LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan.

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10).

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

LPD Kedonganan menggelar lomba paduan suara antar-PKK se-Desa Adat Kedonganan serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7).

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Minggu, 27 Desember 2015

Syukuri LPD Membuat Makin "Elah", Tapi Jangan "Ngelahin"

Wawancara Khusus dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 


Selama 25 tahun, LPD Kedonganan menjadi lokomotif pembangunan di Desa Adat Kedonganan. Kehadiran lembaga keuangan komunitas adat di Kedonganan ini membuat krama dan Desa Adat Kedonganan kian elah, makin mudah, baik dalam hal pembangunan fisik maupun nonfisik. Namun, justru kondisi kian elah ini membiakkan kekhawatiran. Mengapa? Berikut wawancara dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 
Apa makna usia 25 tahun ini bagi LPD Kedonganan?

Ya, bagi sebuah lembaga, usia 25 tahun itu pertanda memasuki tahap kematangan. Selama seperempat abad ini, LPD Kedonganan sudah memainkan peran sebagai motor penggerak, stabilisator dan dinamisator pembangunan di desa adat. LPD men-drive kehidupan kita beradat dan berbudaya Bali berlandaskan ajaran agama Hindu.

Di usia ke-25 tahun ini, LPD Kedonganan merasa sudah sukses?

Penilaian itu seharusnya diberikan krama. Tapi, kami di LPD Kedonganan memiliki ukuran sukses itu pada tiga aspek, yakni sukses parhyangan, sukses pawongan dan sukses palemahan. Kami menyebutnya trisukses LPD Kedonganan. Dari aspek parhyangan, kami bersyukur, semua parhyangan di desa adat kini sudah diperbaiki dan di situ ada peran LPD. Pelaksanaan upacara, aci rutin di kahyangan desa maupun banjar-banjar juga sudah tidak lagi menjadi masalah karena sumber pendanaannya dari LPD. Bahkan LPD memberikan punia secara rutin ke dadia dan paibon. Masih dalam kaitan yadnya, LPD juga memfasilitasi program desa adat berupa ngaben dan nyekah ngemasa setiap tiga tahun. Dalam aspek pawongan, LPD selama ini tidak pernah absen membina prestasi belajar anak-anak Kedonganan melalui tes beasiswa prestasi, lomba cerdas cermat dan beasiswa untuk anak yang orang tuanya kurang mampu. Kami juga mendorong tumbuhnya wirausaha muda melalui pelatihan dan lomba. Dari sisi palemahan, LPD juga menjadi motor penggerak dan fasilitator penataan Pantai Kedonganan hingga kini berkembang menjadi kawasan wisata kuliner berbasis komunitas adat. Di satu sisi palemahan tertata, di sisi lain pawongan secara ekonomi juga berkembang. Kami terus berupaya mensinergikan tiga aspek ini agar makin bermanfaat bagi krama dan desa adat. 

Usia 25 tahun kerap diidentikkan dengan zona nyaman. Komentar Anda?

Kita sadari hal itu. Kami membagi perkembangan LPD Kedonganan ini ke dalam empat periode. Pertama, periode perintis yang dimulai tahun 1990 hinga sekitar tahun 1995. Ini masa awal yang sulit karena kami tak hanya berjuang membangun lembaga tetapi juga merebut kepercayaan krama. Kedua, periode pengembang. Periode ini ditandai dengan pendirian kantor yang representatif dan kepercayaan krama mulai tumbuh. Ketiga, periode penikmat. Pada periode ini manfaat LPD makin dirasakan krama. Periode inilah yang perlu kita sikapi secara hati-hati. Pada umumnya ketika sudah merasa nyaman, masyarakat berpikir elah (mudah, gampang), akhirnya lengah. Masyarakat merasa sudah ada LPD yang menjadi tumpuan. Prajuru juga merasa sudah ada LPD yang mendukung pendanaan desa. Karyawan merasa, LPD kita sudah besar. Akhirnya, tidak ada antisipasi atas berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kalau kita lengah di periode ini, bisa saja kita terejembab ke periode keempat, periode penghancur. Karena itu, krama desa, prajuru desa dan karyawan LPD tidak boleh ngelahin (menggampangkan) hanya karena melihat LPD kini sudah besar. Jusrtu di sinilah kita harus lebih serius dan waspada.

Apa indikator LPD Kedonganan kini memasuki zona nyaman?

Hal itu bisa dilihat dari beberapa contoh. Pembangunan Pura Bale Agung, dianggarkan Rp 3 miliar, habis juga Rp 3 miliar. Miskin kreativitas untuk mencari sumber-sumber dana lain. Pengelolaan pasar desa adat di KUD, enam tahun tidak ada hasil, masyarakat tak memasalahkan. Usaha kafe di pantai jor-joran memberikan komisi, tak ada yang memikirkan untuk mengatasinya dan malah merasa itu wajar. Padahal, itu membunuh kita pelan-pelan. Kenapa bisa begitu? Karena semua merasa nyaman, semua merasa sudah ada yang mem-back up, sudah ada LPD. Kita pun kini jadi manja. Kalau tidak ada uang, tak mau bergerak. Dulu, saya bikin lomba baleganjur, tanpa ada dana pembinaan ke banjar-banjar, orang bersemangat latihan. Sekarang, hal semacam itu sulit kita dapatkan. Terus terang, saya ngeri membayangkan masa depan generasi Kedonganan. Apalagi yang saat ini berusia di bawah 25 tahun. Mereka sudah menerima LPD dalam kondisi besar. Padahal, di balik apa yang kini disebut kesuksesan LPD, awalnya adalah sikap tulus, lurus dan serius para pendahulu.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Tatkala saya menggandengkan undian HUT LPD dengan kegiatan penggalian dana pembangunan Pura Puseh-Desa dan promosi kafe, banyak teman-teman yang bertanya, tak mengerti. Bahkan ada yang bertanya, untuk apa lagi menjual kupon, toh sudah ada dana? Inilah cerminan sikap nyaman. Ini bagian dari upaya merawat semangat untuk terus berusaha, tiada henti berkreativitas. Dengan pola sinergi itu, semua aspek digerakkan, terutama partisipasi krama. Dalam teori pemerintahan modern, partisipasi masyarakat adalah kunci utama. Pola kupon bersama ini membuat partisipasi krama berjalan secara simultan, beriringan dengan aspek ngayah untuk pembangunan pura. Di tengah-tengah LPD menjadi dinamisatornya dengan memberikan hadiah. Pada akhirnya, gerak simultan itu akan memberi manfaat bagi LPD. Memang, upaya ini belum berjalan maksimal, mungkin karena pemahaman yang belum utuh terhadap aspek tujuan dan manfaatnya. Tapi, dampaknya sudah bisa dirasakan. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan fisik Pura Puseh-Desa lebih rendah dari biaya yang dianggarkan. Kenapa bisa begitu? Ada unsur partisipasi krama. Intinya, jangan terlena, jangan malas, jangan cepat berpuas diri. Kita harus terus berusaha.

Apa harapan ke depan?  


Saya berharap kepada pemuda. Itu sebabnya, saya gosok-gosok mereka, saya dorong mereka menjadi wirausaha, saya dorong mereka ikut mengkritisi LPD dan dinamika pembangunan di desa. Mereka harus belajar dari sejarah, dari para pendahulu. (*)

Ribuan Krama Hadiri Jalan Santai Selae Tiban LPD Kedonganan

Ribuan krama Desa Adat Kedonganan tumpah ruah menghadiri acara jalan santai serangkaian Selae Tiban (25 Tahun) LPD Desa Adat Kedonganan, Minggu (27/12) pagi. Krama tampak antusias mengikuti acara ini, terlebih lagi hadiah utama yang diperebutkan dalam door prize (undian berhadiah) berupa dua buah sepeda motor dan belasan hadiah lain. 

