LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan.

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10).

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

LPD Kedonganan menggelar lomba paduan suara antar-PKK se-Desa Adat Kedonganan serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7).

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Selasa, 21 Juli 2015

Menyelami Proses Penciptaan Dunia, Memetik Anugerah Sang Pencipta

Memaknai Upacara Mapaselang dan Mapadhanan


Puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan, Selasa (21/7) berlangsung khidmat. Sejak pagi, ribuan krama Desa Adat Kedonganan berpakaian serbaputih memenuhi areal Pura Dalem. Saking membludaknya, krama yang ngaturang muspa mesti rela melakukannya dari jaba pura.

Setelah upacara ngenteg linggih ngingkup utama di Pura Dalem dan Pura Mrajapati yang dimulai pukul 08.00, tibalah prosesi puncak yang dinanti-nanti. Ritual ini bernama Mapaselang dan Mapadhanan.

Prosesi Mapaselang
Mapaselang ditandai dengan prosesi diturunkannya seluruh pratima dan pelawatan Ida Batara dari bale pangaruman menuju bale paselang, sebuah bale khusus yang merupakan nyasa (simbol atau lambang) Sang Hyang Purusa-Pradhana (Semara-Ratih) menciptakan bumi beserta segala isinya. Untuk menuju bale paselang, seluruh pratima dan pelawatan mesti menyusuri jalur khusus (lantaran) yang dilapisi kain putih panjang. Sebelum tiba di bale paselang, seluruh palawatan dan pratima itu mesti menyentuh sesaji khusus yang diatasnya dilapisi kulit dan kepala kerbau serta menapaki tangga tebu ratu. Prosesi ini kerap disebut matiti-mamah.

Setelah seluruh pratima dan pelawatan berkumpul di bale paselang, sulinggih yajamana karya membacakan lontar Pajejiwan, teks berbahasa Kawi yang menjelaskan proses penciptaan dunia.

Usai ritual Majejiwan, seluruh pratima dan pelawatan tedun ke bale panggungan di jaba tengah pura. Dari sini lantas seluruh palawatan dan pratima kembali diusung menuju bale padanan di madya mandala. Di sinilah kemudian dilakukan prosesi Mapadhanan. Krama desa mendekat memperebutkan berbagai barang yang tersedia di bale pedhanan. Agar tidak ricuh, panitia berkreasi dengan melemparkan amplop ke kerumunan warga. Tiap amplop berisi nomor yang bisa ditukarkan dengan benda-benda yang tersedia di bale padhanan.

Prosesi Mapadhanan

Yajamana Karya, Ida Pedanda Putra Telaga menjelaskan ritual Mapeselang dan Mapadhanan memang menjadi prosesi inti dalam Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan dalam tingkatan utama. Mapeselang bermakna turunnya Ida Bhatara untuk menciptakan kembali dunia beserta segala isinya. Sesudahnya, dalam prosesi Mapadhanan, Ida Batara mapaica dhana (memberikan anugerah) kepada seluruh umat.

“Upacara ini memang mengajak umat menyelami proses penciptaan kembali dunia menuju lembaran hidup baru yang lebih baik. Karena itu, setelah puncak karya, nanti akan disusul dengan upacara Makebat Daun. Makna Makebat Daun, membuka lembaran baru dalam hidup. Jadi, setelah karya ini, krama Desa Adat Kedonganan mesti membuka lembaran hidup yang baru, lebih baik dari kemarin dan hari ini,” papar Ida Pedanda.

Sejumlah krama yang mendapatkan amplop pun terlihat girang. Mereka pun menukarkan amplop-amplop itu ke prajuru yang bertugas di bale padhanan. Ada yang mendapatkan gayung, kuali, panci, palu dan berbagai barang lainnya.

Prosesi Mapaselang dan Mapadhanan berlangsung hingga pukul 13.00. Sore hari dilanjutkan dengan melaksanakan prosesi Pangilen-ilen (lokacara) pamangku.


Manggala Karya, I Ketut Madra berharap krama Desa Adat Kedonganan memahami dan memaknai karya ini sepenuh hati. Dengan begitu, biaya besar yang dikeluarkan dengan tulus ikhlas dan rasa bhakti bisa menjadi yadnya yang satwika (suci). (*)

Hari Ini, Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Hari ini, Selasa, 21 Juli 2015, bertepatan dengan Anggara Umanis wuku Kuningan, dilaksanakan puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Prosesi puncak karya dimulai pukul 08.00 dan di-puput delapan sulinggih

Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M., menjelaskan prosesi upacara dimulai pukul 08.00 di Pura Dalem Kahyangan berupa Ngenteg Linggih Ngingkup Utama dengan sarana upakara nyatur muka serta di Pura Mrajapati berupa ngenteg linggih dengan sarana upakara nyatur rebah. Upacara di Pura Dalem Kahyangan di-puput tiga orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Bajing, Ida Pedanda Sari Arimbawa, dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri. Upacara di Pura Mrajapati di-puput Ida Pedanda Oka Timbul.

