Sabtu, 18 Juli 2015

Begini Makna Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan merupakan jenis upacara besar dalam kelompok Dewa Yadnya yang dilaksanakan terhadap pura yang baru selesai dibangun maupun pura yang baru selesai direnovasi. Selain itu, upacara semacam ini biasanya digelar dalam siklus selama-lamanya 30 tahun. Hal ini sesuai dengan lontar Dewa Tattwa dan lontar Medang Kemulan.

Padudusan Agung bermakna sebagai penyucian pada tingkatan utama. Kata padudusan berasal dari akar kata dus dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti ‘mandi’, dyus berarti ‘air mandi’ atau ‘air untuk upacara penyucian’ dan adyus berarti ‘mandi’ atau ‘bermandi’. Dalam konteks upacara, padudusan diartikan sebagai menyucikan.

(Foto kolase oleh Mahendra De Winatha)

Ada dua jenis karya padudusan, yakni padudusan alit dan padudusan agung. Karya padudusan alit biasanya dilaksanakan pada pura-pura keluarga atau pun tingkatan awal untuk pura kahyangan desa, sedangkan padudusan agung digelar pada pura kahyangan jagat, termasuk kahyangan desa atau karya tingkatan utama.

Ngenteg Linggih berasal dari dua kata, yaitu ngenteg dan linggih. Ngenteg atau enteg berarti ‘pageh’, ‘ajeg’, ‘kokoh’, ‘stabil’, ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Linggih memiliki arti ‘duduk’. Karena itu, ngenteg linggih diartikan sebagai ngentegang linggih atau memantapkan, memperkokoh, atau menstabilkan kesucian stana Ida Bhatara.

Ada dua jenis tingkatan upacara ngenteg linggih yaitu ngenteg linggih mamungkah dilaksanakan saat melakukan pembangunan atau pemugaran total pura, dan ngenteg linggih mupuk yang dilaksanakan setiap selama-lamanya 30 tahun sekali atau saat dilaksanakan renovasi ringan terhadap bangunan pura. Karya yang dilaksanakan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan saat ini termasuk ngenteg linggih mupuk karena dilaksanakan setelah pura direnovasi ringan.

Mupuk padagingan berasal dari kata mupuk dan padagingan. Kata mupuk biasanya disejajarkan dengan kata nyusun yang berarti ‘memperbarui benda yang telah lapuk atau rusak’. Padagingan berasal dari kata daging yang berarti ‘isi’ atau ‘inti’. Dalam lontar Dewa Tattwa disebutkan setiap kahyangan wajib menggunakan padagingan.

mwah yan hana wwang angwangun kahyangan, nora mapadagingan nista, madya, utama, ne mawasta pawangunan sthanan dewa, yan nora kadi harep dudu kahyangan dewa, dadi umah bhuta kubandha, tan pegat anandang wyadi sang madruwe kahyangan mwang kagringan kapati-pati, salah ton karangsukan dening bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”

Artinya,

“dan bila ada orang membangun kahyangan, tidak memakai padagingan nista, madya, utama, yang namanya palinggih/sthana Dewa, bila tidak seperti di depan, bukanlah kahyangan Dewa, akan menjadi rumahnya para bhutakala kubandha, tidak henti-hentinya akan tertimpa mala petaka orang yang memiliki kahyangan, serta akan tertimpa penyakit sampai ajal merengut nyawa, akibat dari tidak sesuai dengan tujuan, sehingga disusupi bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”
           
Padagingan inilah, setelah pura dipugar atau direnovasi wajib diperbarui lagi. Bila pun tidak direnovasi, dalam rentang waktu selama-lamanya 30 tahun, wajib juga dilakukan upacara penyucian kembali. Upacara penyucian kembali inilah biasanya berupa disebut Mupuk Padagingan.

Secara filosofis, upacara penyucian kembali selama-lamanya 30 tahun setelah upacara penyucian sebelumnya, dimaksudkan untuk tetap mempertahankan kesucian pura. Setelah tiga dasa warsa, diyakini kesucian pura semakin memudar. Ibarat energi, daya tarik energi pura yang disimbolkan dalam bentuk padagingan sudah mulai luntur sehingga perlu diperkuat lagi, patut diperbarui lagi.

Secara sosiologis, pelaksanaan upacara penyucian pada rentang waktu selama-lamanya 30 tahun juga sebagai upaya alih generasi. Melalui upacara penyucian kembali, generasi penerus diharapkan memahami tugas dan tanggung jawab untuk menjaga keajekan agama Hindu serta adat dan budaya Bali di desa adat.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan dilaksanakan setelah 23 tahun upacara serupa digelar. Karena itu, karya di Pura Dalem Kahyangan ini sesuai tuntunan sastra agama Hindu karena dilaksanakan sebelum melewati rentang waktu 30 tahun.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan ini tidak semata sebagai upacara untuk memantapkan kesucian palinggih Ida Bhatara, tetapi juga bermakna memantapkan sradha dan bhakti umat panyungsung pura. Karena itu, selain melaksanakan upacara ngenteg linggih di pura, krama desa juga selayaknya ngentegang linggih di dalam diri masing-masing, meneguhkan sradha dan bhakti ke hadapan Ida Bhatara.


0 komentar:

Posting Komentar