LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan.

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10).

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

LPD Kedonganan menggelar lomba paduan suara antar-PKK se-Desa Adat Kedonganan serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7).

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Jumat, 23 Agustus 2013

Menyiapkan Generasi Muda Penjaga Adat dan Budaya Bali

Dari Ajang Lomba Seni dan Budaya HUT ke-23 LPD Kedonganan 

Lomba membuat klakat
KUNCI keberlangsungan adat, budaya dan agama Hindu di kalangan masyarakat Bali ditentukan oleh generasi muda. Merekalah generasi pelanjut yang akan mengemban tanggung jawab menjaga dan mempertahankan adat, budaya dan agama masyarakat Bali.

Sebagai lembaga keuangan komunitas adat Bali, LPD berkewajiban ikut menyiapkan generasi muda agar bisa menjadi penjaga adat, budaya dan agamanya. Hal itu pula yang mendasari LPD Desa Adat Kedonganan dalam perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-23 yang jatuh pada 9 September mendatang memfokuskan kegiatannya pada aktivitas yang melibatkan generasi muda secara aktif dalam menjalankan tanggung jawabnya bagi masa depan Desa Adat Kedonganan. Berbagai kegiatan lomba yang digelar diarahkan untuk melahirkan generasi cerdas, sehat dan sadar budaya.


Lomba berbusana ke pura (laki-laki)

Ketua Panitia HUT ke-23 LPD Desa Adat Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan sebagian besar kegiatan HUT memang melibatkan generasi muda. Kegiatan yang digelar di antaranya untuk bidang pendidikan berupa tes beasiswa prestasi serta lomba cerdas cermat yang diikuti anak-anak SD se-Kelurahan Kedonganan. Selain itu diserahkan juga beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dalam bidang sosial, LPD kembali melaksanakan program rutin tiap tahun, yakni pemberian santunan kepada krama yang mengalami cacat fisik serta pemberian tali kasih kepada para mantan prajuru dan pengurus desa.

Untuk bidang olahraga digelar pertandingan sepak bola, bulutangkis dan bola voli. Sementara di bidang seni digelar lomba membuat klakat, lomba memakai busana adat ke pura, dan lomba membuat canang sari antarsiswa SD se-Desa Adat Kedonganan. Ada juga lomba membuat penjor, sampian penjor dan sanggah cucuk serta lomba kendang tunggal dan tari jauk manis antar-sekaa teruna se-Desa Adat Kedonganan yang digelar pada Jumat, 23 Agustus 2013 lalu.
Lomba berbusana ke pura (perempuan)

Perlombaan di bidang seni dan budaya mendapat perhatian istimewa. Pasalnya, lomba yang digelar merupakan keterampilan dasar sebagai generasi penjaga adat dan budaya Bali.

“Kami ingin anak-anak di Kedonganan tahu dan bisa mempraktikkan berbagai atribut yang berhubungan dengan adat, budaya dan tradisi kita di Bali,” kata Suriawan.

Lomba membuat canang sari
Suriawan mencontohkan lomba berbusana adat ke pura menggunakan model praktik langsung di lapangan. Artinya, anak-anak peserta lomba langsung mengenakan pakaian adat ke pura, bukan berbusana dari rumah.

Lomba membuat sampian penjor
“Dalam lomba ini anak-anak sekaligus belajar cara berbusana adat ke pura yang benar,” kata Suriawan.

Di tingkat sekaa teruna, dilaksanakan lomba membuat penjor, membuat sampian penjor serta lomba makendang tunggal dan tari jauk manis. Dalam lomba ini diuji kemampuan anak-anak muda Kedonganan membuat salah satu sarana upakara dasar dalam suatu upacara yadnya. Kenyataan dalam lomba menunjukkan generasi muda Kedonganan memiliki kemampuan dan keterampilan mengerjakan berbagai atribut adat dan tradisi Bali.

Lomba membuat sanggah cucuk
Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menyatakan selama ini generasi muda selalu disalahkan ketika berbicara mengenai upaya menjaga adat dan budaya Bali. Padahal, mereka tidak diberi ruang untuk mendalami dan menyelami adat dan budaya mereka.