(Foto: Mahendra De Winatha)

Sekitar pukul 11.00 dilanjutkan dengan upacara Mapeselang dengan sarana upakara nyatur rebah malantaran kebo di Pura Dalem. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Putra Telaga dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa. 

Upacara Ida Bhatara Tedun ke Paselang adalah yasa patemon Hyang Widhi dalam prabawa Semara-Ratih, untuk menciptakan dunia ini dengan segenap prabawa-Nya.Upacara ini sebagai wujud cinta kasih Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk jenis ciptaan-Nya, yang menyebabkan manusia hidup dengan makmur dan sejahtera. Dewa Semara Ratih  (Kamajaya-Kamaratih) dipuja dengan warna yang serba kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara ini juga menyimbolkan bhakti disambut asih dari Hyang Widhi Wasa sebagai jiwa seluruh alam dan sebagai sumber kehidupan di Tri Bhuwana ini. Jiwa kita ini pun adalah pinjaman dari Hyang Widhi Wasa.

Upacara Mapeselang ini adalah lambang bertemunya Hyang Widhi Wasa dengan umat manusia, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta kasih. Cinta kasih Hyang Widhi Wasa kepada umat-Nya telah terbukti dalam bentuk pencipta dunia beserta isinya, dengan kekuatan-kekuatan sucinya mengatur dunia ini. Beliau menciptakan gunung, laut, danau, hutan, sawah, ladang, matahari, segala materi yang berharga serta semuanya merupakan kekuatan kehidupan manusia. Inilah bentuk cinta kasih Tuhan untuk umat manusia.

Dalam upacara “Mapeselang” Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam wujud Purusa Predana sebagai Dewa Semara Ratih, lambang dewa Cinta kasih.

Saat upacara Mapeselang inilah dilaksanakan prosesi Majejiwan, yakni pembacaan lontar Pajejiwan oleh sulinggih. Dalam teks Pajejiwan itu jelas sekali diungkapkan adisrsti (ciptaan mulia) Hyang Widhi, nresti alam raya ini dengan komponen-komponennya, sehingga umat manusia dan makhluk lainnya menjadi makmur, sejahtera dan bahagia dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.

Dalam teks Pajejiwan disebutkan, di samping Hyang Widhi menciptakan alam raya ini dengan langit, matahari, bulan dan bintang, juga diciptakan gunung, danau, sungai dan segara (laut). Termasuk menciptakan tarulata, gulma, sthawara dan jenggama serta berbagai ciptaan mulia (adisrsti) lainnya.

Sarana upakara yang digunakan yakni nyatur rebah dengan lantaran kerbau. Karya Agung padudusan AgungNgenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan menggunakan seekor kerbau yos brana. Kerbau jenis ini dalam bahasa Latin diberi nama Bubalus bubalis. Kerbau yos brana adalah kerbau piaraan yang dihasilkan dari perkawinan kerbau jantan (kulit dan bulunya berwarna hitam) dengan kerbau betina (kulit dan bulunya berwarna putih). Ciri khas kerbau yos brana adalah kulit berwarna hitam, bulu berwarna putih.

Pukul 15.00 dilaksanakan upacara Mapadhanan di Pura Dalem dengan sarana upakara nyatur rebah caru ngempong asu. Upacara ini di-puput dua orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putraka Timbul dan Ida Pedanda Anom Timbul. 

Upacara Mapedhanan dilaksanakan dengan cara berjalan beramai-ramai merebut benda-benda di  PedananPedhanan merupakan nyasa prakertti/kehidupan. Pedhanan juga merupakan lambang untuk melepaskan diri pribadi dari sifat-sifat yang tidak baik. Segala sifat tidak baik, itu disalurkan ke dalam upacara dengan benda-benda di Pedanan. Diharapkan sifat-sifat yang negatif yang melekat pada diri pribadi masing-masing hilang lenyap sehingga manusia menjadi suci ikhlas, tidak serakah.

Prosesi puncak acara diakhiri dengan parikrama pangilen-ilen (lokacara) pamangku sekitar pukul 19.00. 

Ketut Madra berharap seluruh krama Desa Adat Kedonganan tedun untuk menyukseskan puncak karya. Menurut Madra, Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan sesungguhnya sebagai upaya mapahayu parhyangan untuk mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)



Minggu, 19 Juli 2015

Sejarah Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan

Tidak mudah melacak kapan Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan berdiri. Namun, dapat diduga, Pura Dalem Kahyangan ini berusia sezaman dengan pendirian Desa Adat Kedonganan.

Awalnya, Pura Dalem Kahyangan terpisah dengan daratan. Hal ini dikarenakan areal pura di pantai timur dikelilingi oleh rawa-rawa. Warga sering menyebut Pura Dalem Kahyangan sebagai pura di tengah laut. Untuk mencapai pura ini warga harus melintasi sebuah jembatan bambu, terutama jika air laut sedang pasang.

Kondisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan tahun 1992 (Foto: Dokumentasi Ketut Madra)

Hingga akhir tahun 1990-an, kondisi Pura Dalem Kahyangan sungguh memprihatinkan. Atap palinggih pura banyak yang bocor, dinding pura pun mulai rapuh karena dekat dengan pantai. Kondisi pura yang kurang representatif membuat krama merasa miris.

Pada tahun 1992, paruman desa yang dipimpin Bendesa Adat Kedonganan kala itu, I Gede Berata memutuskan memugar Pura Dalem Kahyangan. Namun, pemugaran tidak mudah dilakukan karena sulit membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi pura. Karena itu, dibuatkan jembatan sederhana yang menghubungkan daratan dengan pura. Lama-kelamaan jembatan ini diuruk sehingga antara daratan dan lokasi pura pun terhubung, menyatu dengan daratan. Kini, krama sudah mudah mengakses lokasi pura.

Tantangan lain yang dihadapi untuk memugar Pura Dalem Kahyangan tentu saja aspek biaya. Ketika itu, kondisi perekonomian desa maupun krama desa masih kurang memprihatinkan. Sebagian besar warga Kedonganan berprofesi sebagai nelayan dengan pendapatan yang sangat minim. Sementara pembangunan Pura  Dalem Kahyangan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta.

Melihat kenyataan itu, prajuru Desa Adat Kedonganan membentuk panitia pembangunan pura yang diketuai salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig. Ketika itu, Desa Adat Kedonganan baru dua tahun memiliki sebuah lembaga keuangan milik desa adat bernama Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan. Sebagai wadah kekayaan desa adat, LPD Kedonganan pun dilibatkan sebagai pengelola dana. Karena itu, Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra didudukkan sebagai bendahara panitia. Sinergi antara panitia dan pengurus LPD pun terjalin.


Untuk mendapatkan dana awal, prajuru desa dan panitia pembangunan pura mendorong krama desa, terutama yang mampu secara ekonomi, untuk mapunia. Tiap-tiap krama desa yang mampu mapunia Rp 60.000. Punia itu pun dicicil selama setahun atau Rp 5.000 per bulan. Dari dana iuran ini terkumpul dana sekitar Rp 60 juta. Dana inilah yang dijadikan modal awal untuk melaksanakan pemugaran pura. Dengan adanya modal awal ini, para pemborong menjadi percaya dengan kemampuan panitia untuk merampungkan pemugaran dan krama pun yakin pemugaran bisa diselesaikan.

Selanjutnya panitia menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dana pembangunan pura, seperti mengadakan bazar dan terus mendorong dana punia, terutama dari krama yang memiliki usaha. Sejumlah krama desa yang memiliki usaha toko bahan bangunan, selain turut mapunia juga memberikan keleluasaan sistem pembayaran bahan bangunan bagi panitia. Krama desa juga bahu-membahu ikut terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan pura. Akhirnya, Pura Dalem Kahyangan bisa dirampungkan.

Berkat kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini pula, tumbuh kepercayaan diri krama Desa Adat Kedonganan untuk membangun desanya menjadi lebih baik. Bahkan, kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini berdampak pada perkembangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan milik Desa Adat Kedonganan.

Pada tahun 2015, Pura Dalem Kahyangan kembali direnovasi. Namun, renovasi dilakukan dalam tingkatan ringan. Hal ini dikarenakan usia pura yang sudah mencapai 23 tahun sejak dipugar total tahun 1993 silam. Ada beberapa alasan renovasi ringan terhadap Pura Dalem Kahyangan. Pertama, kondisi fisik pura yang sudah dipandang perlu untuk diperbaiki. Kedua, umur padagingan di pura pada tahun 2015 sudah mencapai 23 tahun dan sudah saatnya dilaksanakan karya mupuk mapadagingan. Ketiga, sebagai bagian dari persiapan nyanggra karya padudusan.

Setelah berkonsultasi dengan sulinggih dan merujuk sumber-sumber sastra agama Hindu, paruman Desa Adat Kedonganan memutuskan menggelar Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan.


Sabtu, 18 Juli 2015

Begini Makna Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan merupakan jenis upacara besar dalam kelompok Dewa Yadnya yang dilaksanakan terhadap pura yang baru selesai dibangun maupun pura yang baru selesai direnovasi. Selain itu, upacara semacam ini biasanya digelar dalam siklus selama-lamanya 30 tahun. Hal ini sesuai dengan lontar Dewa Tattwa dan lontar Medang Kemulan.

Padudusan Agung bermakna sebagai penyucian pada tingkatan utama. Kata padudusan berasal dari akar kata dus dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti ‘mandi’, dyus berarti ‘air mandi’ atau ‘air untuk upacara penyucian’ dan adyus berarti ‘mandi’ atau ‘bermandi’. Dalam konteks upacara, padudusan diartikan sebagai menyucikan.

(Foto kolase oleh Mahendra De Winatha)

Ada dua jenis karya padudusan, yakni padudusan alit dan padudusan agung. Karya padudusan alit biasanya dilaksanakan pada pura-pura keluarga atau pun tingkatan awal untuk pura kahyangan desa, sedangkan padudusan agung digelar pada pura kahyangan jagat, termasuk kahyangan desa atau karya tingkatan utama.

Ngenteg Linggih berasal dari dua kata, yaitu ngenteg dan linggih. Ngenteg atau enteg berarti ‘pageh’, ‘ajeg’, ‘kokoh’, ‘stabil’, ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Linggih memiliki arti ‘duduk’. Karena itu, ngenteg linggih diartikan sebagai ngentegang linggih atau memantapkan, memperkokoh, atau menstabilkan kesucian stana Ida Bhatara.

Ada dua jenis tingkatan upacara ngenteg linggih yaitu ngenteg linggih mamungkah dilaksanakan saat melakukan pembangunan atau pemugaran total pura, dan ngenteg linggih mupuk yang dilaksanakan setiap selama-lamanya 30 tahun sekali atau saat dilaksanakan renovasi ringan terhadap bangunan pura. Karya yang dilaksanakan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan saat ini termasuk ngenteg linggih mupuk karena dilaksanakan setelah pura direnovasi ringan.

Mupuk padagingan berasal dari kata mupuk dan padagingan. Kata mupuk biasanya disejajarkan dengan kata nyusun yang berarti ‘memperbarui benda yang telah lapuk atau rusak’. Padagingan berasal dari kata daging yang berarti ‘isi’ atau ‘inti’. Dalam lontar Dewa Tattwa disebutkan setiap kahyangan wajib menggunakan padagingan.

mwah yan hana wwang angwangun kahyangan, nora mapadagingan nista, madya, utama, ne mawasta pawangunan sthanan dewa, yan nora kadi harep dudu kahyangan dewa, dadi umah bhuta kubandha, tan pegat anandang wyadi sang madruwe kahyangan mwang kagringan kapati-pati, salah ton karangsukan dening bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”

Artinya,

“dan bila ada orang membangun kahyangan, tidak memakai padagingan nista, madya, utama, yang namanya palinggih/sthana Dewa, bila tidak seperti di depan, bukanlah kahyangan Dewa, akan menjadi rumahnya para bhutakala kubandha, tidak henti-hentinya akan tertimpa mala petaka orang yang memiliki kahyangan, serta akan tertimpa penyakit sampai ajal merengut nyawa, akibat dari tidak sesuai dengan tujuan, sehingga disusupi bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”
           
Padagingan inilah, setelah pura dipugar atau direnovasi wajib diperbarui lagi. Bila pun tidak direnovasi, dalam rentang waktu selama-lamanya 30 tahun, wajib juga dilakukan upacara penyucian kembali. Upacara penyucian kembali inilah biasanya berupa disebut Mupuk Padagingan.

Secara filosofis, upacara penyucian kembali selama-lamanya 30 tahun setelah upacara penyucian sebelumnya, dimaksudkan untuk tetap mempertahankan kesucian pura. Setelah tiga dasa warsa, diyakini kesucian pura semakin memudar. Ibarat energi, daya tarik energi pura yang disimbolkan dalam bentuk padagingan sudah mulai luntur sehingga perlu diperkuat lagi, patut diperbarui lagi.

Secara sosiologis, pelaksanaan upacara penyucian pada rentang waktu selama-lamanya 30 tahun juga sebagai upaya alih generasi. Melalui upacara penyucian kembali, generasi penerus diharapkan memahami tugas dan tanggung jawab untuk menjaga keajekan agama Hindu serta adat dan budaya Bali di desa adat.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan dilaksanakan setelah 23 tahun upacara serupa digelar. Karena itu, karya di Pura Dalem Kahyangan ini sesuai tuntunan sastra agama Hindu karena dilaksanakan sebelum melewati rentang waktu 30 tahun.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan ini tidak semata sebagai upacara untuk memantapkan kesucian palinggih Ida Bhatara, tetapi juga bermakna memantapkan sradha dan bhakti umat panyungsung pura. Karena itu, selain melaksanakan upacara ngenteg linggih di pura, krama desa juga selayaknya ngentegang linggih di dalam diri masing-masing, meneguhkan sradha dan bhakti ke hadapan Ida Bhatara.


Kamis, 16 Juli 2015

Wagub Bali Apresiasi Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, menghadiri upacara Mapadudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan lan Mrajapati Desa Adat Kedonganan, 16 Juli 2015 lalu. Wagub mengapresiasi dan menyampaikan rasa syukur atas dilaksanakan karya tersebut. 

