Senin, 07 April 2014

Anak Muda Bali Jangan Takut Jadi Pengusaha

Seminar Bisnis “Bali Young Entrepreneur” di LPD Kedonganan 

Anak-anak muda Bali jangan takut menjadi pengusaha. Untuk menjadi pengusaha, yang terpenting bukanlah modal uang, tetapi kemauan yang kuat untuk memiliki usaha. Modal yang justru lebih penting adalah jejaring (networking).



Hal ini terungkap dalam seminar seminar bisnis yang digelar Forum Bali Young Entrepenur di ruang pertemuan gedung LPD Desa Adat Kedonganan, Minggu, 6 April 2013. Seminar bertajuk “Bali Young Entrepreneur, Why Not” itu didukung  LPD Desa Adat Kedonganan, Bank Permata Sedana dan Koperasi Tri Guna Artha.

“Kita mungkin tidak punya uang untuk memulai usaha, tapi kalau kita punya kemampuan dan jejaring, kita bisa mendapatkan modal dari orang lain,” kata Ketua Forum Bali Young Entrepreneur, GP Wirasaputra.

Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., yang diminta turut member motivasi para peserta seminar mengatakan rasa salut kepada anak-anak muda Bali yang tergabung dalam Forum Bali Young Entrepreneur. Penggunaan nama Bali dalam forum itu dinilai Madra menunjukkan ada kebanggaan atas potensi kebaliannya sekaligus bisa memanfaatkan peluang yang ada.

“Kita bangkitkan jiwa-jiwa pebisnis muda Bali. Jangan hanya berhenti di sini, tapi berkelanjutan,” kata Madra.

Madra juga mendorong anggota Forum Bali Young Entrepreneur untuk tidak hanya berpikir mengembangkan bisnis pribadi, tetapi juga turut membangun lingkungan, terutama di desa asal masing-masing. Menurut Madra, Bali tidak hanya bisa tumbuh dari kota besar tetapi dari desa adat. LPD yang ada di masing-masing desa adat di Bali, menurut Madra, bisa dijadikan mitra untuk menumbuhkan para pebisnis muda Bali.

Madra mencontohkan Kedonganan. Dulu banyak yang tidak tahu Kedonganan. Tapi, melalui para pemudanya yang menggerakkan LPD, Kedonganan bisa turut memetik kemajuan ekonomi. Kini, hampir seluruh warga Desa Adat Kedonganan menjadi pebisnis karena setiap warga memiliki saham dalam usaha warung ikan bakar (kafe sea food) di Pantai Kedonganan.

“Warung-warung ikan bakar itu menjadi milik bersama. Melalui LPD kami bangun ekonomi kerakyatan dan jiwa entrepreneurship warga. Kini setiap warga Kedonganan mendapatkan passive income rata-rata Rp 700.000 per bulan dari warung-warung ikan bakar itu,” kata Madra.

Wirasaputra menyampaikan terima kasih kepada LPD Kedonganan yang telah mendukung kegiatan Forum Bali Young Entrepreneur. Seminar ini, kata Wirasaputra, merupakan program pertama forum ini.Bali Young Entrepreneur baru terbentuk Oktober 2013 dan secara resmi berakta notaris pada Desember 2013.

Anggota Bali Young Entrepreneur kini baru 30 orang yang berasal dari seluruh Bali. Hampir semua anggota memiliki bisnis sendiri atau melanjutkan bisnis milik orang tua. Namun ada juga yang berstatus pegawai tetapi memiliki jiwa entrepeneurship.

Ide terbentuknya Bali Young Entrepreneur diawali dari ngobrol-ngobrol di facebook. “Kami sepakat membentuk wadah untuk berkomunikasi atau pun bertukar informasi bagaimana menjadi pebisnis muda,” kata Wirasaputra didampingi Ni Made Devi Wijayanti, pengurus Forum Bali Young Entrepeneur yang juga warga Desa Adat Kedonganan.

Seminar bisnis Bali Young Entrepreneur menghadirkan sejumlah pembicara, seperti Ketua Jaringan Pengusaha Hindu Indonesia (JAPHA) yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unud, Sayu Ketut Sutrisna Dewi, pemilik Elizabeth International School, Nyoman Sukadana serta pemilik Coco Grup, Nengah Natya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar