LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan.

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10).

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

LPD Kedonganan menggelar lomba paduan suara antar-PKK se-Desa Adat Kedonganan serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7).

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Minggu, 22 Maret 2015

Karang Taruna Eka Santhi Hidupkan Lagi Tradisi "Mabuug-buugan"

Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan menghidupkan kembali tradisi mabuug-buugan bertepatan hari Ngembak Gni, Minggu (22/3) sebagai rangkaian hari raya Nyepi tahun baru Saka 1937.  Tradisi berwujud mandi lumpur di rawa-rawa kawan hutan mangrove Kedonganan ini pun mendapat sambutan hangat dari krama Desa Adat Kedonganan. Tradisi ini terakhir kali dilakukan sekitar 60 tahun lalu. 

Tradisi mandi lumpur ini diikuti para seka teruna (ST) dari enam banjar di Desa Adat Kedonganan. Sejumlah anak-anak dan orang dewasa juga terlihat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Namun, tradisi ini hanya diikuti para lelaki. 



Dengan hanya mengenakan kamben mabulet ginting (kain setinggi pinggang dan bagian ujungnya ditarik ke belakang), para peserta mabuug-buugan itu memoles tubuhnya dengan lumpur. Sesekali lumpur pun dilemparkan ke tubuh rekan-rekannya. Kendati sekujur tubuh berlumur lumpur, anak-anak muda Kedonganan itu terlihat senang mengikuti tradisi ini. 

Usai mandi lumpur, mereka pun berjalan bersama menuju Pantai Kedonganan. Di sini mereka mandi bersama membersihkan diri. Sesudahnya, wajah cerah, berbinar dan bahagia terlihat di wajah mereka. 

Ketua Karang Taruna Eka Santhi Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana mengungkapkan apa yang dilakukan ini sebagai upaya rekonstruksi budaya sekaligus edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda Kedonganan mengenai tradisi yang sudah hilang sekitar 60 tahun itu. Pihaknya berharap tradisi ini bisa dihidupkan lagi sembari menggali makna yang terkandung di dalamnya. Yustisia berharap tradisi mabuug-buugan akan menjadi ikon baru bagi Desa Adat Kedonganan. 

Bhaga (Bagian) Pelestarian Tradisi, Budaya dan Pendidikan, I Made Sudarsana menjelaskan mabuug-buugan berarti 'bermain lumpur'. Dalam bahasa Bali, buug memang berarti 'lumpur'. 

Lumpur, kata Sudarsana, merepresentasikan tanah. Tanah merupakan lambang kesuburan. Karena itu, mabuug-buugan juga merupakan cerminan rasa syukur atas karunia kesuburan yang melimpah. 

Yustisia menambahkan balutan tanah pada tubuh peserta mabuug-buugan juga bisa dimaknais ebagai simbolisasi balutan kekotoran dalam hidup. Kekotoran itu dibersihkan dengan air dan disucikan dengan laku hidup yang bersih dan suci. 

Tokoh masyarakat Kedonganan yang juga Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengapresiasi upaya Karang Taruna Eka Santhi untuk merekonstruksi tradisi masyarakat Kedonganan yang sudah hilang. Menurut Madra, upaya ini bukan semata bentuk romantisme terhadap masa lalu, tetapi lebih sebagai kesadaran menggali kekuatan kultural yang berakar pada kearifan tradisi lokal. Ketika sekarang banyak tradisi lokal yang bernilai positif semakin tergusur, langkah Karang Taruna Eka Santhi merupakan sesuatu yang bernilai. 

"Kami mendukung upaya ini dan langkah ini bisa diteruskan pada upaya yang lebih kuat lagi, seperti penelitian, pendokumentasian dan pelestarian," kata Madra. (*)

Kamis, 12 Maret 2015

Ingin Pilih Desa Adat, DPRD Sumbar Kunjungi Kedonganan

Prakarsa krama Desa Adat Kedonganan untuk mendaftarkan desa adat menyikapipemberlakuan UU No. 6/2014 tentang Desa ternyata terdengar hingga ke luar Bali. Hal ini menarik minat Tim Perumus Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) UU Desa DPRD Sumatra Barat mengunjungi Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, Rabu (11/3). Rombongan diterima prajuru Desa Adat Kedonganan di Gedung LPD Desa Adat Kedonganan.



Pemimpin rombongan DPRD Sumbar, H. Aristo Munandar menyatakan pihaknya ingin mencari perbandingan seputar pilihan pengakuan desa adat atau desa dinas terkait dengan diberlakukannya UU Desa. Aristo mengatakan antara Bali dan Sumatra Barat memiliki kemiripan dalam pengelolaan sistem adat yang diwariskan secara turun-menurun.



“Kedatangan kami ke Desa Adat Kedonganan ingin melihat langsung bagaimana aktivitas adat di sini. Ternyata di sini berjalan sangat baik. Kami di Sumbar tengah mewacanakan kembali menata sistem adat ini karena ada peluang dengan diterbitkannya UU,” kata Aristo yang pernah menjadi kandidat Gubernur Sumbar ini.



Aristo mengakui, di Sumbar tengah terjadi perbincangan antara pilihan desa adat atau desa dinas. “Kalau ditingkat elite lebih condong memilih desa adat, sedangkan di tatanan bawah memilih kedinasan. Kami sebenarnya ingin meniru Bali, apa pilihan masyarakat Bali. Kalau saya lebih condong memilih desa adat,“ jelas mantan Bupati Agam ini.



Ada alasan kuat yang mendasari pihaknya lebih cenderung memilih desa adat. Secara struktur, kata Aristo, adat di Sumbar sudah tertata dengan baik, sama seperti Bali. “Struktur adat lengkap, pengurusnya lengkap dan fungsi adat dalam menjaga budaya dan tradisinya juga masih sangat relevan,” tambah Arsito seraya menyebutkan Bali, Sumbar dan Aceh benar-benar masih kental dengan tradisinya masing -masing.



Tokoh Kedonganan yang juga Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengungkapkan di Bali justru arus bawah berkeinginan adat tetap dipertahankan, sebaliknya di kalangan elite, para bupati dan walikota masih bingung. Namun, ada beberapa bupati sudah menyatakan sikap tegas ingin mendaftarkan desa adat.



“Di Bali, tatanan struktur adat tidak jauh beda dengan Sumbar. Bahkan, Bali justru pernah belajar ke Sumbar mengenai lembaga keuangan milik komunitas adat, yakni Lumbung Pitih Nagari (LPN). Di Bali, dikembangkan menjadi LPD. Itu artinya, antara Bali dan Sumbar tidak ada masalah dengan desa adat. Lembaganya masih ada, struktur dan fungsinya masih berjalan dan hubungan dengan pemerintah harmonis. Karena itu, hal semacam ini harus dipertahankan dan diperkuat,” tandas Madra. (*)