Kamis, 04 April 2013

I Wayan Suriawan: LPD Peduli Pendidikan

LPD memang lembaga keuangan. Tapi, LPD memiliki kekhasan, karena tak hanya menjalankan fungsi ekonomi tetapi juga fungsi sosial budaya. Itu sebabnya, LPD berbeda dengan bank, koperasi atau pun Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Sebagai lembaga sosial budaya, LPD turut berperan aktif dalam pembangunan di desa adat/pakraman. Namun, pembangunan yang dimaksud, tak hanya aspek fisik, juga aspek nonfisik, seperti pembangunan sumber daya manusia (SDM) di desa adat melalui pendidikan.
Itu pula yang mendasari LPD Desa Adat Kedonganan secara rutin menggelar aneka kegiatan bidang pendidikan tiap tahun. Kegiatan yang digelar di antaranya lomba cerdas cermat, tes beasiswa prestasi, lomba menulis, hingga membentuk Kader Pemuda Penggerak Pembangunan Desa (KP3D).
“Ini wujud program LPD Peduli Pendidikan,” kata Wakil Kepala sekaligus Sekretaris LPD Desa Adat Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan di sela-sela lomba cerdas cermat dan tes beasiswa prestasi serangkaian HUT ke-23 LPD Kedonganan, baru-baru ini.
Menurut Suriawan, pembangunan bidang pendidikan di desa adat/pakraman memiliki makna penting. Pendidikan merupakan pilar utama untuk melahirkan generasi kreatif yang akan melanjutkan pembangunan di desa adat.
Namun, imbuh Suriawan, pendidikan bagi anak-anak di desa adat/pakraman tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Hindu dan kearifan lokal Bali. Pasalnya, ajaran agama Hindu dan kearifan lokal Bali itu akan memberi dasar karakter bagi anak-anak.
“Kecerdasan intelektual mereka mesti diseimbangkan dengan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual,” ujar Suriawan yang didampingi Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra.
Hal inilah yang mendasari pihaknya untuk tidak hanya membuka kompetisi untuk mengasah kecerdasan intelektual anak-anak Kedonganan melalui lomba cerdas cermat dan tes beasiswa prestasi tetapi juga memberi ruang bagi tumbuh suburnya kecerdasan spiritual dan emosional melalui KP3D dan lomba-lomba karya tulis. Tercapainya keseimbangan kecerdasan anak-anak, imbuh Suriawan, diharapkan bisa menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi krama desa adat/pakraman yang andal.
“Jangan sampai mereka gagap ketika terjun ke desa adat/pakraman yang akan menjadi ruang interaksi mereka selamanya di tanah kelahirannya,” tandas Suriawan.

0 komentar:

Posting Komentar