Minggu, 14 Juni 2015

Banggalah Menjadi Generasi Muda Hindu-Bali

Dari Ajang Dharma Tula Yowana HUT ke-25 LPD Kedonganan

Anak-anak muda Kedonganan mesti berbangga menjadi generasi muda Hindu-Bali. Kebanggaan itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk slogan, tetapi diwujudnyatakan dalam tindakan dan perilaku. 

Hal ini mengemuka dalam dharma tula yowana (diskusi pemuda) bertema “Aku Bangga Menjadi Generasi Muda Hindu-Bali” yang digelar Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan, di Kedonganan, Minggu (14/6). Dharma tula digelar sebagai rangkaian peringatan HUT ke-25 lembaga keuagan milik desa adat itu yang jatuh pada 9 September mendatang.

Sebagai wujud kebanggaan, generasi muda Bali selama ini masih memandang adat dan budaya Bali sebagai beban. Akibatnya, mereka pun menjauhi spirit nilai-nilai lokal yang diwariskan leluhurnya. Kini, cara pandang generasi muda terhadap adat dan budaya Bali harus diubah. Adat dan budaya Bali mesti dijadikan sebagai life style (gaya hidup).

Ketua Pemuda Eka Shanti Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana mengatakan dengan menjadikan kegiatan adat dan budaya sebagai gaya hidup, generasi muda Hindu-Bali bisa memandang adat dan budayanya secara positif. Selanjutnya mencoba memaknai dan mempertahankannya sesuai konteks zaman.

Hal senada dinyatakan I Wayan Sukerta Yasa, anggota seka teruna dari Banjar Kubu Alit. Menurutnya, selama ini memang ada kecenderungan generasi muda enggan melibatkan diri dalam kegiatan adat dan budaya karena hal itu dianggap sebagai urusan orang-orang tua. “Kalau kita tidak mau terlibat dari sekarang, akan terjadi keterputusan. Muncul pertanyaan siapa yang akan melanjutkan adat dan budaya kita. Karena itu, keterlibatan pemuda dalam setiap kegiatan adat dan budaya perlu terus didorong,” kata Sukerta Yasa.

Widya Sabha Provinsi Bali, I Nyoman Putra Suarjana hal yang bisa dibanggakan sebagai generasi muda Hindu-Bali hanyalah adat dan budaya. Karena itu, jika ingin memupuk sikap bangga sebagai generasi muda Hindu-Bali, pemahaman dan pendalaman adat dan budaya Bali mesti dikuasai para pemuda.

“Ketika ada kegiatan adat, budaya dan agama di desa adat, seperti Karya Agung Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan sekarang ini, generasi muda jangan takut atau menghindar karena mungkin merasa tidak bisa. Dengan hanya hadir dan mendengar apa yang disampaikan para tokoh itu saja sudah cukup,” kata Putra Suarjana.

I Wayan Suci Wijaya dari PHDI Kecamatan Kuta mengingatkan generasi muda mengenai dharma dan yadnya bukan hanya dalam bentuk upacara, tetapi yang jauh lebih penting itu perilaku. “Dharma itu sebagai pelindung dan pemelihara dalam diri kita sendiri,” kata Suci Wijaya.

Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan dhamta tula ini merupakan langkah awal untuk memotivasi generasi muda Hindu-Bali di Kedonganan menyadari tanggung jawabnya sebagai generasi kreatif yang akan mewarnai masa depan Hindu dan Bali di masa depan. Madra berharap generasi muda Kedonganan bercermin pada pencapaian LPD Kedonganan yang dimulai oleh para pemuda dan semangat pengabdian yang kuat untuk mempertahankan adat dan budaya Bali di Kedonganan.

“Dulu kita tidak punya apa-apa, kita bisa. Mestinya kini, ketika semua sudah tersedia, para pemuda bisa lebih baik dari itu,” kata Madra. (*)


0 komentar:

Posting Komentar