Jalan santai dilepas Camat Kuta, I Gde Rai Wijaya di depan kantor LPD Kedonganan, Jalan Catus Pata Kedonganan. Rute jalan santai mengelilingi wawengkon (wilayah) Desa Adat Kedonganan dan berakhir di Pantai Kedonganan, sebelah utara Pura Segara. 

Krama tumpah ruah mengikuti jalan santai Selae Tiban LPD Kedonganan.
Wajah-wajah ceria pun tergambar dari krama yang mengikuti jalan santai. Canda tawa renyah menyeruak di sela-sela jalan santai. Penuh keakraban dan kebersamaan. 

Sejumlah warga mengaku senang mengikuti acara jalan santai HUT LPD Kedonganan ini. Menurut mereka, acara jalan santai ini menjadi ajang bagi warga yang bertemu dan saling bertegur sapa.

"Saat acara begini, semua warga keluar, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ini momentum berharga untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara krama," kata I Made Widiana, salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan. 

Hal senada juga diungkapkan Ketua Badan Pengelola Kawasan Pariwisata Pantai Kedonganan (BPKP2K), I Wayan Mertha. Menurut Mertha yang baru saja lulus sebagai doktor ilmu Ekonomi di Program Pascasarjana Unud ini, kegiatan semacam jalan santai HUT LPD Kedonganan mampu memperkuat modal sosial masyarakat Kedonganan. 

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyatakan krama Kedonganan sudah menjadikan kegiatan jalan santai HUT LPD sebagai program rutin, semacam kebutuhan yang harus ada. Itu sebabnya, setiap tahun krama selalu mengingatkan agar kegiatan jalan santai tidak dihilangkan. 

"Walaupun LPD tak menyediakan baju seragam mereka tetap bersemangat mengikuti jalan santai. Untuk perayaan Selae Tiban kali ini, kami buatkan baju seragam," kata Madra. 

Suasana jalan santai semakin meriah dengan tampilnya penyanyi lagu pop Bali, AA Raka Sidan, dkk. Krama bertambah antusias tatkala tiba pengundian door prize peserta jalan santai. Dua unit sepeda motor serta berbagai hadiah lain, seperti lemari es, TV LED, kamera digital, mesin cuci serta tea set diberikan kepada peserta yang beruntung. 

Selain itu, panitia juga memberikan hadiah menarik bagi peserta yang mampu mengumpulkan sampah terbanyak. Sepanjang rute jalan santai, peserta diimbau mengumpulkan sampah yang dijumpainya. Sampah-sampah itu disetorkan kepada panitia yang bekerja sama dengan DKP Badung. Lima peserta dengan volume sampah terbanyak mendapat hadiah khusus. 

Para peserta pengumpul sampah terbanyak menerima hadiah.
Ketua Panitia, I Wayan Suriawan menjelaskan perayaan Selae Tiban LPD Kedonganan mengusung tema "Ngulati Kasukertan Krama dan Desa, Ngrajegang Adat lan Budaya Bali". Tema ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan, meliputi lomba-lomba, dialog, serta aksi sosial.

"Ada tiga bidang utama kegiatan, yaitu parahyangan, pawongan dan palemahan sesuai dengan visi LPD Kedonganan mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan berdasarkan Tri Hita Karana," kata Suriawan. 

Seluruh rangkaian kegiatan sudah berlangsung sejak Mei 2015. Dana yang dianggarkan untuk berbagai kegiatan mencapai Rp 1,2 miliar. 

Malam hari ini acara masih dilanjutkan dengan Refleksi Selae Tiban LPD Kedonganan yang disertai undian berhadiah bagi nasabah penabung, deposan dan kredit. Hadiah utama berupa satu unit mobil Toyota Agya, lima unit sepeda motor dan berbagai hadiah menarik lain senilai total Rp 342 juta. (*)


Sabtu, 26 Desember 2015

Besok Puncak Perayaan Selae Tiban LPD Kedonganan, Ini Hadiah Utamanya

Perayaan Selae Tiban (25 Tahun) LPD Kedonganan tidak saja istimewa dari sisi rangkaian kegiatannya yang panjang dan variatif. Hadiah undian nasabah penabung, deposan, debitur dan Tabe Plus juga istimewa. Untuk pertama kali, hadiah utama undian nasabah berupa satu unit mobil Toyota Agya. Selain itu, masih ada lima unit sepeda motor di jajaran hadiah utama. Seluruh hadiah itu akan diundi pada puncak perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan, Minggu, 27 Desember 2015.


Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan, total hadiah yang diundi pada perayaan kali ini senilai Rp 342 juta dengan jumlah hadiah sebanyak 50 buah. “Ini termasuk nilai hadiah terbesar sepanjang sejarah undian nasabah yang dilaksanakan LPD Kedonganan,” kata Suriawan.

Di luar hadiah utama, masih ada tiga unit sepeda motor lagi. Satu unit diberikan untuk nasabah Tabe Plus dan dua unit lagi diberikan sebagai hadiah undian bagi peserta jalan santai. Hadiah lainnya juga cukup menarik, seperti lemari es, mesin cuci, televisi, sepeda gunung, laptop, kamera digital, ipad mini, kompor gas, hingga dinner set.

Menurut Suriawan, berbagai hadiah undian nasabah dan jalan santai itu sebagai tanda terima kasih LPD Kedonganan atas dukungan dan kepercayaan krama dan nasabah. Suriawan berharap, dukungan dan kepercayaan itu akan terus terjaga bahkan makin meningkat kualitasnya. Dengan begitu, LPD Kedonganan bisa makin maksimal pula memberikan manfaat bagi krama, nasabah dan Desa Adat Kedonganan. Pasalnya, hasil pengelolaan LPD Kedonganan akan dikembalikan kepada krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)

Kamis, 24 Desember 2015

Parade Tabuh Klasik Pagongan dan Bebarongan

Menghidupkan kesenian tabuh di Desa Adat Kedonganan, LPD Kedonganan menggelar Parade Tabuh Klasik Pagongan dan Bebarongan di Banjar Pasek, 20-22 Desember 2015. Parade diikuti lima seka gong di lima banjar se-Desa Adat Kedonganan serta satu seka pendamping dari luar Kedonganan. Satu banjar, Anyar Gede absen dalam ajang ini.



Minggu, 20 Desember 2015, tampil Seka Gong Kertha Ulangun Banjar Kerthayasa dan Jayagita Banjar Pasek. Senin, 21 Desember 2015, menyusul Seka Gong Gita Dharma Prawerti Banjar Kubu Alit dan Seka Gong Kanthi Budaya Jimbaran selaku seka gong pendamping dari luar Kedonganan yang unjuk kebolehan. Sementara Selasa, 22 Desember 2015, giliran Seka Gong Yowana Budhi Werdhi Banjar Ketapang dan Semara Gita Banjar Pengenderan menampilkan kemampuannya.

Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan, parade gong dimaksudkan untuk menyiapkan seka gong di masing-masing banjar yang bisa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan di desa adat maupun di banjar-banjar, termasuk mengiringi Ida Ratu Ayu masolah. “Karena itu, juara bukan tujuan tapi bagaimana seka gong di banjar-banjar hidup kembali dan bisa menopang pelaksanaan yadnya di desa adat dan banjar-banjar,” kata Suriawan.


