Senin, 19 Mei 2014

Krama Desa Sumringah Terima Daging Babi, Krama Tamiu Juga Dapat Bagian

Krama Desa Adat Kedonganan sumringah menyambut pembagian hadiah Galungan berupa be celeng (daging babi) gratis dari LPD Desa Adat Kedonganan, Senin (19/5) kemarin. Sejak pukul 07.00 Wita, krama Desa Adat Kedonganan sudah berkumpul di jaba Pura Bale Agung yang juga menjadi pelataran gedung LPD Desa Adat Kedonganan. Mereka mengenakan pakaian adat madya.

Para kelian banjar menerima secara simbolis daging babi dari Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M.

Kali ini, pembagian daging babi gratis kembali dilaksanakan secara terpusat di depan gedung LPD Kedonganan seperti saat awal program ini diluncurkan pada tahun 2012 lalu. Beberapa kali pembagian daging babi sempat disebar di masing-masing banjar.

"Kali ini kembali kami laksanakan secara terpusat di jaba Pura Bale Agung sekaligus di halaman gedung LPD Kedonganan untuk mengukuhkan kembali kebersamaan di antara seluruh krama desa. LPD ini milik krama desa adat, dan salah satu prinsip dasar adat Bali itu kebersamaan, kekeluargaan dan kegotong-royongan," kata Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 

Daging babi yang dibagikan seberat 3 kg per kepala keluarga. Jumlah kepala keluarga penerima daging babi tercatat 1.800 orang. Itu berarti total daging babi yang dibagikan mencapai sekitar 6 ton. Selain daging babi, setiap KK juga mendapat uang bumbu senilai Rp 50.000. Total uang bumbu yang dibagikan Rp 90 juta. 

Krama desa penerima daging babi disyaratkan memiliki saldo minimal mengendap di LPD Kedonganan serendah-rendahnya Rp 200.000. Yang menarik, selain krama desa, krama tamiu (penduduk pendatang beragama Hindu dan tercatat serta diakui sebagai krama tamiu di Desa Adat Kedonganan) juga ikut mendapat bagian daging babi ini. Namun, mereka harus memenuhi syarat sebagai nasabah LPD Kedonganan dengan saldo minimal serendah-rendahnya Rp 5.000.000. 

"Syarat saldo terendah antara krama desa dan krama tamiu memang berbeda. Kalau krama desa memang secara otomatis merupakan bagian dari pemilik LPD, sehingga wajar mendapat perlakuan khusus. Sedangkan krama tamiu kami ajak juga berbagi karena mereka, meskipun bukan krama desa utama, mereka selama ini kami ajak ikut bersama-sama membangun Desa Adat Kedonganan ini melalui LPD," kata Madra.

Sejumlah warga mengaku senang karena LPD Kedonganan tetap bisa memberikan hadiah daging babi gratis secara rutin saban hari raya Galungan. Bahkan, sejak setahun terakhir, selain hadiah daging babi gratis juga diberikan uang bumbu.

Salah seorang krama Desa Adat Kedonganan, I Made Sukra mengatakan program ini telah dirasakan masyarakat Kedonganan. Sukra menyebut program ini sebagai upaya melestarikan tradisi mapatung di tengah derasnya nilai-nilai baru yang menggerus adat dan budaya Bali. "Sebagai krama, saya sangat menyambut baik dan berterima kasih karena LPD membuat program seperti ini. Selain kami sebagai warga diringankan, kami juga bisa mapatung di rumah. Galungan tanpa mapatung rasanya kurang afdol," kata Sukra. 

Hal senada diungkapkan tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig. Program pembagian daging babi gratis bagi krama desa ini secara perlahan akan menghidupkan kembali tradisi mapatung di Kedonganan. Dulu, tradisi ini begitu dekat dengan masyarakat Kedonganan setiap menjelang Galungan. Belakangan, menyusul larangan mengkomsumsi daging penyu, tradisi itu berangsur pudar. 

"Di sisi lain, secara sosial, program ini memperkuat ikatan kebersamaan krama. Secara ekonomi pula ini bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan terutama dalam bidang peternskan daging babi," kata Ritig. 

Madra mengakui salah satu sasaran program pembagian daging babi saban Galungan ini adalah menggerakkan ekonomi kerakyatan di bidang peternakan babi. Jika selama ini, persediaan daging babi untuk program ini sepenuhnya didatangkan dari luar,terutama Kapal dan Ubud, kini sudah ada unsur masyarakat Kedonganan yang terlibat. 

"Bahkan, yang membanggakan, yang terlibat itu adalah generasi muda. Ada anak muda Kedonganan yang ikut mensuplai daging babi dalam program ini. Anak muda ini punya usaha peternakan babi di luar Kedonganan. Ke depan kami harap akan ada lagi anak-anak muda Kedonganan bisa semakin banyak yang terlibat. Meskipun belum bisa sepenuhnya, tapi paling tidak bisa bekerja sama dengan semeton krama Bali di luar Kedonganan," kata Madra. (*)

0 komentar:

Posting Komentar