Minggu, 22 Maret 2015

Karang Taruna Eka Santhi Hidupkan Lagi Tradisi "Mabuug-buugan"

Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan menghidupkan kembali tradisi mabuug-buugan bertepatan hari Ngembak Gni, Minggu (22/3) sebagai rangkaian hari raya Nyepi tahun baru Saka 1937.  Tradisi berwujud mandi lumpur di rawa-rawa kawan hutan mangrove Kedonganan ini pun mendapat sambutan hangat dari krama Desa Adat Kedonganan. Tradisi ini terakhir kali dilakukan sekitar 60 tahun lalu. 

Tradisi mandi lumpur ini diikuti para seka teruna (ST) dari enam banjar di Desa Adat Kedonganan. Sejumlah anak-anak dan orang dewasa juga terlihat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Namun, tradisi ini hanya diikuti para lelaki. 



Dengan hanya mengenakan kamben mabulet ginting (kain setinggi pinggang dan bagian ujungnya ditarik ke belakang), para peserta mabuug-buugan itu memoles tubuhnya dengan lumpur. Sesekali lumpur pun dilemparkan ke tubuh rekan-rekannya. Kendati sekujur tubuh berlumur lumpur, anak-anak muda Kedonganan itu terlihat senang mengikuti tradisi ini. 

Usai mandi lumpur, mereka pun berjalan bersama menuju Pantai Kedonganan. Di sini mereka mandi bersama membersihkan diri. Sesudahnya, wajah cerah, berbinar dan bahagia terlihat di wajah mereka. 

Ketua Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana mengungkapkan apa yang dilakukan ini sebagai upaya rekonstruksi budaya sekaligus edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda Kedonganan mengenai tradisi yang sudah hilang sekitar 60 tahun itu. Pihaknya berharap tradisi ini bisa dihidupkan lagi sembari menggali makna yang terkandung di dalamnya. Yustisia berharap tradisi mabuug-buugan akan menjadi ikon baru bagi Desa Adat Kedonganan. 

Bhaga (Bagian) Pelestarian Tradisi, Budaya dan Pendidikan, I Made Sudarsana menjelaskan mabuug-buugan berarti 'bermain lumpur'. Dalam bahasa Bali, buug memang berarti 'lumpur'. 

Lumpur, kata Sudarsana, merepresentasikan tanah. Tanah merupakan lambang kesuburan. Karena itu, mabuug-buugan juga merupakan cerminan rasa syukur atas karunia kesuburan yang melimpah. 

Yustisia menambahkan balutan tanah pada tubuh peserta mabuug-buugan juga bisa dimaknais ebagai simbolisasi balutan kekotoran dalam hidup. Kekotoran itu dibersihkan dengan air dan disucikan dengan laku hidup yang bersih dan suci. 

Tokoh masyarakat Kedonganan yang juga Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengapresiasi upaya Karang Taruna Eka Santhi untuk merekonstruksi tradisi masyarakat Kedonganan yang sudah hilang. Menurut Madra, upaya ini bukan semata bentuk romantisme terhadap masa lalu, tetapi lebih sebagai kesadaran menggali kekuatan kultural yang berakar pada kearifan tradisi lokal. Ketika sekarang banyak tradisi lokal yang bernilai positif semakin tergusur, langkah Karang Taruna Eka Santhi merupakan sesuatu yang bernilai. 

"Kami mendukung upaya ini dan langkah ini bisa diteruskan pada upaya yang lebih kuat lagi, seperti penelitian, pendokumentasian dan pelestarian," kata Madra. (*)

1 komentar:

  1. Om Suatiastu,
    Sangat mendukung dengan dibangkitkanya kembali Tradisi Mabuug Buugan masyarakat Desa Adat Kedonganan, dimana sempat menghilang puluhan tahun, semoga bisa dilanjutkan setiap tahun bertepatan di hari ngebak Geni.
    Tradisi Mabuug Buugan di Desa Adat Kedonganan ini Natural dan unit yang bisa memcerminkan icon ke arifan budaya lokal khusunya kedonganan ( Natural Culture Village Kedonganan )
    Suksema kepada STT Eka Santhi dan STT seluruh Br yang ada di Desa Adat Kedonganan bisa membangkitkan kembali Tradisi ini.

    Om, Canthi,Canthi,Chanti,Om,
    Md.Subudi.-Br Pasek

    BalasHapus