Menurut Wagub, upacara yadnya ini harus dilakukan, sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar tercipta kasukertan jagad dan masyarakat dalam melakukan hal apa pun dapat berjalan lancar. Selain itu, Sudikerta juga berpesan kepada masyarakat Kedonganan agar melakukan yadnya secara tulus ikhlas, serta menyesuaikan dengan kemampuan agar semua masyarakat bisa menikmati karya tersebut dengan sukacita. 
Wagub Sudikerta didampingi Wabup Made Sudiana, anggota DPRD Badung, Wayan Mendra dan Camat Kuta, IG Rai Wijaya muspa di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan.

Secara khusus mantan Wakil Bupati Badung ini juga berpesan agar dalam melaksanakan yadnya, masyarakat Kedonganan menggunakan sarana atau bahan-bahan lokal, baik jajanan maupun buah-buahan. Hal ini untuk melestarikan produk lokal, terutama buah lokal yang ada di Bali sehingga masyarakat Bali tidak selalu mengkonsumsi produk luar. Ia berharap masyarakat ikut serta membudayakan buah lokal.

Bendesa Adat Kedonganan Ketut Puja, menyampaikan terima kasihnya atas dukungan Wagub Sudikerta untuk ikut menyaksikan jalannya upacara yang dilaksanakan selama 1 bulan 7 hari tersebut. Ia mengungkapkan bahwa puncak karya jatuh pada Anggara Umanis Wuku Kuningan tanggal 21 Juli 2015, sedangkan rangkaian upacara sudah dimulai dari tanggal 1 Juni 2015 dan akan diakhiri pada tanggal 1 September 2015. 

Menurut Jro Bendesa, upacara ini dilaksanakan berdasarkan hasil musyawarah dengan masyarakat untuk melanjutkan karya pedudusan alit yang telah dilaksanakan pada tahun 1993 serta menindaklanjuti hasil perbaikan palinggih yang sebelumnya dilaksanakan. Setelah menerima masukan dari para panglingsir, krama Desa Adat Kedonganan bersepakat melakukan upacara ini agar kedamaian secara sakala dan niskala tetap tercipta. 
Wagub Sudikerta memberikan sambutan terkait pelaksanaan Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan.

Upacara ini di-puput oleh delapan sulinggih. Yajamana Karya, Ida Pedanda Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur. Caru yang dilaksanakan pada upacara ini, yaitu Caru Balik Sumpah yang bertempat di madya mandala Pura, Caru Panca Sata Madurga di jaba sisi Pura, serta Caru Rsi Gana di jaba Pura Prajapati. 

Terkait dengan biaya, ia melaporkan bahwa upacara sekaligus perbaikan palinggih di Pura Dalem dan Prajapati menghabiskan biaya sekitar Rp 3,250 miliar, yang diperoleh dari dana punia 1250 krama Desa adat, LPD, pasar adat dan usaha swasta yang ada di lingkungan Kedonganan. 

Jro Bendesa berharap upacara yang dilakukan secara bergotong royong ini dapat membawa berkah tersendiri bagi krama Desa Kedonganan agar kedamaian selalu tercipta di lingkungan masyarakat sekitar.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Staff Ahli Gubernur Bali bidang Kemasyarakatan, Wakil Bupati Badung, Majelis Umum Desa Pekraman Provinsi Bali, Majelis Madya Desa Pekraman, Perwakilan Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten serta masyarakat Kedonganan. (*)

Rabu, 15 Juli 2015

Panitia Karya Padudusan Agung Terbitkan Buku "Kedonganan Mapahayu Parhyangan"

Panitia Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan menerbitkan buku Kedonganan Mapahayu Parhyangan. Buku ini merupakan panduan pelaksanaan karya, terutama berkaitan dengan sejarah pura, makna karya, prosesi upacara serta yasa kirti krama

Buku setebal 76 halaman ini terbagi ke dalam lima bab. Bab I menguraikan sejarah Desa Adat Kedonganan. Bab II mengisahkan sejarah Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan. Bab III Makna dan Tujuan Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan. Bab IV memaparkan prosesi upacara serta upakara. Bab V menjelaskan yasa kirti krama Desa Adat Kedonganan. 

Sampul buku "Kedonganan Mapahayu Parhyangan"

Buku ini disusun tim yang diketuai Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M., dengan anggota tim penyusun, I Made Sukada dan I Ketut Mudra, S.Ag. serta penyunting I Made Sujaya. 

Ketut Madra menjelaskan buku ini disusun dengan tujuan memberikan pemahaman kepada krama mengenai makna dan tujuan karya sekaligus yasa kirti selama karya. "Karya ini cukup besar dengan biaya yang juga cukup besar. Karena itu, krama desa wajib memahami makna dan tujuan karya," kata Madra. 

