Selasa, 21 Juli 2015

Hari Ini, Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Hari ini, Selasa, 21 Juli 2015, bertepatan dengan Anggara Umanis wuku Kuningan, dilaksanakan puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Prosesi puncak karya dimulai pukul 08.00 dan di-puput delapan sulinggih

Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M., menjelaskan prosesi upacara dimulai pukul 08.00 di Pura Dalem Kahyangan berupa Ngenteg Linggih Ngingkup Utama dengan sarana upakara nyatur muka serta di Pura Mrajapati berupa ngenteg linggih dengan sarana upakara nyatur rebah. Upacara di Pura Dalem Kahyangan di-puput tiga orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Bajing, Ida Pedanda Sari Arimbawa, dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri. Upacara di Pura Mrajapati di-puput Ida Pedanda Oka Timbul.

(Foto: Mahendra De Winatha)

Sekitar pukul 11.00 dilanjutkan dengan upacara Mapeselang dengan sarana upakara nyatur rebah malantaran kebo di Pura Dalem. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Putra Telaga dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa. 

Upacara Ida Bhatara Tedun ke Paselang adalah yasa patemon Hyang Widhi dalam prabawa Semara-Ratih, untuk menciptakan dunia ini dengan segenap prabawa-Nya.Upacara ini sebagai wujud cinta kasih Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk jenis ciptaan-Nya, yang menyebabkan manusia hidup dengan makmur dan sejahtera. Dewa Semara Ratih  (Kamajaya-Kamaratih) dipuja dengan warna yang serba kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara ini juga menyimbolkan bhakti disambut asih dari Hyang Widhi Wasa sebagai jiwa seluruh alam dan sebagai sumber kehidupan di Tri Bhuwana ini. Jiwa kita ini pun adalah pinjaman dari Hyang Widhi Wasa.

Upacara Mapeselang ini adalah lambang bertemunya Hyang Widhi Wasa dengan umat manusia, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta kasih. Cinta kasih Hyang Widhi Wasa kepada umat-Nya telah terbukti dalam bentuk pencipta dunia beserta isinya, dengan kekuatan-kekuatan sucinya mengatur dunia ini. Beliau menciptakan gunung, laut, danau, hutan, sawah, ladang, matahari, segala materi yang berharga serta semuanya merupakan kekuatan kehidupan manusia. Inilah bentuk cinta kasih Tuhan untuk umat manusia.

Dalam upacara “Mapeselang” Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam wujud Purusa Predana sebagai Dewa Semara Ratih, lambang dewa Cinta kasih.

Saat upacara Mapeselang inilah dilaksanakan prosesi Majejiwan, yakni pembacaan lontar Pajejiwan oleh sulinggih. Dalam teks Pajejiwan itu jelas sekali diungkapkan adisrsti (ciptaan mulia) Hyang Widhi, nresti alam raya ini dengan komponen-komponennya, sehingga umat manusia dan makhluk lainnya menjadi makmur, sejahtera dan bahagia dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.

Dalam teks Pajejiwan disebutkan, di samping Hyang Widhi menciptakan alam raya ini dengan langit, matahari, bulan dan bintang, juga diciptakan gunung, danau, sungai dan segara (laut). Termasuk menciptakan tarulata, gulma, sthawara dan jenggama serta berbagai ciptaan mulia (adisrsti) lainnya.

Sarana upakara yang digunakan yakni nyatur rebah dengan lantaran kerbau. Karya Agung padudusan AgungNgenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan menggunakan seekor kerbau yos brana. Kerbau jenis ini dalam bahasa Latin diberi nama Bubalus bubalis. Kerbau yos brana adalah kerbau piaraan yang dihasilkan dari perkawinan kerbau jantan (kulit dan bulunya berwarna hitam) dengan kerbau betina (kulit dan bulunya berwarna putih). Ciri khas kerbau yos brana adalah kulit berwarna hitam, bulu berwarna putih.

Pukul 15.00 dilaksanakan upacara Mapadhanan di Pura Dalem dengan sarana upakara nyatur rebah caru ngempong asu. Upacara ini di-puput dua orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putraka Timbul dan Ida Pedanda Anom Timbul. 

Upacara Mapedhanan dilaksanakan dengan cara berjalan beramai-ramai merebut benda-benda di  PedananPedhanan merupakan nyasa prakertti/kehidupan. Pedhanan juga merupakan lambang untuk melepaskan diri pribadi dari sifat-sifat yang tidak baik. Segala sifat tidak baik, itu disalurkan ke dalam upacara dengan benda-benda di Pedanan. Diharapkan sifat-sifat yang negatif yang melekat pada diri pribadi masing-masing hilang lenyap sehingga manusia menjadi suci ikhlas, tidak serakah.

Prosesi puncak acara diakhiri dengan parikrama pangilen-ilen (lokacara) pamangku sekitar pukul 19.00. 

Ketut Madra berharap seluruh krama Desa Adat Kedonganan tedun untuk menyukseskan puncak karya. Menurut Madra, Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan sesungguhnya sebagai upaya mapahayu parhyangan untuk mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)



0 komentar:

Posting Komentar