Kamis, 22 Agustus 2013

LPD Kedonganan Rangkul Pesaing

Bersama-sama Ikuti Diklat Kompetensi dan Uji Sertifikasi II

Sebagai salah satu lembaga keuangan mikro yang mengelola kepercayaan masyarakat di bidang keuangan, Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Kedonganan kembali menggelar pelatihan kompetensi pada Kamis, 22 Agustus 2013 di ruang pertemuan LPD Kedonganan. Menariknya, pelatihan kompetensi tak hanya diikuti pengelola LPD Kedonganan, melainkan menyertakan juga beberapa pengurus  BPR dan empat koperasi yang ada di wilayah Kedonganan.

Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengakui biasanya memang ada pemikiran bahwa BPR dan koperasi adalah pesaing LPD. Namun, menurutnya, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya ada perbedaan di antara ketiganya, terutama dalam hal segmen pasar.

"Mari kita lihat sisi positifnya juga. Intinya setiap usaha butuh kompetitor agar bisa berkreasi dan berinovasi. Jadi, sebenarnya, BPR dan Koperasi bukan pesaing negatif. Bahkan sebenarnya, keberadaannya saling membutuhkan," kata Madra.

Madra menekankan, adanya sertifikasi pengelola LPD membuktikan LPD tidak dikelola secara tradisional semata, melainkan tetap mengadopsi manajemen modern. “Ini sebagai bukti kalau LPD benar-benar berusaha menerapkan manajemen profesional dengan meningkatkan kompetensi para pengelolanya," paparnya seraya berharap kegiatan serupa juga menjadi program di seluruh LPD yang ada di Bali. Dengan begitu LPD benar-benar mampu memberdayakan masyarakat lokal khususnya krama adat. Terlebih, dengan diklat yang diperuntukkan pula bagi karyawan baru, maka akan sekaligus membangun kaderisasi yang siap dalam teori dan praktik pengelolaan LPD.

Khususnya di LPD Kedonganan, sertifikasi kali ini adalah yang kedua kalinya digelar. Untuk angkatan pertama, dilaksanakan di akhir Juni lalu dengan peserta sekitar 30 orang.

Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro Certif, I Nyoman Yudiarsa mengatakan sertifikasi ini pada prinsipnya dapat memberi pengakuan terhadap kompetensi kerja mereka yang terlibat di lembaga keuangan mikro non bank, salah satunya yakni LPD. Adapun manfaat dari proses ini, lanjut Yudiarsa, adalah dapat memberi ukuran kualitas dan daya saing SDM.

"Bila SDM-nya sudah tersertifikasi, jadi ada pengakuan bahwa mereka ini berkompeten di bidang itu. Dengan demikian, tentu proses pelayanan akan menjadi lebih baik. Harapan ke depan LPD dapat semakin dipercaya oleh masyarakat," ungkapnya.

Ditanya mengenai apakah sertifikasi ini sudah dilakukan di seluruh lembaga keuangan mikro non bank khususnya LPD di Badung, Yudiarsa mengaku belum. Namun ditegaskannya, dalam hal ini sudahlah ada pembicaraan dengan pihak terkait. Bahkan, telah terbentuk suatu komitmen agar melaksanakan kegiatan ini di tingkat kabupaten.

"Yang penting, bagaimana edukasi terhadap lembaga keuangan ini tumbuh di masyarakat. Seperti halnya bagaimana memanfaatkan lembaga keuangan, dan kita di lembaga keuangan mampu memberi jasa keuangan pada masyarakat," jelasnya.

Selama ini, kata Yudiarsa, LPD di Bali telah berkembang pesat dengan aset mencapai lebih dari Rp 7 triliun, dan memiliki karakter khusus di Bali yakni mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal. Manajemen di LPD sudah bagus, hanya saja masih terus perlu ditingkatkan kompetensi SDM-nya. (*)


0 komentar:

Posting Komentar