Buku ini juga diharapkan bisa menjadi pedoman bagi generasi penerus Desa Adat Kedonganan jika hendak menggelar upacara serupa di masa mendatang. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., menyambut positif penerbitan buku Kedonganan Mapahayu Parhyangan. Buku yang menguraikan makna dan tujuan karya bisa memperkuat pemahaman krama sehingga krama bisa semakin mantap melaksanakan karya. (*) 

Minggu, 12 Juli 2015

Bersama Sukseskan Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., mengajak seluruh krama Desa Adat Kedonganan bersama-sama mensukseskan Karya Agung Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Ditegaskan Ketut Puja, karya ini merupakan karya bersama seluruh krama desa, bukan karya prajuru atau pun hanya karya panitia. 



"Karena ini karya seluruh krama desa, saya mengajak seluruh krama untuk mendukung penuh karya ini. Setiap rangkaian upacara sepanjang pelaksanaan karya semestinya dihadiri krama dengan penuh antusias," kata Puja usai kegiatan pembagian daging babi serangkaian perayaan hari Galungan dan Kuningan di jaba sisi Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir LPD Kedonganan, Minggu (12/7). 

Hal senada diharapkan Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M. Menurut Madra, karya ini memang untuk mapahayu parhyangan. Namun, tujuan utamanya adalah keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan seluruh krama desa. 

"Ketika parhyangan sudah tertata dan semakin mantap kesuciannya melalui upacara Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan, tentu Ida Batara akan mapaica kepada seluruh krama desa," kata Madra. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., memberikan pengarahan kepada panitia terkait pelaksanaan Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati.
Rangkaian Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mapadudusan dilaksanakan sebagai kelanjutan dari kegiatan renovasi ringan terhadap Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati. Sesuai petunjuk sastra agama, pura yang telah direnovasi total atau pun direnovasi ringan mesti melaksanakan upacara penyucian kembali. Karena renovasi yang dilaksanakan merupakan renovasi ringan, upacara yang dilakukan berupa ngenteg linggih dan mupuk padagingan

Rangkaian upacara karya sudah dimulai sejak 1 Juni 2015 lalu ditandai dengan upacara matur piuning dan majaya-jaya panitia dan seka gong. Senin (13/7) besok dilaksanakan upacara pemelastian. Upacara dilaksanakan mulai pukul 07.30. Seluruh krama desa diharapkan tedun ke Pura Dalem Kahyangan sekitar pukul 07.00 wita. (*)

LPD Kedonganan Kembali Bagikan 6 Ton Daging Babi

Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, LPD Desa Adat Kedonganan kembali membagikan daging babi gratis kepada seluruh krama desa dan nasabahnya. Jika biasanya pembagian daging babi dilaksanakan pada hari Senin bertepatan dengan Penyajaan Galungan, kali ini pembagian dilaksanakan pada Minggu (12/7) pagi tadi di jaba sisi Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir kantor LPD Kedonganan. 

Krama Desa Adat Kedonganan antusias mengambil "hadiah" daging babi dari LPD Kedonganan untuk menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.
Wakil Ketua LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menyatakan dimajukannya jadwal pembagian daging babi ke hari Minggu karena pada hari Senin dilaksanakan upcara pemelastian serangkaian Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. 

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H.,M.M., menambahkan pembagian daging babi menjelang hari raya Galungan sudah menjadi program rutin di LPD Kedonganan. Karena itu, kegiatan ini tetap dilaksanakan meskipun di desa sedang berlangsung karya. "Daging babi ini sebagai manfaat (labda) yang diterima krama dan nasabah sekaligus tanda ikatan kebersamaan dan kekeluargaan antara LPD dan krama serta nasabah," kata Madra.

Pembagian daging babi menjelang hari raya Galungan untuk mempererat kebersamaan antara LPD dengan krama dan nasabah 

Jumlah krama adat yang menerima daging babi sebanyak 1.163 orang. Selain itu, daging babi juga diberikan kepada krama tamiu yang menjadi nasabah sebanyak 573 orang, panitia karya sebanyak 149 orang dan pemangku serta karyawan sebanyak 90 orang. 

"Total krama yang menerima daging babi sebanyak 1.975 orang dengan volume daging babi yang dibagikan seluruhnya sebesar 5.925 kg atau 6 ton," kata Suriawan. 

Masing-masing krama menerima 3 kg daging babi serta Rp 50.000 uang bumbu. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., mengharapkan krama Desa Adat Kedonganan bisa memanfaatkan daging babi yang diterima untuk kepentingan menyongsong perayaan Galungan dan Kuningan. Jero Bendesa juga mengharapkan pembagian daging babi bisa makin mempererat hubungan dan dukungan krama kepada LPD sebagai lembaga keuangan milik desa adat. 



Rabu, 01 Juli 2015

Yasa Kirti Krama Terkait Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan sesungguhnya bertujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan krama dan seisi Desa Adat Kedonganan.  Kesukesan (sida karya atau labda karya) tidak hanya tergantung pada besarnya biaya yang dihabiskan, tetapi yang jauh lebih penting adalah rasa bhakti, tulus dan ikhlas seluruh krama Desa Adat Kedonganan untuk mendukung dan mensukseskan karya ini.

