Kamis, 10 Januari 2013

Kombinasi Madra-Mudra Lahirkan Ngaben Masa

Program ngaben dan nyekah masa Desa Adat Kedonganan yang dimulai tahun 2006 merupakan buah dari kombinasi dua tokoh Kedonganan: I Ketut Madra dan I Ketut Mudra. Madra memimpin LPD, sedangkan Mudra saat itu sebagai bendesa adat.

I Ketut Mudra
Madra menuturkan dirinya memang sejak lama memimpikan bisa menggelar upacara ngaben dan nyekah secara bersama-sama dengan payung desa adat. Pasalnya, selama memimpin LPD, Madra menemukan banyak krama yang meminjam uang untuk ngaben. Meski kredit untuk keperluan ini tak ada yang macet, Madra tetap prihatin karena itu menunjukkan lemahnya manajemen keuangan di tingkat krama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan untuk melaksanakan kewajiban adat, agama dan budaya.

Tapi, Madra menginginkan program itu menjadi bagian dari produk LPD. Dengan kata lain, LPD bukan sekadar lembaga penyumbang dana, tetapi menjadi motor penggerak program ngaben dan nyekah bersama itu.
I Ketut Madra

Mimpi itu pun dibicarakan dengan Mudra. Sang bendesa adat ternyata merespons hangat ide Madra itu. Antara Madra dan Mudra ternyata memiliki kesesuaian pandangan soal ngaben dan nyekah di Kedonganan. “Memang benar ngaben dan nyekah itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan pretisentana untuk membayar utangnya kepada leluhur. Masyarakat berpandangan, meskipun dengan jalan berutang tidak apa-apa. Namun, saya melihat itu sebagai persoalan yang harus dicarikan solusi agar agama Hindu tidak terkesan terlalu membebani umatnya,” kata Ketut Mudra.

Melalui diskusi yang mendalam dengan Ketua LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., akhirnya muncul solusi menggelar ngaben dan nyekah masa. Mudra menjadi kunci karena dia berani mengeksekusi program itu menjadi program rutin Desa Adat Kedonganan.

“Keberanian Pak Mudra mengambil keputusan adalah kunci terwujudnya program ngaben dan nyekah masa ini. Bahkan, Pak Mudra tak hanya memutuskan, tetapi juga dengan sabar dan penuh tanggung jawab mengkomunikasikan program ini kepada krama sehingga program ini bisa didukung,” kata Madra.

Melihat semangat Mudra, Madra juga tak kalah semangat. Saat itu Ketut Madra berani menyatakan krama yang ngaben dan nyekah tidak akan dikenai biaya alias gratis. Caranya, dengan mengambil dari biaya administrasi per tabungan serta pengelolaan dana nasabah.

Namun, gagasan itu tidak berjalan mulus. Tak sedikit tokoh masyarakat dan krama yang menentang. Bahkan, sampai ada krama yang menarik tabungannya di LPD. Akan tetapi, didasari keyakinan dan ketulusan, program itu tetap dilaksanakan. Hasilnya memang menggembirakan. Masyarakat merasa jauh lebih ringan dan sangat terbantu.

“Sebetulnya, kalau dicermati, tidak ada gratis dalam ngaben dan nyekah masa di Desa Adat Kedonganan karena biayanya juga diambil dari dana masyarakat. Hanya saja, masyarakat tidak terlampau merasakan hal itu karena pengelolaan yang cukup baik dari pengurus LPD,” ujar Ketut Mudra.

Kini, krama Kedonganan menikmati perjuangan Madra dan Mudra itu. Program ngaben dan nyekah masa menjadi program rutin tiga tahunan. Bahkan, program ngaben dan nyekah masa model Kedonganan ini juga diikuti desa-desa adat lain di Badung, bahkan Bali. (*)

0 komentar:

Posting Komentar