Jumat, 08 Maret 2013

Jaga Keharmonisan Desa Kedonganan

Pesan Panglingsir dan Tokoh Kedonganan 

I Made Parka (kiri) dan I Ketut Madra (kanan)
 Acara simakrama dan penyerahan tali kasih LPD Desa Adat Kedonganan bersama prajuru Desa Adat ke Kedonganan kepada para panglingsir, tokoh masyarakat dan mantan prajuru serta pengurus desa, Kamis, 7 Maret 2013 lalu menjadi ajang jalinan komunikasi antargenerasi pendahulu dengan generasi kini. Para panglingsir dan tokoh Kedonganan itu pun berpesan agar keharmonisan di Desa Adat Kedonganan dijaga, terutama di antara prajuru desa, antara prajuru desa dengan pengurus LPD serta pengurus lembaga kemasyarakatan lain di Kedonganan. 

"Keharmonisan di antara prajuru atau pun antara prajuru dengan pengurus desa lainnya itu menjadi kunci agar kita bisa membangun Kedonganan menjadi lebih baik," kata mantan Kelian Banjar Adat, Jro Mangku Made Sukadi dan mantan Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Suranata. 

Hal senada juga disampaikan tokoh Kedonganan dari Banjar Kubu Alit, I Made Sumantara. Dia berharap komunikasi antargenerasi tetap dijaga. Menurut Sumantara, komunikasi yang baik akan memudahkan dalam melaksanakan program-program pembangunan desa. 

Secara khusus, kepada prajuru baru, Sumantara berpesan agar merumuskan program kerja serta kalender kerja. Program kerja merupakan rencana kerja untuk jangka waktu tertentu, sedangkan kalender kerja sebagai jadwal pelaksanaan program kerja.

I Made Sumantara menyalami Penyarikan Desa, I Made Sukada
Panglingsir I Made Parka menyatakan dirinya siap menyumbangkan pemikiran-pemikiran untuk pembangunan di desa. Baginya, pola LPD Kedonganan yang mengunjungi para panglingsir, para tokoh dan mantan prajurus serta pengurus desa merupakan hal yang positif dan bermakna. 

Untuk prajuru baru, Made Parka berpesan agar program pembinaan generasi muda diintensifkan. Selain itu, kegiatan-kegiatan pembinaan adat dan budaya bagi para pemangku serta sarati banten dihidupkan. 

Mantan Lurah Kedonganan, I Wayan Sandi menyampaikan selamat dan sukses kepada prajuru baru. Jika memang ingin menggali masukan dari para panglingsir, tokoh-tokoh, mantan prajuru dan pengurus desa, Sandi menyarankan diadakan suatu pertemuan khusus sehingga bisa lebih banyak digali pemikiran-pemikiran positif untuk kemajuan desa. 

Mantan Bendesa Adat Kedonganan, I Made Gandil mendoakan agar prajuru baru diberi kekuatan untuk bisa mengabdi dengan baik bagi Desa Adat Kedonganan. Panglingsir yang juga turut membidani kelahiran LPD Kedonganan tahun 1990 silam ini berharap program ngaben massa tiap tiga tahun sekali yang difasilitasi LPD dan menjadi program desa adat bisa terus dilanjutkan. 

Selain itu, Gandil juga menitipkan pesan agar desa adat bisa melaksanakan suatu upacara mapahayu desa untuk membersihkan desa dari segala leteh (kekotoran). Gandil menceritakan pasca-G30S/PKI tahun 1965, di Kedonganan terjadi konflik horizontal yang memprihatinkan. Banyak rumah warga dibakar dan bahkan ada yang dibunuh. Saat menjabat Bendesa Adat Kedonganan, Gandil pernah membicarakan rencana menggelar upacara mapahayu desa dengan para prajuru. Tapi, karena keterbatasan kondisi saat itu, rencana itu belum mendapat respons.

"Kini Desa Adat sudah maju, sudah mampu. Mungkin rencana itu bisa dibahas lagi untuk kepentingan desa," kata Gandil yang kini berusia 82 tahun.

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa ikut hadir dalam simakrama dan penyerahan tali kasih. Puja menjelaskan pada saat yang sama dirinya mesti menghadiri pertemuan para bendesa adat se-Kabupaten Badung di kantor pusat pemerintahan (puspem) Kabupaten Badung. Itu sebabnya, Puja mengutus Penyarikan Desa, I Made Sukada didsampingi sejumlah prajuru lain. 

Puja juga berterima kasih atas masukan dan saran dari para panglingsir, tokoh, mantan prajuru dan pengurus desa itu. Puja menegaskan komunikasi dengan para panglingsir, para tokoh, mantan prajuru dan pengurus desa selalu dilakukan untuk mewujudkan keharmonisan di desa adat. "Tiang selalu merangkul para panglingsir, para tokoh. Kami mohon petunjuk, bimbingan dari para panglingsir," kata Puja. (*)

0 komentar:

Posting Komentar