Krama Desa Adat Kedonganan terlihat antusias menyambut acara ini. Ini dibuktikan dengan membludaknya krama yang menyaksikan pementasan tiga hari berturut-turut itu. (*)

Senin, 23 November 2015

Inilah Para Pemenang Tes Beasiswa Prestasi LPD Kedonganan 2015

Tes Beasiswa Prestasi (TBP) serangkaian perayaan Selae Tiban (25 Tahun) LPD Desa Adat Kedonganan akhirnya selesai digelar. Berdasarkan pemeriksaan hasil tes para peserta, diputuskan para pemenang 12 para pemenang atau tiga pemenang untuk masing-masing tingkatan kelas.



Berikut hasil lengkap TBP LPD Kedonganan 2015.

HASIL TES BEASISWA PRESTASI

Kelas III

Juara I : I Putu Adiaksa Prawira Wardana (SD 3 Kedonganan)
Juara II : Rina Yulia Purwaningsih (SD 4 Kedonganan)
Juara III : I Gd Dewangga Darma Wicaksana (SD 1 Kedonganan)

Kelas IV

Juara I : Ni Ketut Sintha Wiadnyani (SD 3 Kedonganan)
Juara II : I Kd Restu Adi Dwi Putra (SD 3 Kedonganan)
Juara III : Ni Kd Dinda Miasa Putri (SD 1 Kedonganan)

Kelas V

Juara I : Md Ireina Dwiandra Divayanti (SD 1 Kedonganan)
Juara II : Saskia Habsa Permana Putri (SD 3 Kedonganan)
Juara III : Ni Kd Kanaya Dwita Cahyani (SD 2 Kedonganan)

Kelas VI

Juara I : Ni Putu Adelia Septiasari (SD 1 Kedonganan)
Juara II : Ni Luh Diah Kemala Sari (SD 3 Kedonganan)
Juara III : I Wayan Dharma Wijaya (SD 3 Kedonganan)


Rabu, 04 November 2015

SD 2 Kedonganan Juara Cerdas Cermat 2015

SD Negeri 2 Kedonganan tampil sebagai juara I dalam lomba cerdas cermat HUT ke-25 LPD Kedonganan. Dalam lomba yang digelar di Balai Banjar Pasek, Rabu (4/11) itu, juara II dan III diraih SD 3 Kedonganan dan SD 1 Kedonganan.

Tim SD 2 Kedonganan diperkuat Ni Ketut Ayu Putri Premayanti, Sri Ananda Sila Dewi dan Ni Kadek Kanaya Dwita Cahyani. Tim SD 3 Kedonganan diperkuat Ni Luh Diah Kemala Sari, I Wayan Dharma Wijaya, serta I Gede Adi Wiraguna. Tim SD 1 Kedongaann diperkuat Ni Komang Devia Joehana Desyana Putri, I Gusti Putu Ngurah Adi Putra Sanjaya dan Ni Luh Kadek Ari Asih Juniati. 

Lomba cerdas cermat HUT ke-25 LPD Kedonganan di Balai Banjar Pasek, Rabu (4/11).
Lomba yang diikuti delapan tim dari empat SD di Kelurahan Kedonganan itu berlangsung seru. Di babak penyisihan I dan II, kekuatan keempat sekolah terbilang merata. Itu sebabnya, dua babak itu sama-sama memunculkan satu wakil dari tiap sekolah di babak final. 

Materi lomba cerdas cermat meliputi mata pelajaran kelas IV, V dan VI, pengetahuan umum, budaya Bali serta seputar LPD. Soal dibuat sebuah tim khusus yang berasal dari luar Kedonganan. "Ini untuk menjaga netralitas dan memastikan soal tidak bocor sebelum lomba," kata Ketua Panitia Seksi Lomba Tes Beasiswa Prestasi dan Cerdas Cermat HUT ke-25 LPD Kedonganan, I Wayan Mertayasa. 

Tim juri lomba cerdas cermat, yakni I Made Sujaya, S.S., Hum. (wartawan dan dosen), I Made Astra Prayoga, S.Pd. (guru dan dosen), serta IB Gde Bawa Adnyana (dosen dan guru). 

Ketua Tim Juri Lomba Cerdas Cermat, I Made Sujaya menilai kemampuan keempat sekolah terbilang merata. Hanya memang, diakuinya, di antara dua tim yang dikirim tiap-tiap sekolah, ada yang kemampuannya cukup menonjol, ada juga yang kurang. 

"Yang maju ke final memang tim yang kemampuannya bagus serta memiliki strategi menghadapi lomba dengan baik. Tiga anggota tim yang dimiliki bisa berperan secara proporsional," kata Sujaya. 

I Made Astra Prayoga mengapresiasi gelaran lomba cerdas cermat yang rutin digelar LPD Kedonganan. Terlebih lagi lomba ini digelar di balai banjar yang sekaligus memberikan pengalaman kultural bagi anak-anak. 

Mertayasa menambahkan hadiah bagi para pemenang lomba akan diserahkan saat puncak perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan pada 27 Desember 2015 mendatang. (*)

Senin, 02 November 2015

Tes Beasiswa Prestasi Tempa Daya Saing Anak-anak Kedonganan

Tes Beasiswa Prestasi (TBP) yang digelar LPD Kedonganan secara rutin setiap tahun merupakan upaya nyata membina semangat berkompetisi dan berprestasi anak-anak di Desa Adat Kedonganan. Dengan begitu, daya saing mereka tertempa dengan baik sebagai bekal menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam kehidupan. 

Demikian ditegaskan Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., saat membuka TBP 2015 di gedung LPD Desa Adat Kedonganan, Senin (2/11). TBP digelar sebagai rangkaian peringatan HUT ke-25 LPD Kedonganan. 

"Semangat berani dan mau bersaing itu penting. Itu modal memenangkan persaingan," kata Ketut Madra. 


Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menyalami satu per satu peserta Tes Beasiswa Prestasi 2015.
Itu sebabnya, LPD Kedonganan memilih tetap melaksanakan TBP setiap tahun sejak tahun 1997. Bagi LPD Kedonganan, masa depan Kedonganan terletak di tangan anak-anak Kedonganan saat ini. Sebagai lembaga keuangan komunitas adat, LPD Kedonganan ingin berkontribusi pada penyiapan generasi penerus Desa Adat Kedonganan, yang tidak saja berkompeten dalam bidang budaya, tetapi juga memiliki kompetensi akademik yang bagus. 

Secara praktis, imbuh Madra, TBP juga dimaksudkan menjaga kualitas pendidikan dasar di Kedonganan. Empat Sekolah Dasar (SD) yang ada di Kedonganan diharapkan tetap termotivasi untuk terus berbenah menjadi yang terbaik sehingga terjadi persaingan yang sehat untuk mencapai prestasi terbaik.

Independen

Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan pihaknya berupaya terus memperbaiki kualitas kegiatan TBP. Tahun ini, soal yang digunakan dalam TBP disiapkan tim khusus yang sepenuhnya berasal dari luar Kedonganan. 

"Kami memiliki fasilitataor independen dalam pengadaan dan penggandaan soal, termasuk juga memeriksa jawaban siswa. Jadi, kami di panitia, sama sekali tidak terlibat dalam penyediaan soal. Bahkan, kami tidak tahu siapa yang membuat soal. Yang tahu hanya fasilitator," kata Suriawan. 

