Sabtu, 04 Mei 2013

Ngaben Masa Bukan Gratis

Wawancara Khusus dengan I Ketut Madra, Ketua LPD Kedonganan

PROGRAM ngaben dan nyekah masa di Desa Adat Kedonganan tak bisa dilepaskan dari sosok I Ketut Madra. Ketua LPD Desa Adat Kedonganan ini menjadi arsitek sekaligus motor penggerak program yang banyak dicontoh desa-desa lain di Bali ini. Tapi, ngaben dan nyekah masa di LPD Kedonganan memiliki nilai lebih yakni sebagai nilai manfaat (benefit value) dari program Simpanan Upacara Adat (Sipadat) yang diikuti krama Desa Adat Kedonganan di LPD. Melalui pengelolaan dana Sipadat itulah, program ngaben dan nyekah ini dibiayai. Tapi, ini bukan program gratis, karena krama sesungguhnya sudah membayar melalui keikutsertaan dalam program Sipadat. Jadi, krama tak perlu ragu, mengikuti program ngaben dan nyekah masa Desa Adat Kedonganan bukan berarti mereka mengalihkan tanggung jawab sebagai pratisentana kepada pihak lain. “Ini yadnya yang digelar oleh pemilik sawa tetapi pelaksanaannya difasilitasi desa adat dan LPD dengan dilandasi konsep pasidhikaran, penyamabrayan,” tegas Ketut Madra. Seperti apa sejatinya program ngaben dan nyekah masa ini? Berikut petikan perbincangan dengan Ketut Madra yang dikutip dari majalah Gedong edisi II/2012.
-----------------------------------------------------------------------------

Apa motivasi LPD Kedonganan memberikan nilai manfaat ngaben dan nyekah masa kepada krama nasabah LPD?
Motivasi kami sederhana, agar kehadiran LPD dirasakan krama desa. LPD ini lahir dari krama, dikelola oleh krama dan hasilnya juga dikembalikan kepada krama. LPD ini lembaga adat yang dibebani tugas dan tanggung jawab mengurus kekayaan (pelaba) desa adat, termasuk menjadi media pacingkreman krama. Sebagai lembaga komunitas adat, kami mesti ikut memikirkan masalah-masalah komunitas adat dan mencarikan solusinya. Salah satu masalah komunitas adat di Bali adalah beban kewajiban untuk melaksanakan upacara ngaben dan nyekah sebagai wujud bhakti kepada leluhur. Dulu banyak orang Bali, termasuk di Kedonganan, susah untuk ngaben karena biayanya besar. Kini di Kedonganan mungkin orang sudah mampu ngaben. Tapi kami ingin kewajiban itu dilaksanakan dalam semangat kebersamaan, kekeluargaan sebagai sebuah keluarga besar komunitas adat Bali di desa adat atau desa pakraman.

Tapi, ngaben dan nyekah itu kan kewajiban pribadi pratisentana. Itu sebabnya muncul kritik kepada program ini karena dianggap mengambil alih tanggung jawab pratisentana. Komentar Anda?
Pandangan itu keliru. Mereka yang berpikir begitu karena tidak paham dengan program ini. Yang ngaben ini bukan LPD, bukan pula desa adat, tapi krama pemilik sawa. Kami di LPD hanya memfasilitasi pendanaannya, desa adat yang memfasilitasi pelaksanaannya. Yang mayadnya ya tetap krama pemilik sawa. Mereka bekerja bersama, bergotong royong menyukseskan yadnya mereka sebagai wujud bhakti kepada leluhur. Ini yadnya yang digelar oleh pemilik sawa tetapi pelaksanaannya difasilitasi desa adat dan LPD dengan dilandasi konsep pasidhikaran, penyamabraya. Selama ini, kalau krama menggelar upacara, apalagi ngaben dan nyekah, kan juga dilandasi konsep pasidhikaran dan panyamabrayan. Ketika krama menggelar yadnya ngaben dan nyekah, maka krama banjar dan krama desa tedun membantu menyukseskan upacara itu.