Bentuk dukungan krama desa itu diwujudkan dalam yasa kirti. Yasa Kirti adalah sebuah kesepakatan perilaku dan tata cara pelaksanaan upacara yadnya yang patut dipersembahkan melalui suatu keputusan bersama agar dapat dilaksanakan oleh seluruh krama Desa Adat Kedonganan.

Krama lanang ngayah menyiapkan ulam caru sebagai sarana upakara Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. (Foto: Mahendra De Winatha)

Adapun yasa kirti yang patut dilaksanakan dalam hubungan itu sebagai berikut.
1.      Yasa kirti dalam bentuk perilaku
2.      Yasa kirti dalam bentuk dana punia
3.      Yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara

1. Yasa Kirti dalam Bentuk Perilaku

Yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku, yaitu yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh krama Desa Adat Kedonganan. Dalam lontar Dewa Tattwa diatur mengenai yasa kirti dalam bentuk perilaku sebagai berikut.

Kramanya Sang kumingkin karya sanistha, madya, utama, manah lega dadi ayu, ayasa angalem druweya mwang kamugutan kalilirang wong atuha, ayasa angambekaken krodha mwang ujar gangsul, ujar menak juga kawedar denira, mangkana kramanya sang anger paken karya, anywasim, panging budhi mwang krodha”.

Artinya,

“Tata caranya bagi mereka yang bersiap-siap akan melaksanakan upacara kanista, madya atau uttama, pikiran yang senang, dan ikhlaslah yang menjadikan baik. Janganlah tidak ikhlas atau terlalu menyayangi harta benda yang diperlukan untuk yadnya. Janganlah menentang petunjuk orang tua. Jangan berperilaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengar itu juga hendaknya diucapkan. Demikianlah tata caraya orang yang akan melaksanakan yadnya. Jangan menyimpang dari budi baik dan jangan menampilkan kemarahan.”

Jika dirumuskan secara sederhana, yasa kirti krama Desa Adat Kedonganan dalam mendukung Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan, sebagai berikut.
  • Tidak dibenarkan mengikatkan diri pada harta benda yang akan dipergunakan untuk yadnya. Sewajarnya yadnya itu dilandasi dengan keikhlasan.
  • Tidak dibenarkan menampilkan kemarahan serta mengeluarkan kata-kata yang kasar.
  • Janganlah menyimpang dari kebenaran.
  • Tata cara pelaksanaan yadnya itu hendaknya sesuai dan menurut ketentuan dalam sastranya.
  • Ketiga unsur utama pelaksana yadnya, yaitu pendeta (sulinggih)  yang akan memuja, tukang (serati) banten dan orang yang melaksanakan yadnya itu hendaknya seiring sejalan, tidak saling bertentangan.
  • Tidak boleh berpikir yang tidak baik, serta mengeluarkan kata-kata yang kasar dan tidak enak didengar.
  • Perbuatan yang mencerminkan rasa bhakti yang dilandasi kesucian diri pribadi hendaknya yang selalu ditampilkan.
  • Saat ngaturang ayah patut mengenakan busana adat Bali.
  • Sebelum masuk ke pura wajib nyiratin raga (memerciki diri) dengan tirtha pabersihan/panglukatan yang disediakan di depan lawang/kori agung.
  • Krama desa yang ceda angga (cacat) sejak lahir dimohonkan dengan sangat untuk tidak ikut nanding banten suci, bagya pulakerti, catur serta sarana upakara lainnya yang dihaturkan sanggar tawang.

2. Yasa Kerti Berupa Dana Punya

Dana punya diartikan sebagai persembahan dalam bentuk harta benda. Dalam ajaran agama Hindu, umat dianjurkan untuk melaksanakan dana punya karena pahalanya sangat besar.

Dalam Slokantara 169 disebutkan:

“Ikang tan dhana, tan bapa, tan ibu amukti phalannya ika, sang gumaweyaken ikang dana punyajuga mukti phalanikang dana punya”.

Artinya :

“Bukan ayah, bukan ibu, dan bukan siapa-siapa yang akan menerima pahala dana punya itu, adalah dia yang mapunya.”

Dalam Manawadharma Sastra sargah IV bait 230 juga disebutkan:

“Bhumido bhumin apnoti/
Dhengham ayurhi hanyadah/
Grhado ghriyani wesmani/
Rupam utanam//”

Artinya :

“Mereka yang mapunya tanah akan mendapat sorga, mereka yang mapunya emas akan mendapat umur panjang, mereka yang mapunya rumah akan mendapat yang utama, mereka yang mapunya akan mendapat kemuliaan.

Panitia karya membuka kesempatan bagi krama desa untuk mempersembahkan dana punya guna mendukung kesuksesan karya dengan dilandasi hati yang bersih, suci, tulus, dan ikhlas.