Menurut Suriawan, hal ini juga sudah disampaikan dan disepakati dalam pertemuan teknik dengan para guru dari empat SD di Kedonganan. Agar bisa menjadi bahan evaluasi, setelah TBP selesai, tes dan kunci jawaban akan didistribusikan ke sekolah-sekolah. 

"Dengan begitu, sekolah bisa memprediksi soal-soal TBP tahun berikutnya melalui soal TBP tahun ini," kata Suriawan. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, TBP 2015 diikuti siswa kelas III, IV, V dan VI dari empat SD di Kedonganan. Masing-masing sekolah mengirimkan siswa peraih posisi tiga besar di tiap tingkatan kelas. Karena itu, jumlah total peserta sebanyak 48 orang. 

TBP berangsung dua hari, Senin dan Selasa (2-3/11). Adapun mata pelajaran yang diteskan meliputi PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Bali, dan Bahasa Inggris. Namun, khusus untuk kelas III tidak mendapat tes Bahasa Inggris. 

Para pemenang akan mendapatkan beasiswa berupa tabungan dalam produk Tabungan Beasiswa (Tabe) Plus. Juara I mendapat tabungan Rp 1.000.000, Juara II Rp 800.000 dan Juara III Rp 600.000. Para pemenang akan diumumkan melalui surat ke sekolah masing-masing dan website ini. Hadiah pemenang diserahkan saat puncak HUT, 27 Desember 2015 mendatang.

Selain TBP, LPD Kedonganan juga menggelar Cerdas Cermat antar-SD se-Kelurahan Kedonganan yang dilaksanakan Rabu (4/11) di Balai Banjar Pasek. Untuk menjamin independensi, soal dan juri Cerdas Cermat juga sepenuhnya didatangkan dari luar Kedonganan. (*)

Jumat, 23 Oktober 2015

Dewan LPD Bali Jadikan LPD Kedonganan Model Lembaga Keuangan Komunitas Adat

Dewan LPD Bali bakal menjadikan LPD Desa Adat Kedonganan sebagai role model (contoh) lembaga keuangan komunitas adat Bali. Hal ini dikarenakan pengelolaan LPD Kedonganan selama ini dinilai sesuai dengan visi dan misi pembentukan LPD sebagai lembaga penyangga agama, adat dan budaya Bali. Demikian dinyatakan Ketua Dewan LPD Bali, I Gde Made Sadguna saat sosialisasi Dewan LPD Bali di ruang pertemuan LPD Desa Adat Kedonganan, Jumat (23/10). 

Sosialisasi Dewan LPD Bali di hadapan prajuru dan tokoh-tokoh Desa Adat Kedonganan di ruang pertemuan LPD Kedonganan, Jumat (23/10).
Sosialisasi Dewan LPD Bali ini memenuhi undangan Desa Adat Kedonganan. Pertemuan yang dihadiri prajuru Desa Adat Kedonganan, kelian suka duka banjar serta tokoh-tokoh masyarakat Kedonganan itu dimaksudkan mengetahui secara lebih jelas keberadaan Dewan LPD Bali yang baru dibentuk Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali melalui rapat Sabha Kerta MUDP Bali pada 20 Agustus 2015.

Sadguna menjelaskan Dewan LPD Bali merupakan pelaksanaan Keputusan Paruman Agung III Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali No. 007/SK-PA III/MDP Bali/VIII/2014 tentang Pararem LPD Bali yang merupakan amanat UU Nomor 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Dalam pasal 39 ayat 3 UU tersebut dinyatakan LPD diatur hukum adat dan tidak tunduk terhadap UU LKM tersebut sehingga tidak juga menjadi objek pengawasan OJK. 

"Nah, di Bali, otoritas adat tertinggi itu adalah MUDP. MUDP kemudian mem-follow up dengan membentuk Pararem LPD Bali sebagai wujud hukum adat Bali sekaligus kini tengah melakukan modifikasi hukum adat Bali yang bersifat Bali Mawacara. Untuk pengaturan LPD di Bali, MUDP menyusun sistem keuangan adat Bali, baik mikro maupun mikro. Untuk melaksanakan hal itu, MUDP membentuk Dewan LPD Bali yang akan menjalankan fungsi itu," kata Sadguna. 

Dewan LPD Bali, kata Sadguna, akan menjalankan fungsi sebagai regulator bagi seluruh LPD di Bali. Jika diibaratkan dalam sistem keuangan nasional, mirip dengan Bank Indonesia. Namun, Dewan LPD Bali tetap akan menjalin hubungan dan sinergi dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar sistem keuangan adat Bali dan sistem keuangan nasional berjalan harmonis. 

Untuk melaksanakan tugasnya, kata Sadguna, Dewan LPD Bali akan didukung lima badan, yakni badan pelaksana, badan pengaturan dan pengawasan LPD, badan penjaminan layaknya LPS, badan penjaminan kredit layaknya Jamkrida, badan peradilan LPD dan badan penelitian dan pengembangan (litbang). 

Sadguna mengajak seluruh komponen masyarakat adat Bali bersatu mendukung langkah MUDP Bali melalui Dewan LPD Bali ini. Menurut Sadguna, melalui Dewan LPD Bali, MUDP melakukan penguatan LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali dengan menjaga keunikan atau kekhususannya yang berdasarkan ajaran agama Hindu serta adat dan budaya Bali. 

"LPD Kedonganan kami jadikan model LPD Bali sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali karena LPD Kedonganan selama ini kami pandang sudah melaksanakan model pengelolaan yang sesuai dengan apa yang kini tengah kami rancang di Dewan LPD Bali," kata Sadguna. 

Penyarikan Desa Adat Kedonganan, I Made Sukada menyambut baik sosialisasi Dewan LPD Bali ini. Sukada berharap MUDP Bali, melalui Dewan LPD, benar-benar bisa memperkuat LPD, terutama mengantisipasi berbagai tekanan dari luar.

Mengenai dipilihnya LPD Kedonganan sebagai model, Sukada menyatakan apresiasinya. Dengan berkelakar, Sukada menyatakan, "Apa Dewan LPD Bali sudah yakin memilih LPD Kedonganan? Masalahnya Ketua LPD kami ini memang buduh-buduhan (gila-gilaan) mengembangkan LPD," kelakar Sukada. 

Prajuru Desa Adat Kedonganan, I Made Sudiana juga menyambut baik terbentuknya Dewan LPD Bali. Sudiana berharap Dewan LPD Bali bisa mengembangkan keberadaan LPD hingga makin bermanfaat bagi krama adat Bali. "Kami merasakan betul bagaimana nikmatnya memiliki LPD yang mampu memberikan manfaat bagi krama dan desa," kata Sudiana. 

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyatakan kesiapannya dijadikan model pengelolaan LPD dalam kerangka sistem keuangan adat Bali yang sedang dibuat Dewan LPD Bali. Selama ini, kata Madra, LPD Kedonganan memang sudah menerapkan tata kelola LPD dengan kerangka Tri Hita Karana. "Kami di Kedonganan, memang sejak awal memandang LPD ini tidak sama dengan bank atau koperasi sehingga cara kami mengelola pun berbeda dengan bank dan koperasi," kata Madra. 