“Kami di LPD sejak lama selalu memberi ruang generasi muda untuk terlibat aktif sebagai calon pelanjut dan penjaga adat dan budaya Bali. Medianya berupa lomba-lomba maupun kegiatan pendalaman adat melalui pembekalan seperti dalam Sekolah Kauripan Bali yang kami laksanakan tahun lalu,” tandas Madra.

Lomba membuat penjor
Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., menyambut baik lomba-lomba yang berkaitan dengan adat dan budaya Bali yang digelar LPD Kedonganan. Melalui lomba itu, Puja berharap, generasi muda Kedonganan akan memahami adat dan budayanya dengan baik sekaligus bisa mempraktikkannya. 

LPD Kedonganan akan merayakan HUT ke-23 pada 9 September mendatang yang diisi dengan syukuran dan pengundian hadiah. Sehari sebelumnya dilaksanakan jalan santai melibatkan seluruh krama desa dan nasabah. Sementara berbagai lomba digelar sejak sejak 18 Maret 2013. 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag., membuka lomba.

Kamis, 22 Agustus 2013

LPD Kedonganan Rangkul Pesaing

Bersama-sama Ikuti Diklat Kompetensi dan Uji Sertifikasi II

Sebagai salah satu lembaga keuangan mikro yang mengelola kepercayaan masyarakat di bidang keuangan, Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Kedonganan kembali menggelar pelatihan kompetensi pada Kamis, 22 Agustus 2013 di ruang pertemuan LPD Kedonganan. Menariknya, pelatihan kompetensi tak hanya diikuti pengelola LPD Kedonganan, melainkan menyertakan juga beberapa pengurus  BPR dan empat koperasi yang ada di wilayah Kedonganan.

Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra mengakui biasanya memang ada pemikiran bahwa BPR dan koperasi adalah pesaing LPD. Namun, menurutnya, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya ada perbedaan di antara ketiganya, terutama dalam hal segmen pasar.

"Mari kita lihat sisi positifnya juga. Intinya setiap usaha butuh kompetitor agar bisa berkreasi dan berinovasi. Jadi, sebenarnya, BPR dan Koperasi bukan pesaing negatif. Bahkan sebenarnya, keberadaannya saling membutuhkan," kata Madra.

Madra menekankan, adanya sertifikasi pengelola LPD membuktikan LPD tidak dikelola secara tradisional semata, melainkan tetap mengadopsi manajemen modern. “Ini sebagai bukti kalau LPD benar-benar berusaha menerapkan manajemen profesional dengan meningkatkan kompetensi para pengelolanya," paparnya seraya berharap kegiatan serupa juga menjadi program di seluruh LPD yang ada di Bali. Dengan begitu LPD benar-benar mampu memberdayakan masyarakat lokal khususnya krama adat. Terlebih, dengan diklat yang diperuntukkan pula bagi karyawan baru, maka akan sekaligus membangun kaderisasi yang siap dalam teori dan praktik pengelolaan LPD.

Khususnya di LPD Kedonganan, sertifikasi kali ini adalah yang kedua kalinya digelar. Untuk angkatan pertama, dilaksanakan di akhir Juni lalu dengan peserta sekitar 30 orang.

Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro Certif, I Nyoman Yudiarsa mengatakan sertifikasi ini pada prinsipnya dapat memberi pengakuan terhadap kompetensi kerja mereka yang terlibat di lembaga keuangan mikro non bank, salah satunya yakni LPD. Adapun manfaat dari proses ini, lanjut Yudiarsa, adalah dapat memberi ukuran kualitas dan daya saing SDM.

"Bila SDM-nya sudah tersertifikasi, jadi ada pengakuan bahwa mereka ini berkompeten di bidang itu. Dengan demikian, tentu proses pelayanan akan menjadi lebih baik. Harapan ke depan LPD dapat semakin dipercaya oleh masyarakat," ungkapnya.

Ditanya mengenai apakah sertifikasi ini sudah dilakukan di seluruh lembaga keuangan mikro non bank khususnya LPD di Badung, Yudiarsa mengaku belum. Namun ditegaskannya, dalam hal ini sudahlah ada pembicaraan dengan pihak terkait. Bahkan, telah terbentuk suatu komitmen agar melaksanakan kegiatan ini di tingkat kabupaten.

