Rabu, 24 Juli 2013

Buda Wage Kelawu, Hari Suci LPD

Hari ini, Rabu, 24 Juli 2013, masyarakat Bali (Hindu) merayakan hari suci Buda Wage Kelawu atau Buda Cemeng Kelawu. Hari suci yang jatuh saban Buda (Rabu) wuku Kelawu itu diisi masyarakat Bali dengan menghaturkan sesaji khusus ke hadapan Batari Rambut Sedana. Hari Buda Cemeng Kelawu kerap diidentikkan sebagai hari keuangan ala Bali. Itu sebabnya, berbagai lembaga keuangan mengadakan upacara khusus pada hari Buda Cemeng Kelawu. 

Sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali, LPD juga menggelar upacara serupa. Bahkan, pada hari itu, kantor LPD Desa Adat Kedonganan ditutup. Seluruh jajaran Badan Pengawas, Prajuru Desa, Pengurus LPD, karyawan LPD serta krama desa melaksanakan persembahyangan bersama di LPD Desa Adat Kedonganan. 

Dalam lontar Sundarigama disebutkan, Buda Cemeng Kelawu merupakan saat memuja Batari Rambut Sadana, sang Dewi penguasa atas uang. Saat itu diyakini sebagai saat beryoganya Batari Rambut Sadana.

Pada saat itu dihaturkan berbagai sesaji, di antaranya suci, daksina, peras, penek, ajuman, sodaan putih kuning. Namun, persembahan ini masih bisa berubah lagi sesuai loka dresta masing-masing daerah.

Tempat menghaturkan persembahan tersebut di antaranya parahyangan antara lain Pura Melanting atau pura-pura lainnya yang memang memiliki arca lingga Ida Batara Rambut Sadana. Begitu juga di sanggah/merajan serta tempat penyimpanan uang (brankas) dan tempat penyimpanan beras.

Yang menarik, ada keyakinan di kalangan sebagian orang Bali mengenai pantangan untuk bertransaksi menggunakan uang dan sejenisnya saat Buda Cemeng Kelawu. Di sejumlah daerah juga disebutkan saat Buda Cemeng Kelawu dipantangkan untuk membayar atau menagih utang-piutang atau pun memberikan/menyedekahkan beras kepada orang lain.

Bagi orang yang hidup dalam tradisi modern, pantangan semacam ini tentu saja sulit untuk diterima. Dinamika perekonomian masyarakat yang begitu tinggi membuat tidak mungkin untuk menghentikan transaksi menggunakan uang dalam sehari. Menghentikan transaksi berarti juga menghentikan kegiatan ekonomi. Berhentinya kegiatan ekonomi berarti kerugian.

Namun, pantangan bertransaksi menggunakan uang dan alat pembayaran sejenisnya di hari Buda Cemeng Kelawu mesti dimaknai sebagai sebuah kearifan lokal Bali dalam memandang arti dan makna uang. Orang Bali menyadari uang merupakan sesuatu yang telah menempati posisi sangat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terlebih lagi di masa serbaparadoks kini. Seperti disuratkan dalam Nitisastra, di zaman Kaliyuga yang menang adalah ia yang memiliki uang. Dengan uang, orang kini bisa melakukan apa saja untuk memuaskan keinginannya. Mulai dari membeli mobil terbaru, rumah mewah hingga membeli jabatan tinggi.

Karena begitu berkuasanya uang di zaman Kaliyuga, orang Bali senantiasa diingatkan untuk bisa mengendalikan dirinya dalam memandang, memaknai, memperlakukan serta mencari uang. Saat Buda Cemeng Kelawu, orang Bali disadarkan  betapa uang bukanlah segalanya, uang bukanlah dewa. Dengan membiarkan uang diam, tidak dibayarkan dan tidak beredar, orang Bali diingatkan tentang hakikat uang. Yang berkuasa atas segala dunia ini adalah Yang Maha Agung, Yang Mahasumber, Yang Maha Pencipta. (*)

0 komentar:

Posting Komentar