Madra berharap krama dan Desa Adat Kedonganan selaku pemilik LPD Kedonganan memberikan dukungan penuh pada langkah MUDP Bali melalui Dewan LPD Bali ini. Madra menegaskan melalui sistem keuangan berbasis adat Bali yang tengah disusun Dewan LPD Bali akan makin memperkuat LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali. "Tujuan akhirnya memaksimalkan peran LPD untuk kesejahteraan masyarakat adat Bali serta ajegnya agama, adat dan budaya Bali dengan basis desa adat atau desa pakraman," tegas Madra. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja sebelumnya sudah menegaskan mendukung langkah MUDP Bali membentuk Pararem LPD Bali sebagai amanat UU LKM. Dewan LPD merupakan pelaksanaan Pararem LPD Bali sehingga sudah sepatutnya juga didukung untuk membuat sistem keuangan adat Bali yang akan memperkuat LPD sebagai penyangga adat, budaya dan agama masyarakat Bali. (*)

Kamis, 08 Oktober 2015

Meluruskan Salah Kaprah Mengenai Dana LPD

Oleh I Ketut Madra 
(Kepala LPD Desa Adat Kedonganan)

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) secara tegas sudah diakui Negara sebagai duwe (hak milik penuh) desa adat/desa pakraman. Sejak awal kelahiran tahun 1984, hal ini sudah ditegaskan dalam Perda LPD dan kini diperkuat lagi dengan UU No. 1/2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Belakangan, Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali telah mengeluarkan Keputusan Paruman Agung III Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali No. 007/SK-PA III/MDP Bali/VIII/2014 tentang Pararem LPD Bali yang menguatkan keberadaan LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali. Karena itu, dana LPD sudah jelas berstatus dana desa adat dan dana krama desa, bukan uang Negara.

Pelayanan nasabah di LPD Kedonganan.
Selama ini masih ada salah kaprah di kalangan masyarakat Bali yang menganggap LPD milik pemerintah sehingga menganggap dana LPD merupakan uang Negara. Memang, pemerintah daerah (pemda), baik Provinsi Bali maupun Pemkab/Pemkot memberikan suntikan dana saat awal pembentukan LPD. Namun, hal itu tidak lantas berarti LPD milik pemerintah.

Posisi dana pemerintah saat awal pembentukan LPD itu adalah bantuan kepada desa adat untuk mendirikan LPD sekaligus sebagai rangsangan bagi krama desa adat untuk menabung dan meminjam di LPD karena LPD itu milik desa adat.

Bantuan kepada desa adat untuk membentuk LPD itu tidak jauh berbeda dengan bantuan pemerintah kepada pangempon dan desa adat untuk perbaikan pura atau pelaksanaan suatu upacara di pura serta desa adat. Meskipun memberikan bantuan, tidak lantas pura dimiliki pemerintah.

Bantuan pemerintah kepada desa adat saat awal pembentukan LPD merupakan bagian dari pelaksanaan tanggung jawab pemerintah mengakui, mengayomi dan melindungi kesatuan masyarakat hukum adat Bali. Pemberian bantuan itu tetap tidak mengurangi otonomi desa adat. 

Posisi dana bantuan pemerintah di LPD bisa beragam. Ada yang sepenuhnya menjadi modal LPD, ada juga yang disertai dengan suntikan modal dari desa adat sendiri.

Jika desa adatnya memiliki dana dan komitmen yang tinggi untuk membangun dan mengembangkan LPD, desa adat akan menyertakan dana untuk modal LPD. Jika desa adatnya belum mampu, tentu dana bantuan dari pemerintah daerah sepenuhnya sebagai modal LPD. (*)

Senin, 05 Oktober 2015

Ngaben dan Nyekah Ngemasa IV Kedonganan: Difasilitasi Desa Adat, Dimotori LPD

Tradisi ngaben dan nyekah atau disebut juga karya atiwa-tiwa lan atma wedana secara massal di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung kian kokoh saja. Untuk keempat kalinya sejak tahun 2006, desa yang kini terkenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner di Bali itu menggelar upacara ngaben dan nyekah ngemasa. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Senin (5/10).

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menjelaskan upacara ngaben dan nyekah ngemasa ini sudah menjadi program rutin Desa Adat Kedonganan saban tiga tahun dan sudah dimasukkan dalam awig-awig desa adat. Program ini hasil sinergi dengan program Simpanan Upacara Adat (Sipadat) LPD Desa Adat Kedonganan.

“Program ini sudah dimulai tahun 2006 dan tahun ini merupakan yang keempat kali,” kata Puja.


Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menambahkan ngaben dan nyekah ngemasa merupakan labda (manfaat) yang diberikan LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali milik desa adat kepada krama Desa Adat Kedonganan selaku pemilik sekaligus nasabah LPD. Biaya upacara sepenuhnya diambil dari hasil pengelolaan dana krama di LPD Kedonganan.

“Krama memang tidak mengeluarkan biaya secara langsung untuk ikut dalam upacara ini. Akan tetapi, krama-lah yang sesungguhnya membiayai upacara ini melalui kegiatan pengelolaan dana krama di LPD. Yang melaksanakan upacara ini juga krama pemilik sawa secara bersama-sama, sementara desa adat sebagai fasilitator dan LPD sebagai motor penggeraknya,” kata Madra.

Pola ngaben dan nyekah massal di Kedonganan ini, kata Madra, didasari konsep pasidhi kara yang menjadi basis semangat komunitas adat Bali. Karena itu, kebersamaan dan kekeluargaan menjiwai setiap rangkaian upacara atau pun kegiatan.
Menurut Puja, upacara ngaben dan nyekah secara massal memang bertujuan memperkuat bangunan kebersamaan di antara krama desa. Menurut Puja, ngaben dan nyekah massal ini tidak sekadar untuk menghemat biaya, tetapi yang jauh lebih penting memupuk semangat kebersamaan dan persatuan di antara krama desa.

Madra menambahkan yang ditonjolkan dalam ngaben dan nyekah massal di Kedonganan yakni kebersahajaan, bukan jor-joran, apalagi adu gengsi. Menurut Madra, ber-yadnya tidak boleh dilandasi semangat jor-joran atau adu gengsi. Justru, yadnya harus semakin memperkuat empati dan simpati terhadap sesama.

Ketua Panitia, I Made Sukada menjelaskan upacara ngaben diikuti 55 sawa, ngelangkir dan ngelungah sebanyak 75 sawa dan nyekah diikuti 100 sekah. Peserta berasal dari seluruh banjar adat di wilayah Desa Adat Kedonganan. Upacara di-puput enam sulinggih.

Sukada menjelaskan rangkaian karya atiwa-tiwa lan atma wedana sudah dimulai pada Jumat (4/9) lalu yang ditandai dengan matur piuning dan nyukat genah pangorong. Jumat (2/10) lalu dilaksanakan upacara ngulapin. Sabtu (3/10)  dilanjutkan dengan nunas tirtha pangaskaran. Minggu (4/10) dilaksanakan upacara pangaskaran, saji tarpana, ngunggahang damar kurung dan nyimpangang adegan ke soang-soang sawa. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Senin (5/10).

Puncak upacara atma wedana atau nyekah dilaksanakan pada Senin (17/10) mendatang. Rangkaian upacara diakhiri dengan nyegara gunung dan nampiang ring Hyang Guru pada Rabu (21/10) mendatang. (b.)


Kamis, 10 September 2015

Laksanakan Amanat UU LKM, Kedonganan Segera Susun "Pararem" LPD


Desa Adat Kedonganan mendukung Keputusan Paruman Agung III Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali No. 007/SK-PA III/MDP Bali/VIII/2014 tentang Pararem LPD Bali karena keputusan itu sebagai pelaksanaan amanat UU Nomor 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Sebagai wujud dukungan itu, Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja segera membentuk tim perumus pararem pangele tentang LPD Desa Adat Kedonganan. Hal ini ditegaskan Puja di sela-sela perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-25 LPD Kedonganan di Balai Banjar Pasek, Kedonganan, Rabu (9/9).

