Jumat, 23 Agustus 2013

Menyiapkan Generasi Muda Penjaga Adat dan Budaya Bali

Dari Ajang Lomba Seni dan Budaya HUT ke-23 LPD Kedonganan 

Lomba membuat klakat
KUNCI keberlangsungan adat, budaya dan agama Hindu di kalangan masyarakat Bali ditentukan oleh generasi muda. Merekalah generasi pelanjut yang akan mengemban tanggung jawab menjaga dan mempertahankan adat, budaya dan agama masyarakat Bali.

Sebagai lembaga keuangan komunitas adat Bali, LPD berkewajiban ikut menyiapkan generasi muda agar bisa menjadi penjaga adat, budaya dan agamanya. Hal itu pula yang mendasari LPD Desa Adat Kedonganan dalam perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-23 yang jatuh pada 9 September mendatang memfokuskan kegiatannya pada aktivitas yang melibatkan generasi muda secara aktif dalam menjalankan tanggung jawabnya bagi masa depan Desa Adat Kedonganan. Berbagai kegiatan lomba yang digelar diarahkan untuk melahirkan generasi cerdas, sehat dan sadar budaya.


Lomba berbusana ke pura (laki-laki)

Ketua Panitia HUT ke-23 LPD Desa Adat Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan sebagian besar kegiatan HUT memang melibatkan generasi muda. Kegiatan yang digelar di antaranya untuk bidang pendidikan berupa tes beasiswa prestasi serta lomba cerdas cermat yang diikuti anak-anak SD se-Kelurahan Kedonganan. Selain itu diserahkan juga beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dalam bidang sosial, LPD kembali melaksanakan program rutin tiap tahun, yakni pemberian santunan kepada krama yang mengalami cacat fisik serta pemberian tali kasih kepada para mantan prajuru dan pengurus desa.

Untuk bidang olahraga digelar pertandingan sepak bola, bulutangkis dan bola voli. Sementara di bidang seni digelar lomba membuat klakat, lomba memakai busana adat ke pura, dan lomba membuat canang sari antarsiswa SD se-Desa Adat Kedonganan. Ada juga lomba membuat penjor, sampian penjor dan sanggah cucuk serta lomba kendang tunggal dan tari jauk manis antar-sekaa teruna se-Desa Adat Kedonganan yang digelar pada Jumat, 23 Agustus 2013 lalu.
Lomba berbusana ke pura (perempuan)

Perlombaan di bidang seni dan budaya mendapat perhatian istimewa. Pasalnya, lomba yang digelar merupakan keterampilan dasar sebagai generasi penjaga adat dan budaya Bali.

“Kami ingin anak-anak di Kedonganan tahu dan bisa mempraktikkan berbagai atribut yang berhubungan dengan adat, budaya dan tradisi kita di Bali,” kata Suriawan.

Lomba membuat canang sari
Suriawan mencontohkan lomba berbusana adat ke pura menggunakan model praktik langsung di lapangan. Artinya, anak-anak peserta lomba langsung mengenakan pakaian adat ke pura, bukan berbusana dari rumah.

Lomba membuat sampian penjor
“Dalam lomba ini anak-anak sekaligus belajar cara berbusana adat ke pura yang benar,” kata Suriawan.

Di tingkat sekaa teruna, dilaksanakan lomba membuat penjor, membuat sampian penjor serta lomba makendang tunggal dan tari jauk manis. Dalam lomba ini diuji kemampuan anak-anak muda Kedonganan membuat salah satu sarana upakara dasar dalam suatu upacara yadnya. Kenyataan dalam lomba menunjukkan generasi muda Kedonganan memiliki kemampuan dan keterampilan mengerjakan berbagai atribut adat dan tradisi Bali.

Lomba membuat sanggah cucuk
Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menyatakan selama ini generasi muda selalu disalahkan ketika berbicara mengenai upaya menjaga adat dan budaya Bali. Padahal, mereka tidak diberi ruang untuk mendalami dan menyelami adat dan budaya mereka.

“Kami di LPD sejak lama selalu memberi ruang generasi muda untuk terlibat aktif sebagai calon pelanjut dan penjaga adat dan budaya Bali. Medianya berupa lomba-lomba maupun kegiatan pendalaman adat melalui pembekalan seperti dalam Sekolah Kauripan Bali yang kami laksanakan tahun lalu,” tandas Madra.

Lomba membuat penjor
Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., menyambut baik lomba-lomba yang berkaitan dengan adat dan budaya Bali yang digelar LPD Kedonganan. Melalui lomba itu, Puja berharap, generasi muda Kedonganan akan memahami adat dan budayanya dengan baik sekaligus bisa mempraktikkannya. 

LPD Kedonganan akan merayakan HUT ke-23 pada 9 September mendatang yang diisi dengan syukuran dan pengundian hadiah. Sehari sebelumnya dilaksanakan jalan santai melibatkan seluruh krama desa dan nasabah. Sementara berbagai lomba digelar sejak sejak 18 Maret 2013. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., membuka lomba.

0 komentar:

Posting Komentar