"Yang penting, bagaimana edukasi terhadap lembaga keuangan ini tumbuh di masyarakat. Seperti halnya bagaimana memanfaatkan lembaga keuangan, dan kita di lembaga keuangan mampu memberi jasa keuangan pada masyarakat," jelasnya.

Selama ini, kata Yudiarsa, LPD di Bali telah berkembang pesat dengan aset mencapai lebih dari Rp 7 triliun, dan memiliki karakter khusus di Bali yakni mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal. Manajemen di LPD sudah bagus, hanya saja masih terus perlu ditingkatkan kompetensi SDM-nya. (*)


Minggu, 18 Agustus 2013

LPD Kedonganan Matirtha Yatra ke Bromo

Serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-23, LPD Kedonganan matirtha yatra ke sejumlah pura di Jawa, termasuk ke Gunung Bromo, Jawa Timur pada Jumat-Sabtu, 16-17 Agustus 2013. Tirtha yatra diikuti pengurus dan karyawan LPD, prajuru Desa Adat Kedonganan, para pemangku serta sejumlah tokoh masyarakat Kedonganan. 





Wakil Kepala LPD Kedonganan yang juga Ketua Panitia HUT ke-23, Drs. I Wayan Suriawan menjelaskan tirtha yatra ke luar Bali sudah sering dilaksanakan. Tahun sebelumnya, LPD Kedonganan juga mengadakan kegiatan serupa ke Lombok. Tirtha yatra ke sejumlah pura di Jawa Timur juga sudah pernah dilaksanakan tahun-tahun sebelumnya. Selain ke Jawa Timur, tirtha yatra juga pernah dilaksanakan ke Pura Gunung Salak, Bogor. 

Tujuan matirtha yatra ini, menurut Suriawan, selain memberikan pengalaman spiritual bagi pengurus, karyawan, prajuru desa serta pemangku juga menjalin keakraban di antara komponen terkait di Desa Adat Kedonganan. "Prinsipnya kita membangun kebersamaan di antara pengurus, karyawan, prajuru, pemangku serta krama desa sekaligus menimba pengalaman spiritual," kata Suriawan. 

Selain mengadakan persembahyangan bersama, pihaknya juga menyerahkan dana punia kepada pemangku pura setempat. (*)

Rabu, 07 Agustus 2013

LPD Kedonganan Raih Lima Besar Aset dan Laba Tertinggi

LPD Desa Adat Kedonganan masuk jajaran lima besar LPD peraih aset dan laba tertinggi di Kabupaten Badung pada tahun 2012. Posisi teratas ditempati LPD Desa Adat Kuta dengan aset Rp 307.326.688.000, sedangkan laba yang diraih Rp 11.296.803. LPD Kedonganan membukukan aset Rp 207.520.865.000, sedangkan laba sebesar Rp 6.154.196.000.

Tahun 2011, dari sisi aset LPD Desa Adat Kedonganan juga bertengger di posisi lima besar. Tapi, dari sisi laba, LPD Kedonganan berada di urutan enam besar. Posisi laba tertinggi kelima pada tahun lalu ditempati LPD Desa Adat Bualu.

Tabel 5 Besar LPD Peraih Aset Tertinggi di Kabupaten Badung
(dalam Ribuan Rupiah)

No.
Nama LPD
2009
2010
2011
2012
1.
LPD Kuta
184.925.503
222.978.435
255.246.396
307.326.688
2.
LPD Pecatu
114.239.380
149.684.673
188.595.544
247.909.402
3.
LPD Legian
90.505.276
135.845.848
187.851.915
240.161.086
4.
LPD Jimbaran
109.820.909
138.153.038
177.483.989
222.254.604
5.
LPD Kedonganan
120.873.850
136.019.081
162.478.762
207.520.865

Tabel 5 Besar LPD Peraih Laba Tertinggi di Kabupaten Badung
(dalam Ribuan Rupiah)