Pararem pangele ini mengacu kepada Pararem LPD Bali tetapi disesuaikan dengan kondisi kami di Kedonganan,” kata Puja.

Laporan Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra dalam perayaan HUT ke-25 (Selae Tiban) LPD Kedonganan, 9 September 2015 di Balai Banjar Pasek.
Puja menyatakan pihaknya memang merencanakan revisi awig-awig sehingga nanti bisa ditegaskan LPD sebagai duwe (hak milik) desa adat. Namun, merevisi awig-awig itu butuh waktu panjang. Karena penegasan LPD sebagai duwe desa adat ini mendesak sebagai amanat UU LKM, maka pihaknya memandang perlu dan tepat membuat pararem pangele desa adat tentang LPD.

Sebelumnya Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mendorong agar Desa Adat Kedonganan secepatnya menyusun Pararem Pangele Desa Adat Kedonganan tentang LPD. Selain menjadi amanat UU dan tindak lanjut Keputusan Paruman Agung III MDP Bali, pararem pangele juga memperkuat posisi LPD sebagai duwe desa adat.

Tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig menyatakan masyarakat Bali harus bersyukur karena LPD diakui Negara sekaligus diberi keleluasaan mengatur dirinya sendiri berdasarkan hukum adat. Itu berarti LPD tetap menjadi milik masyarakat adat Bali dan leluasa mengembangkan diri untuk kepentingan menjaga adat dan budaya masyarakat Bali. Pensiunan polisi yang kini menjadi praktisi hukum itu pun menyatakan siap membantu penyusunan pararem pangele tentang LPD Kedonganan. (*)

Rabu, 09 September 2015

"Selae Tiban" LPD Kedonganan, Krama Diingatkan Jangan Terlena

Usia 25 tahun bagi sebuah lembaga keuangan merupakan momentum yang sangat penting. Ibarat manusia, usia 25 tahun merupakan tahapan memasuki usia dewasa. Memang, di usia seperempat abad atau selae tiban itu, LPD Kedonganan telah berkembang pesat hingga menyebabkan munculnya rasa nyaman di kalangan pengurus LPD, prajuru desa dan krama desa. Rasa nyaman ini bisa menjadi berbahaya jika tidak disikapi dengan baik dan tepat. 

Hal ini ditegaskan Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., saat menyampaikan laporan dalam perayaan HUT ke-25 LPD Desa Adat Kedonganan di Balai Banjar Pasek, Kedonganan, Rabu, 9 September 2015 malam. 



"Memang, aset LPD Kedonganan kini sudah mencapai Rp 261 miliar. Tapi, kita jangan terlena. Justru, tantangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di Desa Adat Kedonganan di usia 25 tahun semakin berat," kata Madra.

Madra menunjukkan persaingan ketat dengan berbagai lembaga keuangan umum di Kedonganan, seperti koperasi, bank perkreditan rakyat (BPR) dan bahkan bank umum sudah mulai masuk ke Kedonganan. Untuk menjaga eksistensi dan manfaat LPD Kedonganan bagi desa adat dan krama desa, dibutuhkan kekompakan tiga komponen utama, yakni prajuru desa, pengurus LPD dan krama desa.

"Saya mengamati, selama ini kejadian LPD bangkrut di Bali karena tiga komponen ini tidak kompak. Kita di Kedonganan bersyukur masih tetap kompak dan ini harus terus dijaga dan dikuatkan," kata Madra. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., mengapresiasi capaian LPD Kedonganan di usia 25 tahun. Dia berharap agar apa yang diraih LPD Kedonganan saat ini bisa terus ditingkatkan, terutama peran dan fungsinya sebagai penyangga agama, adat dan budaya Bali di Desa Adat Kedonganan. 

"LPD ini harus dijaga karena merupakan benteng utama menjaga agama, adat dan budaya Bali," tandas Puja. 

Tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig mengaku bangga sebagai krama Desa Adat Kedonganan. Pasalnya, karena LPD, Desa Adat Kedonganan kini telah mengalami kemajuan yang pesat jika dibandingkan 25 tahun lalu. Bahkan, LPD membuat nama Kedonganan dikenal di daerah lain. 

"Berkat LPD, kini pembangunan pura tanpa memungut iuran krama. Krama yang kurang mampu tetapi otaknya bagus, bisa sekolah karena dibantu LPD. Begitu juga krama yang mengalami keterbatasan fisik selalu mendapat bantuan dari LPD," tegas Made Ritig. 

Perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan dihadiri para tokoh dan krama Desa Adat Kedonganan. Pada acara perayaan ini juga diserahkan penghargaan kepada para tokoh masyarakat yang menjadi perintis pendirian LPD Kedonganan dan pengembang LPD Kedonganan. Selain itu, juga diserahkan secara simbolis bantuan kepada siswa dari kekuarga kurang mampu, krama disabilitas dan para pemenang lomba serta penghargaan kepada karyawan dengan masa kerja 15 tahun. Di akhir acara dilaksanakan acara potong tumpeng oleh Kepala LPD dan Bendesa Adat Kedonganan.

Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan perayaan HUT dilaksanakan sepanjang tahun 2015 dengan berbagai jenis kegiatan pokok, meliputi bidang parhyangan, pawongan dan palemahan. Berbagai rangkaian kegiatan itu telah digelar sejak Mei 2015 lalu dan akan berakhir pada 27 Desember 2015 sebagai puncak acara. (*)

Sabtu, 22 Agustus 2015

ST Banjar Kerthayasa Juarai Lomba Wirausaha Muda

Sekaa Teruna (ST) Banjar Kerthayasa menjuarai Lomba Wirausaha Muda serangkaian HUT ke-25 LPD Kedonganan, Sabtu, 22 Agustus 2015 lalu. Dengan proposal usaha tentang Bakso Lemuru, ST Banjar Kerthayasa berhasil meyakinkan tim juri yang dipimpin Guru Besar Ekonomi Undiknas, Prof. Dr. IB Raka Suardana.

Juara II diraih ST Banjar Pasek dengan proposal usaha produk dendeng Lucyfood. Sementara juara III disabet ST Banjar Pengenderan dengan proposal usaha kerajinan parcel.

Peserta Lomba Wirausaha Muda LPD Kedonganan berpose bersama Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra dan tim juri.
Lomba Wirausaha Muda digelar LPD Kedonganan sebagai upaya mendorong tumbuhnya wirausaha muda di Desa Adat Kedonganan. Sebelumnya, LPD juga sudah menggelar Temu Wirausaha Muda sebagai media berbagi pengalaman berwirausaha yang diharapkan dapat merangsang tumbuhnya minat generasi muda Kedonganan menjadi wirausahawan.

Peserta Lomba Wirausaha Muda berasal dari ST di enam banjar se-Desa Adat Kedonganan. Mereka membuat proposal kegiatan usaha yang kreatif dan produktif. Proposal dipresentasikan di hadapan tim juri.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menyatakan pihaknya akan mengarahkan para pemenang lomba untuk benar-benar menekuni bisnis secara nyata. “Bila perlu dibuatkan badan usahanya dan kami dari LPD Kedonganan siap untuk mem-back up dari sisi pendanaan. Dengan demikian, akan tumbuh wirausaha-wirausaha muda yang menjaga keberlangsungan perekonomian di desa adat Kedonganan,” tegas Madra.