3. Yasa Kirti Berupa Upacara/Upakara

Yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara berkaitan erat dengan rangkaian upacara selama karya berlangsung. Adapun yasa kirti dalam bentuk upacara/upakara bagi krama Desa Adat Kedonganan, sebagai berikut.

  1. Soma Umanis Tolu, 1 Juni 2015  di Pura Dalem dimuali melaksanakan upacara dan upakara sebagai berikut.
    1. Pada pagi hari melaksanakan upacara matur piuning di masing-masing parhyangan desa dan prasanak desa.
    2. Pada sore hari (sekitar pukul 14.00 Wita) melaksanakan upacara upakara Melaspas Alit, Mendem Pedagingan sane nguni, Melaspas Gambelan lan Mejaya jaya. 

  1. Soma Umanis Sungsang, 6 Juli 2015 melaksanakan upacara upakara Nyengker Setra. Krama desa yang masih memiliki sawa dan belum di-aben, menghaturkan banten soda putih kuning, nasi angkeb, ketipat pesor lan rantasan putih kuning di tempat sawa atau kuburan.

  1. Kekeran Desa Adat Kedonganan
    1. Sejak Sukra Kliwon Sungsang, 10 Juli 2015 hingga berakhirnya eedan karya penyineban pada Anggara Pon Langkir, 28 Juli 2015 krama Desa Adat Kedonganan tidak diperkenankan melaksanakan upacara sebagai berikut.
·         Pawiwahan, pawarangan (Matipat Bantal)
·         Bhuta Yadnya (mecaru)
·         Pangabenan serta ngeseng sawa/mekingsan di gni di wawidangan setra Desa Adat Kedonganan.
    1. Jika ada krama Desa Adat Kedonganan yang kelayu sekar (meninggal dunia) dalam masa sengker karya agar segera dikubur (kapendem) dengan melaksanakan penguburan seperti biasa. Waktu pelaksanaan penguburan agar dilaksanakan saat engseb surya (senja hari) atau sebelum matahari terbit tanpa membunyikan kentongan banjar, tanpa magegitan serta matetangguran agar krama banjar tidak kena kacuntakan.
    2. Keluarga terdekat, nyama braya yang menyertai penguburan kena cuntaka selama tiga hari sejak hari penguburan atau makutang di setra. Setelah berakhir masa kacuntakan selama tiga hari, krama tersebut kembali bisa ngaturang ayah mengikuti rangkaian karya.
·         Krama desa yang memiliki kelayusekaran tidak diperkenankan melaksanakan upacara pamendeman atau pangabenan karena pelaksanaan ngaben masa sudah semakin dekat. Dibolehkan melaksanakan upacara makingsan di gni di luar desa atau krematorium lalu nganyut ke sagara. Hanya pemangku (eka jati) yang dibolehkan melaksanakan upacara atiwa-tiwa.

  1. Whraspati Wage Sungsang, 9 Juli 2015, masing-masing krama Desa Adat Kedonganan memasang penjor yang dilengkapi sanggah arda candra dengan wastra putih kuning mulai pukul 16.00 Wita. Sarana upakara yang dipersembahkan di sanggah ardha candra berupa pajati jangkep dan di sor (bawah) menghaturkan segehan panca warna.

  1. Sukra Keliwon Sungsang, 10 Juli 2015 di Pura Dalem melaksanakan upacara Ngajum, Melaspas Pedagingan, Melaspas Agung, Mupuk Pedagingan, Melaspas Bagia Pulakerti, Penegteg lan Penyegjek. Di tiap-tiap Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia ngaturang pajati jangkep serta di sor ngaturang segehan putih kuning.

  1. Soma Pon Dunggulan, 13 Juli 2015, Ida Bhatara Malasti dan Mapakelem di sagara.  Di sanggah penjor ngaturang penganyaran maduluran soda, canang pasucian serta segehan panca warna.

  1. Whraspati Umanis Dunggulan, 16 Juli 2015, di Pura Dalem dilaksanakan upacara dan upakara Caru Balik Sumpah lan Caru Panca Sata Madurga. Di masing-masing Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati serta segehan putih kuning

  1. Anggara Umanis Kuningan, 21 Juli 2015,  puncak karya di Pura Dalem, melaksanakan upacara Nyatur Muka, Ngenteg Linggih, Ngingkup Utama.
v  Di Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati dan segehan putih kuning.
v  Di penjor ngaturang panganyaran yang diawali dengan banten soda canang pasucian lan segehan manca warna.

  1. Anggara Pon Langkir, 28 Juli 2015,  di Pura Dalem dilaksanakan upacara Nyenuk, Ngeremek Karya, Ngaturan Rsi Bojana lan Nyineb.
v  Di Kemulan, Dewa Hyang, Paibon, Panti, Dadia  ngaturang pajati serta segehan putih kuning.

v  Di Penjor ngaturang penganyaran yang diawali dengan dengan banten soda canang asucian dan segehan manca warna.