Selasa, 08 Januari 2013

Pemuda Menggebrak, Kedonganan Festival Menyeruak

Pemuda Kedonganan menggebrak dan mencatatkan sejarah. 9 Juni 2012, mereka sukses menggelar sebuah festival berkelas internasional bertajuk Kedonganan Coral Triangle Day Festival (KCTDF). Warga Kedonganan menyebutnya sebagai Kedonganan Festival.

KCDTF dimotori para pemuda Kedonganan yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Eka Chanti berkolaborasi “The Turtle Guard” FKH Universitas Udayana, Yayasan Penyu Laut Indonesia (YPLI) dan WWF. Hajatan ini didukung Desa Adat Kedonganan, Kelurahan Kedonganan, LPM Kelurahan Kedonganan, Badan Pengelola Kawasan Pariwisata Pantai Kedonganan (BPKP2K), LPD Kedonganan, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Ketua Panitia yang juga Ketua Kelompok Pemuda Eka Chanti Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana menjelaskan kegiatan ini merupakan wujud kepedulian para pemuda Kedonganan terhadap desa kelahirannya yang kini tengah berkembang sebagai salah satu pusat wisata kuliner dengan menu khas sea food. Di sini ada 24 kafe milik masyarakat yang dikelola dengan berbasiskan adat.

“Keberadaan usaha ekonomi kerakyatan ini perlu dipromosikan agar makin dikenal. Di sisi lain, kesadaran untuk menjaga ekosistem pesisir sebagai modal penting keberlanjutan usaha kafe maupun kegiatan perikanan dan kelautan masyarakat perlu terus ditumbuhkan. Salah satu upayanya melalui kegiatan ini,” kata Yustisia.

Ketua Panitia, I Wayan Yustisia Semarariana
Penggagas KCDTF, IB Ngurah Windia Adnyana menyatakan coral triangle merupakan ekosistem terumbu-karang; satu dari tiga wilayah di bumi yang diketahui memiliki ekologi yang kompleks dan menakjubkan. Secara geografis, ekosistem terumbu-karang coral triangle terbentang dari Asia Tenggara hingga Pasifik, meliputi jurisdiksi enam (6) negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philippines, Timor Leste, Papua New Guinea, dan Kepulauan Solomon. Negara-negara yang tergabung dalam coral triangle bersepakat menjalin kerja sama dan Indonesia kini ditunjuk sebagai ketua. Untuk mengkampanyekan keberadaan coral traingle ini disepakati menggelar sebuah peringatan khusus. 9 Juni dipilih sebagai hari peringatan karena berkaitan dengan kelahiran organisasi coral triangle. “Untuk di Indonesia, peringatan coral triangle day disepakati di Kedonganan,” kata Windia Adnyana.

KCTDF berlangsung semarak dan mendapat sambutan antusias. KCTDF ditandai dengan parade yang diisi dengan aktrasi puluhan jukung di sepanjang pesisir pantai. Parade dihadiri langsung Menteri Kelautan RI Syarip Cicip Sutardjo, Wabup Badung Ketut Sudikerta, serta undangan lain.

Rangkaian acara  dikemas menarik  dalam sehari dengan berbagai kegiatan diantaranya beach and under water clean up yaitu bersih-bersih pantai, cooking show (pameran memasak ikan ramah lingkungan diikuti oleh 24 cafe di Pantai Kedonganan), mural painting exhibition yang diikuti 24 pelukis dengan 7 di antaranya dari kalangan tuna rungu. Yang paling heboh adalah sunset beach carnaval yang  diikuti ribuan seniman  dengan menampilkan beragam  seni, di antaranya  parade 10 ogoh-ogoh, marchingband, ratusan  penari pendet dari kalangan SD dan pada malamnya dihelat eco friendly sea food dinner yang dimeriahkan sejumlah  artis nasional, seperti Nugie dan Nadine Candrawinata, mantan  Putri Indonesia 2005.

Tokoh-tokoh masyarakat Kedonganan mendukung dan menyambut hangat gelaran KCTDF ini. Panglingsir Desa Adat Kedonganan, I Made Sumantara merasa bangga karena Kedonganan dipilih sebagai tempat hajatan itu. Dia meminta program ini dilanjutkan.

Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyatakan menggelar kegiatan sebagai promosi bersama usaha kafe milik masyarakat di Pantai Kedonganan dalam wujud festival memang sejak lama diidam-idamkan. Ketika kini insiatif itu datang dari pemuda, pihaknya tentu berterima kasih, bangga dan mendukung penuh. “Ini menjadi momentum kebangkitan para pemuda Kedonganan untuk berperan aktif membangun desanya. Ini sungguh luar biasa,” tegas Madra. (*)

0 komentar:

Posting Komentar