Madra mengatakan kegiatan membangun semangat kewirausahaan di kalangan ST sudah menjadi komitmen LPD sejak lama. Program ini dilakukan tiap ulang tahun dengan memberikan bonus dan hadiah kepada para pemuda yang proposal bisnisnya menjadi pemenang. Dengan demikian, selain berani menumbuhkan ide-ide cerdas dalam sektor ekonomi, para pemuda pun sejak dini diajarkan untuk terus mencintai LPD sebagai lembaga komunitas yang juga menjadi milik mereka.

Raka Suardana mengapresiasi langkah LPD Kedonganan yang secara konsisten menggelar berbagai upaya membangkitkan semangat kewirausahaan anak-anak muda terutama dari kalangan ST. Hal ini sesuai dengan komitmen LPD sebagai lembaga keuangan komunitas adat di Bali yang mengemban misi menjaga budaya Bali melalui penguatan sektor perekonomian masyarakat adat.

Dia pun menyatakan bangga dengan ide-ide rencana bisnis yang disuguhkan anak-anak muda Kedonganan dalam lomba wirausaha muda itu. Para pemuda setempat dinilai mampu mengangkat nilai dan cirri khas Kedonganan sebagai kampung seafood, sehingga produk olahan dari ikan menjadi ciri khas desa Kedonganan.

“Mudah-mudahan ke depannya LPD tidak berhenti sampai di sini, dan terus berlanjut membangun dan menjadi motivator perekonomian masyarakat yang dimulai dari anak-anak mudanya,” tegasnya. 


(*)

Selasa, 21 Juli 2015

Menyelami Proses Penciptaan Dunia, Memetik Anugerah Sang Pencipta

Memaknai Upacara Mapaselang dan Mapadhanan


Puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan, Selasa (21/7) berlangsung khidmat. Sejak pagi, ribuan krama Desa Adat Kedonganan berpakaian serbaputih memenuhi areal Pura Dalem. Saking membludaknya, krama yang ngaturang muspa mesti rela melakukannya dari jaba pura.

Setelah upacara ngenteg linggih ngingkup utama di Pura Dalem dan Pura Mrajapati yang dimulai pukul 08.00, tibalah prosesi puncak yang dinanti-nanti. Ritual ini bernama Mapaselang dan Mapadhanan.

Prosesi Mapaselang
Mapaselang ditandai dengan prosesi diturunkannya seluruh pratima dan pelawatan Ida Batara dari bale pangaruman menuju bale paselang, sebuah bale khusus yang merupakan nyasa (simbol atau lambang) Sang Hyang Purusa-Pradhana (Semara-Ratih) menciptakan bumi beserta segala isinya. Untuk menuju bale paselang, seluruh pratima dan pelawatan mesti menyusuri jalur khusus (lantaran) yang dilapisi kain putih panjang. Sebelum tiba di bale paselang, seluruh palawatan dan pratima itu mesti menyentuh sesaji khusus yang diatasnya dilapisi kulit dan kepala kerbau serta menapaki tangga tebu ratu. Prosesi ini kerap disebut matiti-mamah.

Setelah seluruh pratima dan pelawatan berkumpul di bale paselang, sulinggih yajamana karya membacakan lontar Pajejiwan, teks berbahasa Kawi yang menjelaskan proses penciptaan dunia.

Usai ritual Majejiwan, seluruh pratima dan pelawatan tedun ke bale panggungan di jaba tengah pura. Dari sini lantas seluruh palawatan dan pratima kembali diusung menuju bale padanan di madya mandala. Di sinilah kemudian dilakukan prosesi Mapadhanan. Krama desa mendekat memperebutkan berbagai barang yang tersedia di bale pedhanan. Agar tidak ricuh, panitia berkreasi dengan melemparkan amplop ke kerumunan warga. Tiap amplop berisi nomor yang bisa ditukarkan dengan benda-benda yang tersedia di bale padhanan.

Prosesi Mapadhanan

Yajamana Karya, Ida Pedanda Putra Telaga menjelaskan ritual Mapeselang dan Mapadhanan memang menjadi prosesi inti dalam Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan dalam tingkatan utama. Mapeselang bermakna turunnya Ida Bhatara untuk menciptakan kembali dunia beserta segala isinya. Sesudahnya, dalam prosesi Mapadhanan, Ida Batara mapaica dhana (memberikan anugerah) kepada seluruh umat.

“Upacara ini memang mengajak umat menyelami proses penciptaan kembali dunia menuju lembaran hidup baru yang lebih baik. Karena itu, setelah puncak karya, nanti akan disusul dengan upacara Makebat Daun. Makna Makebat Daun, membuka lembaran baru dalam hidup. Jadi, setelah karya ini, krama Desa Adat Kedonganan mesti membuka lembaran hidup yang baru, lebih baik dari kemarin dan hari ini,” papar Ida Pedanda.

Sejumlah krama yang mendapatkan amplop pun terlihat girang. Mereka pun menukarkan amplop-amplop itu ke prajuru yang bertugas di bale padhanan. Ada yang mendapatkan gayung, kuali, panci, palu dan berbagai barang lainnya.

Prosesi Mapaselang dan Mapadhanan berlangsung hingga pukul 13.00. Sore hari dilanjutkan dengan melaksanakan prosesi Pangilen-ilen (lokacara) pamangku.


Manggala Karya, I Ketut Madra berharap krama Desa Adat Kedonganan memahami dan memaknai karya ini sepenuh hati. Dengan begitu, biaya besar yang dikeluarkan dengan tulus ikhlas dan rasa bhakti bisa menjadi yadnya yang satwika (suci). (*)

Hari Ini, Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Hari ini, Selasa, 21 Juli 2015, bertepatan dengan Anggara Umanis wuku Kuningan, dilaksanakan puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Prosesi puncak karya dimulai pukul 08.00 dan di-puput delapan sulinggih

Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M., menjelaskan prosesi upacara dimulai pukul 08.00 di Pura Dalem Kahyangan berupa Ngenteg Linggih Ngingkup Utama dengan sarana upakara nyatur muka serta di Pura Mrajapati berupa ngenteg linggih dengan sarana upakara nyatur rebah. Upacara di Pura Dalem Kahyangan di-puput tiga orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Bajing, Ida Pedanda Sari Arimbawa, dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri. Upacara di Pura Mrajapati di-puput Ida Pedanda Oka Timbul.

(Foto: Mahendra De Winatha)

Sekitar pukul 11.00 dilanjutkan dengan upacara Mapeselang dengan sarana upakara nyatur rebah malantaran kebo di Pura Dalem. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Putra Telaga dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa. 

Upacara Ida Bhatara Tedun ke Paselang adalah yasa patemon Hyang Widhi dalam prabawa Semara-Ratih, untuk menciptakan dunia ini dengan segenap prabawa-Nya.Upacara ini sebagai wujud cinta kasih Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk jenis ciptaan-Nya, yang menyebabkan manusia hidup dengan makmur dan sejahtera. Dewa Semara Ratih  (Kamajaya-Kamaratih) dipuja dengan warna yang serba kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara ini juga menyimbolkan bhakti disambut asih dari Hyang Widhi Wasa sebagai jiwa seluruh alam dan sebagai sumber kehidupan di Tri Bhuwana ini. Jiwa kita ini pun adalah pinjaman dari Hyang Widhi Wasa.

Upacara Mapeselang ini adalah lambang bertemunya Hyang Widhi Wasa dengan umat manusia, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta kasih. Cinta kasih Hyang Widhi Wasa kepada umat-Nya telah terbukti dalam bentuk pencipta dunia beserta isinya, dengan kekuatan-kekuatan sucinya mengatur dunia ini. Beliau menciptakan gunung, laut, danau, hutan, sawah, ladang, matahari, segala materi yang berharga serta semuanya merupakan kekuatan kehidupan manusia. Inilah bentuk cinta kasih Tuhan untuk umat manusia.

