Selasa, 20 Mei 2014

Makna Penampahan Galungan dan Tradisi Mapatung

Hari Penampahan Galungan yang jatuh sehari menjelang hari raya Galungan biasanya ditandai dengan tradisi mapatung atau mebat. Pada hari itu, umat Hindu menyembelih babi lalu memasaknya menjadi aneka olahan makanan khas Bali: lawar, sate, komoh dan lainnya. 

Di Desa Adat Kedonganan, tradisi mapatung dan mebat di hari Penampahan Galungan memang tidak lagi sesemarak di masa lalu. Namun kini, setelah LPD Desa Adat Kedonganan secara rutin memberikan daging babi gratis plus uang bumbu kepada krama Desa Adat Kedonganan saat hari Penyajaan Galungan, tradisi mapatung atau mebat itu kembali hidup. 

Mantan Bendesa Adat Kedonganan yang juga Panglingsir Desa Adat Kedonganan, I Ketut Mudra, S.Ag., mengungkapkan hari Penampahan Galungan memiliki makna menyomyakan (menetralisir) segala kekuatan buruk, baik di dalam diri maupun di luar diri. Hal ini disimbolkan dengan kegiatan penyembelihan babi sebagai lambang kekuatan buruk atau sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia.

I Ketut Mudra
"Umat Hindu bukan mengusir kekuatan buruk atau energi negatif, tetapi menetralisirnya agar meningkat kualitasnya menjadi kekuatan baik atau energi positif. Ini yang dalam konsep Hindu disebut nyomya," kata Mudra di sela-sela pembagian daging babi di jaba Pura Bale Agung Desa Adat Kedonganan, Senin (19/5). 

Itu sebabnya, Mudra tetap mengajak masyarakat Kedonganan menghidupkan tradisi mapatung saban Galungan. Tradisi itu, kata Mudra, bukan sekadar masak-masak atau berfoya-foya. Di balik tradisi itu terselip makna menyomyakan kekuatan negatif dalam diri dan di luar diri. 

Tradisi mapatung, imbuh Mudra, juga sebentuk upaya menghidupkan energi positif. Tradisi mapatung ditandai dengan kebersamaan atau kegotongroyongan di antara krama. Ketika krama berkumpul melaksanakan kegiatan untuk tujuan bersama, secara otomatis akan menghidupkan energi positif. 

"Tradisi mapatung atau mebat itu menyatukan segala perbedaan membentuk keharmonisan. Secara nyata, orang mapatung atau mebat itu harus bersama-sama. Begitu juga secara simbolik itu bisa dilihat dari apa yang dihasilkan dalam mapatung, seperti lawar dan lainnya itu adalah perpaduan antara berbagai unsur dalam kehidupan. Itu menyatu membentuk rasa terbaik," tandas Mudra yang juga guru agama Hindu ini.

Hal senada juga juga diungkapkan pakar hukum adat Bali, Prof. Dr. I Wayan P. WIndia, S.U. Seperti dilansir balisaja.com, Windia menyatakan tradisi mapatung memperkuat ikatan sosial di antara krama. Pasalnya, dalam tradisi itu, krama bisa saling berbagi rasa. Selain itu, bila mapatung, krama bisa mendapatkan bagian-bagian dari babi secara lengkap.  (*)

0 komentar:

Posting Komentar