No.
Nama LPD
2009
2010
2011
2012
1.
LPD Kuta
7.351.113
9.340.699
10.146.115
11.296.803
2.
LPD Pecatu
4.551.061
6.022.275
8.031.779
10.176.917
3.
LPD Legian
4.052.124
5.660.567
7.642.952
8.688.004
4.
LPD Jimbaran
4.725.486
5.664.532
6.094.817
8.037.220
5.
LPD Kedonganan
4.155.332
4.446.082
5.095.821
6.154.196



Memahami Suku Bunga Kredit dan Jenisnya

Setiap orang yang pernah menjadi nasabah kredit atau debitur tentu tahu istilah suku bunga. Pasalnya, setiap nasabah kredit dikenai kewajiban membayar pokok kredit serta bunga kredit.

Secara sederhana, bunga dapat diartikan sebagai bentuk imbalan jasa kepada suatu pihak (kreditur) atas pinjaman yang diberikan. Imbalan jasa atau kompensasi itu biasanya dihitung berdasarkan persentase. Persentase itulah yang disebut suku bunga.



Jenis-jenis Suku Bunga

Ada beberapa jenis suku bunga yang lazim digunakan oleh bank atau lembaga keuangan. Yang umum dikenal adalah empat jenis suku bunga: suku bunga flat, suku bunga efektif, suku bunga anuitas, dan suku bunga mengambang.

Suku Bunga Flat

Sistem suku bunga flat menetapkan besaran angsuran pokok utang dan bunga kredit sama setiap bulan. Biasanya, suku bunga flat diterapkan pada kredit jangka pendek seperti kredit kendaraan dan kredit tanpa agunan (KTA).
Dengan demikian, debitur membayar angsuran yang sama setiap bulan dengan rincian pokok utang dan bunga kredit juga sama setiap bulan. Cara perhitungannya sangat sederhana, pokok kredit dibagi jangka waktu kredit. Hasil pembagian itu merupakan pokok utang yang harus dibayar setiap bulan ditambah persentase bunga kredit dikalikan nilai pinjaman.

Misalnya, Anda meminjam Rp 100.000.000 dengan bunga flat 12% per tahun atau 1% per bulan dengan jangka waktu 5 tahun atau 60 bulan, maka, setiap bulan Anda akan membayar:
-          Pokok utang         : Rp 100.000.000 : 60 bulan = Rp 1.666.666
-          Bunga kredit         : Rp 100.000.000 x 1%        =  Rp 1.000.000
--------------------------------------------------------------------------------------
                                                                                      Rp 2.666.666
Suku Bunga Efektif

Suku bunga efektif sering disebut sebagai sliding rate atau bunga menurun. Persentase bunga yang dikenakan tetap sama, tetapi nilai bunganya disesuaikan dengan saldo pokok utang terakhir. Karena itu, bunga kredit yang dibayar setiap bulan berubah-ubah. Dalam sistem bunga efektif, kecenderungan pembayaran angsuran bulanan semakin mengecil karena bunganya mengecil. Bunga efektif biasanya dikenakan untuk kredit jangka panjang.

Misalnya, Anda mendapat pinjaman Rp 100.000.000 dengan bunga efektif 18% per tahun atau 1,5% per bulan, dengan cicilan pokok utang Rp 5.000.000/bulan, maka setiap bulan Anda akan membayar bunga kredit:

Bulan ke-1 : Rp 100.000.000 x 1,5% = Rp 1.500.000
Bulan ke-2 : Rp   95.000.000 x 1,5% = Rp 1.425.000
Bulan ke-3 : Rp   90.000.000 x 1,5% = Rp 1.350.000

Biasanya, besar bunga efektif 1,8-2 kali bunga flat. Dengan kata lain, bunga flat 6% sama dengan bunga efektif 10,8%-12%.

Suku Bunga Anuitas

Suku bunga anuitas merupakan kombinasi antara sistem bunga flat dan bunga efektif. Dalam kredit dengan sistem bunga anuitas, angsuran bulanan yang mesti dibayar debitur sama. Akan tetapi, komposisi untuk bunga dan pokok kredit berubah pada tiap bulan. Nilai bunga per bulan akan mengecil, angsuran pokok per bulannya akan membesar.