Dalam upacara “Mapeselang” Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam wujud Purusa Predana sebagai Dewa Semara Ratih, lambang dewa Cinta kasih.

Saat upacara Mapeselang inilah dilaksanakan prosesi Majejiwan, yakni pembacaan lontar Pajejiwan oleh sulinggih. Dalam teks Pajejiwan itu jelas sekali diungkapkan adisrsti (ciptaan mulia) Hyang Widhi, nresti alam raya ini dengan komponen-komponennya, sehingga umat manusia dan makhluk lainnya menjadi makmur, sejahtera dan bahagia dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.

Dalam teks Pajejiwan disebutkan, di samping Hyang Widhi menciptakan alam raya ini dengan langit, matahari, bulan dan bintang, juga diciptakan gunung, danau, sungai dan segara (laut). Termasuk menciptakan tarulata, gulma, sthawara dan jenggama serta berbagai ciptaan mulia (adisrsti) lainnya.

Sarana upakara yang digunakan yakni nyatur rebah dengan lantaran kerbau. Karya Agung padudusan AgungNgenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan menggunakan seekor kerbau yos brana. Kerbau jenis ini dalam bahasa Latin diberi nama Bubalus bubalis. Kerbau yos brana adalah kerbau piaraan yang dihasilkan dari perkawinan kerbau jantan (kulit dan bulunya berwarna hitam) dengan kerbau betina (kulit dan bulunya berwarna putih). Ciri khas kerbau yos brana adalah kulit berwarna hitam, bulu berwarna putih.

Pukul 15.00 dilaksanakan upacara Mapadhanan di Pura Dalem dengan sarana upakara nyatur rebah caru ngempong asu. Upacara ini di-puput dua orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putraka Timbul dan Ida Pedanda Anom Timbul. 

Upacara Mapedhanan dilaksanakan dengan cara berjalan beramai-ramai merebut benda-benda di  PedananPedhanan merupakan nyasa prakertti/kehidupan. Pedhanan juga merupakan lambang untuk melepaskan diri pribadi dari sifat-sifat yang tidak baik. Segala sifat tidak baik, itu disalurkan ke dalam upacara dengan benda-benda di Pedanan. Diharapkan sifat-sifat yang negatif yang melekat pada diri pribadi masing-masing hilang lenyap sehingga manusia menjadi suci ikhlas, tidak serakah.

Prosesi puncak acara diakhiri dengan parikrama pangilen-ilen (lokacara) pamangku sekitar pukul 19.00. 

Ketut Madra berharap seluruh krama Desa Adat Kedonganan tedun untuk menyukseskan puncak karya. Menurut Madra, Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan sesungguhnya sebagai upaya mapahayu parhyangan untuk mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)



Minggu, 19 Juli 2015

Sejarah Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan

Tidak mudah melacak kapan Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan berdiri. Namun, dapat diduga, Pura Dalem Kahyangan ini berusia sezaman dengan pendirian Desa Adat Kedonganan.

Awalnya, Pura Dalem Kahyangan terpisah dengan daratan. Hal ini dikarenakan areal pura di pantai timur dikelilingi oleh rawa-rawa. Warga sering menyebut Pura Dalem Kahyangan sebagai pura di tengah laut. Untuk mencapai pura ini warga harus melintasi sebuah jembatan bambu, terutama jika air laut sedang pasang.

Kondisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan tahun 1992 (Foto: Dokumentasi Ketut Madra)

Hingga akhir tahun 1990-an, kondisi Pura Dalem Kahyangan sungguh memprihatinkan. Atap palinggih pura banyak yang bocor, dinding pura pun mulai rapuh karena dekat dengan pantai. Kondisi pura yang kurang representatif membuat krama merasa miris.

Pada tahun 1992, paruman desa yang dipimpin Bendesa Adat Kedonganan kala itu, I Gede Berata memutuskan memugar Pura Dalem Kahyangan. Namun, pemugaran tidak mudah dilakukan karena sulit membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi pura. Karena itu, dibuatkan jembatan sederhana yang menghubungkan daratan dengan pura. Lama-kelamaan jembatan ini diuruk sehingga antara daratan dan lokasi pura pun terhubung, menyatu dengan daratan. Kini, krama sudah mudah mengakses lokasi pura.

Tantangan lain yang dihadapi untuk memugar Pura Dalem Kahyangan tentu saja aspek biaya. Ketika itu, kondisi perekonomian desa maupun krama desa masih kurang memprihatinkan. Sebagian besar warga Kedonganan berprofesi sebagai nelayan dengan pendapatan yang sangat minim. Sementara pembangunan Pura  Dalem Kahyangan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta.

Melihat kenyataan itu, prajuru Desa Adat Kedonganan membentuk panitia pembangunan pura yang diketuai salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig. Ketika itu, Desa Adat Kedonganan baru dua tahun memiliki sebuah lembaga keuangan milik desa adat bernama Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan. Sebagai wadah kekayaan desa adat, LPD Kedonganan pun dilibatkan sebagai pengelola dana. Karena itu, Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra didudukkan sebagai bendahara panitia. Sinergi antara panitia dan pengurus LPD pun terjalin.


Untuk mendapatkan dana awal, prajuru desa dan panitia pembangunan pura mendorong krama desa, terutama yang mampu secara ekonomi, untuk mapunia. Tiap-tiap krama desa yang mampu mapunia Rp 60.000. Punia itu pun dicicil selama setahun atau Rp 5.000 per bulan. Dari dana iuran ini terkumpul dana sekitar Rp 60 juta. Dana inilah yang dijadikan modal awal untuk melaksanakan pemugaran pura. Dengan adanya modal awal ini, para pemborong menjadi percaya dengan kemampuan panitia untuk merampungkan pemugaran dan krama pun yakin pemugaran bisa diselesaikan.

Selanjutnya panitia menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dana pembangunan pura, seperti mengadakan bazar dan terus mendorong dana punia, terutama dari krama yang memiliki usaha. Sejumlah krama desa yang memiliki usaha toko bahan bangunan, selain turut mapunia juga memberikan keleluasaan sistem pembayaran bahan bangunan bagi panitia. Krama desa juga bahu-membahu ikut terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan pura. Akhirnya, Pura Dalem Kahyangan bisa dirampungkan.

Berkat kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini pula, tumbuh kepercayaan diri krama Desa Adat Kedonganan untuk membangun desanya menjadi lebih baik. Bahkan, kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini berdampak pada perkembangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan milik Desa Adat Kedonganan.

Pada tahun 2015, Pura Dalem Kahyangan kembali direnovasi. Namun, renovasi dilakukan dalam tingkatan ringan. Hal ini dikarenakan usia pura yang sudah mencapai 23 tahun sejak dipugar total tahun 1993 silam. Ada beberapa alasan renovasi ringan terhadap Pura Dalem Kahyangan. Pertama, kondisi fisik pura yang sudah dipandang perlu untuk diperbaiki. Kedua, umur padagingan di pura pada tahun 2015 sudah mencapai 23 tahun dan sudah saatnya dilaksanakan karya mupuk mapadagingan. Ketiga, sebagai bagian dari persiapan nyanggra karya padudusan.

Setelah berkonsultasi dengan sulinggih dan merujuk sumber-sumber sastra agama Hindu, paruman Desa Adat Kedonganan memutuskan menggelar Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan.