Minggu, 19 Juli 2015

Sejarah Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan

Tidak mudah melacak kapan Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan berdiri. Namun, dapat diduga, Pura Dalem Kahyangan ini berusia sezaman dengan pendirian Desa Adat Kedonganan.

Awalnya, Pura Dalem Kahyangan terpisah dengan daratan. Hal ini dikarenakan areal pura di pantai timur dikelilingi oleh rawa-rawa. Warga sering menyebut Pura Dalem Kahyangan sebagai pura di tengah laut. Untuk mencapai pura ini warga harus melintasi sebuah jembatan bambu, terutama jika air laut sedang pasang.

Kondisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan tahun 1992 (Foto: Dokumentasi Ketut Madra)

Hingga akhir tahun 1990-an, kondisi Pura Dalem Kahyangan sungguh memprihatinkan. Atap palinggih pura banyak yang bocor, dinding pura pun mulai rapuh karena dekat dengan pantai. Kondisi pura yang kurang representatif membuat krama merasa miris.

Pada tahun 1992, paruman desa yang dipimpin Bendesa Adat Kedonganan kala itu, I Gede Berata memutuskan memugar Pura Dalem Kahyangan. Namun, pemugaran tidak mudah dilakukan karena sulit membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi pura. Karena itu, dibuatkan jembatan sederhana yang menghubungkan daratan dengan pura. Lama-kelamaan jembatan ini diuruk sehingga antara daratan dan lokasi pura pun terhubung, menyatu dengan daratan. Kini, krama sudah mudah mengakses lokasi pura.

Tantangan lain yang dihadapi untuk memugar Pura Dalem Kahyangan tentu saja aspek biaya. Ketika itu, kondisi perekonomian desa maupun krama desa masih kurang memprihatinkan. Sebagian besar warga Kedonganan berprofesi sebagai nelayan dengan pendapatan yang sangat minim. Sementara pembangunan Pura  Dalem Kahyangan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta.

Melihat kenyataan itu, prajuru Desa Adat Kedonganan membentuk panitia pembangunan pura yang diketuai salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig. Ketika itu, Desa Adat Kedonganan baru dua tahun memiliki sebuah lembaga keuangan milik desa adat bernama Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan. Sebagai wadah kekayaan desa adat, LPD Kedonganan pun dilibatkan sebagai pengelola dana. Karena itu, Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra didudukkan sebagai bendahara panitia. Sinergi antara panitia dan pengurus LPD pun terjalin.


Untuk mendapatkan dana awal, prajuru desa dan panitia pembangunan pura mendorong krama desa, terutama yang mampu secara ekonomi, untuk mapunia. Tiap-tiap krama desa yang mampu mapunia Rp 60.000. Punia itu pun dicicil selama setahun atau Rp 5.000 per bulan. Dari dana iuran ini terkumpul dana sekitar Rp 60 juta. Dana inilah yang dijadikan modal awal untuk melaksanakan pemugaran pura. Dengan adanya modal awal ini, para pemborong menjadi percaya dengan kemampuan panitia untuk merampungkan pemugaran dan krama pun yakin pemugaran bisa diselesaikan.

Selanjutnya panitia menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dana pembangunan pura, seperti mengadakan bazar dan terus mendorong dana punia, terutama dari krama yang memiliki usaha. Sejumlah krama desa yang memiliki usaha toko bahan bangunan, selain turut mapunia juga memberikan keleluasaan sistem pembayaran bahan bangunan bagi panitia. Krama desa juga bahu-membahu ikut terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan pura. Akhirnya, Pura Dalem Kahyangan bisa dirampungkan.

Berkat kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini pula, tumbuh kepercayaan diri krama Desa Adat Kedonganan untuk membangun desanya menjadi lebih baik. Bahkan, kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini berdampak pada perkembangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan milik Desa Adat Kedonganan.

Pada tahun 2015, Pura Dalem Kahyangan kembali direnovasi. Namun, renovasi dilakukan dalam tingkatan ringan. Hal ini dikarenakan usia pura yang sudah mencapai 23 tahun sejak dipugar total tahun 1993 silam. Ada beberapa alasan renovasi ringan terhadap Pura Dalem Kahyangan. Pertama, kondisi fisik pura yang sudah dipandang perlu untuk diperbaiki. Kedua, umur padagingan di pura pada tahun 2015 sudah mencapai 23 tahun dan sudah saatnya dilaksanakan karya mupuk mapadagingan. Ketiga, sebagai bagian dari persiapan nyanggra karya padudusan.

Setelah berkonsultasi dengan sulinggih dan merujuk sumber-sumber sastra agama Hindu, paruman Desa Adat Kedonganan memutuskan menggelar Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan.


0 komentar:

Posting Komentar