Soal gratis itu juga dianggap tidak tepat. Banyak yang beranggapan, ngaben dan nyekah itu kewajiban pratisentana. Jadi kurang elok kalau ngaben dan nyekah dibiayai LPD. Komentar Anda?
Soal ngaben dan nyekah gratis itu sebetulnya cara kami mempromosikan program ini sekaligus memudahkan krama mengerti program ini. Kami sadari cara berkomunikasi kami dulu itu kurang tepat. Tapi, kalau kami mau jujur, program ini bukan gratis. Yang membiayai program ini adalah krama sendiri melalui program tabungan Sipadat. Semua krama Desa Adat kedonganan mengikuti program Sipadat. Itu artinya semua krama membiayai. LPD hanya mengelolanya dan hasil pengelolaan itulah digunakan membiayai program ngaben dan nyekah masa.

Bagaimana cara pengelolaannya?
Program Sipadat itu kan tabungan yang memiliki syarat ada dana mengendap Rp 200.000 per tabungan. Selain itu, ada beban biaya administrasi Rp 1.000 per masing-masing tabungan. Dana mengendap dan biaya administrasi itulah yang kami kelola. Hasil pengelolaan itu kami kumpulkan setiap tahun. Tiga tahun sekali kami ambil untuk membiayai program ngaben dan nyekah masa. Jadi, ini soal manajemen saja.

Lantas, mengapa program ini harus ngemasa tiap tiga tahun sekali?
Syarat program ini bisa berjalan memang harus ngemasa. Jadi ada rentang waktu yang jelas agar ada cukup waktu untuk mengelola dana ini hingga bisa membuahkan hasil yang layak untuk digunakan membiayai upacara ini. Dari sisi desa adat sebagai pelaksana, ngaben dan nyekah ngemasa tiap tiga tahun membuat desa adat memiliki program yang jelas, terarah dan fokus. Tiap prajuru di desa adat sudah jelas memiliki gambaran, dalam sekali masa jabatan mereka akan melaksanakan ngaben dan nyekah masa. Dari sisi krama, ngaben dan nyekah ngemasa ini juga membuat mereka memrogram kegiatan upacara adat dan agama di masing-masing rumah atau keluarga. Krama jadi lebih siap. Begitu juga krama yang merantau memiliki panduan yang jelas, kapan mesti pulang agar bisa hadir dalam ngaben dan nyekah massal. Jadi, tidak terus meminta izin di tempatnya bekerja untuk menghadiri ngaben dan nyekah di desa adat karena sudah jelas deprogram tiap tiga tahun sekali.

Apakah Anda yakin program ini akan bisa berlanjut?
Berlanjut atau tidaknya program ini berpulang kembali kepada krama Desa Adat Kedonganan. Kalau krama memandang program ini bagus, baik untuk dilanjutkan, tentu program ini akan berlanjut. Kalau krama menganggap ini jelek, tidak baik untuk dilanjutkan, ya tidak berlanjut. Tapi, yang mesti disadari, program ini lahir dari pemikiran bersama para tokoh bersama krama untuk menjaga adat, budaya dan agama kita dalam bingkai desa adat atau desa pakraman. Mungkin untuk ngaben dan nyekah sendiri-sendiri orang Kedonganan kini mampu, tapi nilai-nilai pasdihikaran, panyamabrayan, sagilik-saguluk salulung-lulung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, itu tetap harus dipertahankan. Ngaben dan nyekah masa ini bukan soal mampu atau tidak mampu, tapi lebih dari itu soal memupuk kepekaan, kesetiakawanan sosial, pasawitran, pasemetonan sebagai sesama krama adat. Itu sebabnya saya selalu mengingatkan, ngaben dan nyekah masa boleh-boleh saja membeli banten, tapi tetap harus ada bagian yang memberi ruang krama untuk ngayah, bersama-sama. Bukan hanya pemilik sawa yang ngayah, tetapi juga seluruh krama. Karena ini, sekali lagi, pasidhikaran, panyamabrayan. (*)

0 komentar:

Posting Komentar