Mendekati berakhirnya masa kredit, keadaan akan menjadi berbalik. porsi angsuran pokok akan sangat besar sedangkan porsi bunga menjadi lebih kecil.  Dalam perhitungan anuitas, porsi bunga pada masa awal sangat besar sedangkan porsi angsuran pokok sangat kecil.

Suku Bunga Mengambang

Seperti namanya, suku bunga mengambang mengikuti naik-turunnya suku bunga pasar. Biasanya yang dijadikan patokan adalah BI Rate atau suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia yang kerap berubah-ubah. Jika suku bunga pasar naik, maka bunga kredit anda juga akan ikut naik, begitu juga sebaliknya, jika suku bunga pasar turun, suku bunga kredit juga turun. Lazimnya, suku bunga mengambang diterapkan pada kredit jangka panjang, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), modal kerja, usaha dan investasi.

Nah, setelah memahami suku bunga dan jenisnya itu, Anda bisa menimbang-nimbang akan memilih kredit dengan tawaran suku bunga seperti apa. Di LPD Desa Adat Kedonganan, suku bunga yang ditetapkan biasanya bunga efektif. Sepintas terlihat bunganya memang tinggi, tetapi ketika dihitung total bunga yang dibayar selama jangka waktu kredit, tidak jarang malah sistem bunga flat yang sepintas terlihat murah. (*)


Senin, 05 Agustus 2013

Tabe Plus, Menyiapkan Dana Pendidikan Sejak Dini

Tabe Plus atau Tabungan Beasiswa Plus merupakan salah satu produk unggulan LPD Desa Adat Kedonganan. Produk ini dirancang sebagai tabungan pendidikan guna menyiapkan dana pendidikan anak-anak di Desa Adat Kedonganan.

Perayaan HUT peserta Tabe Plus di sekolah


Produk Tabe Plus mulai diluncukan tahun 2004 dan hingga kini peserta produk ini terus meningkat setiap tahun. Hingga Juni 2013, jumlah peserta Tabe Plus mencapai 1.65 orang. 

Keuntungan Tabe Plus 

  1. Mengajarkan anak untuk menabung sejak usia dini.
  2. Mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak sehingga tidak sampau putus sekolah 
  3. Dapat dijadikan jaminan kredit 
  4. Undian tabungan berhadiah setiap tahun
  5. Mendapatkan hadiah langsung bagi peserta yang berulang tahun dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan LPD Desa Adat Kedonganan.
Peserta Tabe Plus membayar setoran yang bisa dipilih: harian, bulanan atau tahunan. Peserta hanya membayar setoran selama 10 tahun. Selanjutnya, peserta akan menerima pembayaran tahapan setiap tiga tahun sekali. Tahapan I diterima pada tahun ke-3, tahapan II pada tahun ke-6, tahapan III pada tahun ke-9 dan tahapan IV pada tahun ke-12.

Ada lima tipe Tabe Plus yang bisa diikuti. Dalam tiap-tiap tipe berbeda jumlah setoran dan tahapan yang diterima. Berikut rincian masing-masing tipe Tabe Plus.

Tipe I (sudah tidak dipasarkan lagi)

  • Setoran Rp 2.000/hari 
  • Tahapan I    : Rp    500.000
  • Tahapan II   : Rp 1.000.000
  • Tahapan III  : Rp 1.000.000
  • Tahapan IV  : Rp 6.000.000


Tipe II 

  • Setoran Rp 4.000/hari 
  • Tahapan I    : Rp   1.000.000 
  • Tahapan II   : Rp   2.000.000
  • Tahapan III  : Rp   2.000.000
  • Tahapan IV  : Rp 12.000.000


Tipe III

  • Setoran Rp 6.000/hari 
  • Tahapan I    : Rp   1.500.000
  • Tahapan II   : Rp   3.000.000
  • Tahapan III  : Rp   3.000.000
  • Tahapan IV  : Rp 18.000.000
Tipe IV 
  • Setoran Rp 8.000/hari 
  • Tahapan I   : Rp   2.000.000
  • Tahapan II  : Rp   4.000.000
  • Tahapan III : Rp   4.000.000
  • Tahapan IV : Rp 24.000.000
Tipe V 
  • Setoran Rp 10.000/hari 
  • Tahapan I    : Rp   2.500.000
  • Tahapan II   : Rp   5.000.000
  • Tahapan III  : Rp   5.000.000
  • Tahapan IV  : Rp 30.000.000

