Minggu, 07 April 2013

Tradisi "Pacingkreman" Mengilhami Lahirnya LPD

Orang Bali gemar menabung, sejatinya. Jauh sebelum lembaga bank diperkenalkan, orang Bali sudah memiliki kebiasaan menabung. Dulu, jika orang Bali memiliki uang lebih akan disimpan dalam bungbung (sejenis tabung yang terbuat dari bambu). Ketika memerlukan, uang dalam bungbung tinggal diambil.
Kebiasaan orang Bali menyimpan uangnya dalam bungbung itu ditulis Ki Dalang Tangsub dalam Kidung Prembon. Pada karya sastra tradisional yang diperkirakan ditulis tahun 1825 itu diceritakan I Nyoman Karang dari Banjar Sari menasihati kedua anaknya, Ni Sokasti dan Ni Rijasa untuk rajin menabung. Begini bunyi salah satu pupuh yang sempat populer di kalangan masyarakat Bali itu.

            Lamun ngelah pipis patpat
            ne dadua sepel pang ilid
            adasa mangelah jinah
            lalima sepel di bungbung
            makelo ada antosang
            bliang klambi
            eda goro budag amah
            
artinya, 
            Kalau memiliki uang empat 
            yang dua simpan agar tidak kelihatan 
            jika memiliki uang sepuluh 
            lima simpan di bungbung
            suatu ketika ada yang ditunggu
            belikan pakaian
            jangan boros hanya untuk makan

Selain menabung di bungbung, orang Bali juga menabung lewat organisasi sekaa  (kelompok) sesuai kesamaan profesinya yang bersifat musiman. Misalnya, ada sekaa manyi (kelompok pemanen padi), sekaa ngulah semal (kelompok pengusir tupai), sekaa ngalap nyuh (kelompok pemetik kelapa), sekaa mamula (kelompok menanam padi), sekaa majukut dan lainnya. Upah yang diterima dari pekerjaannya, tidak semua dibawa pulang. Sebagian di antaranya disimpan di sekaa dalam bentuk pacingkrem. Saat-saat tertentu, uang pacingkrem itu bisa diambil. Biasanya, saat hari raya Galungan, sekaa tersebut akan mapatung yang dananya diambil dari kas sekaa. Mereka juga bisa meminjam dari sekaa.
Tradisi pacingkreman juga tumbuh dalam organisasi sosial kemasyarakatan orang Bali, yakni banjar. Setiap kali sangkep (rapat), krama akan menyerahkan dana pacingkreman yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan krama. Dana pacingkreman itu dikelola banjar untuk memenuhi kebutuhan segala kegiatan banjar, seperti pembangunan banjar, upacara piodalan (peringatan hari pendirian pura) atau pun dana suka duka krama ketika ada yang meninggal dunia atau menggelar hajatan.
Orang Bali juga memiliki cara menabung unik yakni dengan jalan memelihara bangkung (babi betina), celeng (babi jantan) atau pun sapi. Karenanya, dulu, hampir setiap orang Bali memiliki peliharaan bangkung, celeng atau pun sapi. Ketika sudah besar, hewan peliharaan itu pun dijual di pasar. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli pakaian atau kebutuhan harian lainnya.
Tradisi pacingkreman inilah yang mengilhami lahirnya LPD di Bali. Gubernur Bali, IB Mantra bersama tim yang dimiliki mengadopsi tradisi pacingkreman ke dalam suatu lembaga keuangan mikro berbasis komunitas adat dan sistem lembaga perkreditan pedesaan yang diperkenalkan pemerintah Orde Baru pada masa itu. Kendati begitu, wujud LPD menjadi amat khas, unik dan otentik, berbeda dengan wujud lembaga perkreditan pedesaan di daerah lain. Sebabnya, akar kultur LPD adalah adat Bali yang sudah memiliki fondasi tradisi pacingkreman yang kuat.
Dalam bayangan Gubernur Mantra, LPD sebagai lembaga keuangan komunitas penyangga adat dan budaya masyarakat Bali.  Itu sebabnya, tujuan LPD tidak sekadar mencapai kesejahteraan krama desa adat, juga menyangga keberlangsungan adat, budaya dan agama masyarakat Hindu yang berlandaskan ajaran agama Hindu. LPD berwujud lembaga nonprofit. Keuntungan yang didapat sepenuhnya dikembalikan untuk kepentingan pembangunan di desa adat guna menjamin tetap terjaganya adat, budaya dan agama masyarakat Bali. (*)

0 komentar:

Posting Komentar