedonganan memasang penjor yang dilengkapi sanggah arda candra dengan wastra putih kuning mulai pukul 16.00 Wita. Sarana upakara yang dipersembahkan di sanggah ardha candra berupa pajati jangkep dan di sor (bawah) menghaturkan segehan panca warna.

  1. Sukra Keliwon Sungsang, 10 Juli 2015 di Pura Dalem melaksanakan upacara Ngajum, Melaspas Pedagingan, Melaspas Agung, Mupuk Pedagingan, Melaspas Bagia Pulakerti, Penegteg lan Penyegjek. Di tiap-tiap Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia ngaturang pajati jangkep serta di sor ngaturang segehan putih kuning.

  1. Soma Pon Dunggulan, 13 Juli 2015, Ida Bhatara Malasti dan Mapakelem di sagara.  Di sanggah penjor ngaturang penganyaran maduluran soda, canang pasucian serta segehan panca warna.

  1. Whraspati Umanis Dunggulan, 16 Juli 2015, di Pura Dalem dilaksanakan upacara dan upakara Caru Balik Sumpah lan Caru Panca Sata Madurga. Di masing-masing Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati serta segehan putih kuning

  1. Anggara Umanis Kuningan, 21 Juli 2015,  puncak karya di Pura Dalem, melaksanakan upacara Nyatur Muka, Ngenteg Linggih, Ngingkup Utama.
v  Di Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati dan segehan putih kuning.
v  Di penjor ngaturang panganyaran yang diawali dengan banten soda canang pasucian lan segehan manca warna.

  1. Anggara Pon Langkir, 28 Juli 2015,  di Pura Dalem dilaksanakan upacara Nyenuk, Ngeremek Karya, Ngaturan Rsi Bojana lan Nyineb.
v  Di Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati serta segehan putih kuning.

v  Di Penjor ngaturang penganyaran yang diawali dengan dengan banten soda canang asucian dan segehan manca warna.

0 komentar:

Posting Komentar