Jumat, 02 Agustus 2013

Prinsip "Pang Pada Payu" dalam Tata Kelola LPD

Pang pada payu merupakan ungkapan dalam basa Bali madya (bahasa Bali ragam madya atau tengah) yang terjemahan bebasnya adalah “agar sama-sama bisa” atau “agar sama-sama jadi”. Yang dimaksud “bisa” atau “jadi” tiada lain mencapai tujuan masing-masing pihak. Walaupun tujuan yang dicapai itu tidak sepenuhnya sesuai target.

Dalam konteks budaya Bali, payu dalam ungkapan pang pada payu bermakna sukses atau menang. Itu sebabnya, pang pada payu juga bermakna sebagai  prinsip sama-sama menang, sama-sama diuntungkan. Lazimnya ungkapan pang pada payu muncul dalam interaksi antara penjual dan pedagang di pasar. Manakala kegiatan tawar-menawar mencapai puncak dan pihak penjual ingin segera mengakhiri tawar-menawar dengan pembeli, ungkapan pang pada payu segera dimunculkan. Tapi, prinsip pang pada payu tidak hanya berlaku di dunia perdagangan atau ekonomi. Prinsip serupa kerap digunakan dalam penyelesaian sengketa atau masalah kehidupan dalam bidang yang lain. Dengan prinsip pang pada payu, penyelesaian sengketa atau masalah dilandasi konsep kedamaian. Pang pada payu berakar pada nilai-nilai paras-paros, sagilik-saguluk.

I Nyoman Budiarna, dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar dalam disertasinya mengkaji penerapan prinsip pang pada payu dalam hukum Ekonomi Indonesia. Menurutnya, prinsip pang pada payu merupakan konvensi penyelesaian sengketa secara damai antarindividu maupun kelompok yang berarti ‘agar sama-sama diuntungkan’. Prinsip pang pada payu, kata Budiarna dalam buku Prinsip Pang Pada Payu dalam Hukum Ekonomi Indonesia semacam arbitrase adat masyarakat Hindu di Bali. Bahkan, menurut Budiarna, prinsip pang pada payu dapat menekan jumlah kredit macet pada lembaga perkreditan desa (LPD) di Bali.

Karena prinsip pang pada payu merupakan konvensi penyelesaian sengketa dalam masyarakat Bali, Budiarna mengusulkan prinsip tersebut diakui sebagai model penyelesaian sengketa yang mengedepankan pencapaian keadilan dengan pendekatan konsensus dan mendasarkan pada kepentingan para pihakdalam rangka mencapai win-win solution, khususnya dalam tata kelola LPD di Bali. Terlebih lagi LPD merupakan lembaga adat milik desa adat/pakraman yang mengemban fungsi khusus ekonomi dan keuangan di tingkat desa adat.

“Prinsip pang pada payu dapat dikembangkan menjadi peraturan penyelesaian sengketa kredit macet di LPD sebagai upaya pengembangan hukum Ekonomi Indonesia dengan model Peraturan Bank Indonesia tentang Mediasi Perbankan yang bernaung di bawah UU tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa”.

Prinsip pang pada payu dalam penyelesaian sengketa kredit macet di LPD juga diimplementasikan di LPD Desa Adat Kedonganan. Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra menuturkan selama ini pihaknya mengedepankan prinsip pang pada payu dalam penyelesaian kredit macet. Jika ada nasabah yang tidak mampu membayar kewajiban kredit, pihaknya tidak serta merta memilih jalan menyita aset yang menjadi jaminan. Tapi, dipilih jalan kesepakatan dengan debitur dengan prinsip pang pada payu.

“LPD agar tidak dirugikan, nasabah juga tidak dirugikan. Dan, terbukti penyelesaian dengan prinsip kearifan lokal adat Bali terbukti efektif,” kata Madra. (*)