Selasa, 08 Januari 2013

Ngaben Masa, Tradisi Baru Desa Adat Kedonganan


Ngaben masa 2012

DESA Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung boleh dibilang memiliki tradisi baru dalam pelaksanaan upacara ngaben dan nyekah. Sejak tahun 2006 lalu, warga desa ini mengenal ngaben bersama. Jika di tempat lain dikenal dengan sebutan ngaben massal, di Kedonganan namanya ngaben masa.

Yang dimaksud dengan ngaben masa itu ngaben ngemasa atau berkala setiap tiga tahun sekali. Jadi bukan massalnya yang ditonjolkan tetapi waktu pelaksanaan saban tiga tahun sekali.

Ngaben masa tiga tahun sekali ini sudah tertuang dalam perarem desa adat,” kata Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Yasmika.

Istimewanya lagi, jika di desa-desa lain pelaksanaan ngaben dan nyekah model bersama ini membebani warga peserta ngaben dengan biaya sejumlah tertentu, di Kedonganan warga peserta ngaben tidak dikenai biaya sama sekali alias gratis. Biaya ngaben sepenuhnya ditanggung LPD Desa Adat Kedonganan.

Menurut Ketua LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., ngaben masa ini merupakan bagian dari salah satu produk unggulan LPD Kedonganan yakni Sipadat (Simpanan Upacara Adat). Setiap warga pemilik tabungan Sipadat akan mendapat nilai manfaat berupa santunan kematian Rp 2 juta bila meninggal dunia serta diikutkan dalam ngaben dan nyekah masa setiap tiga tahun tanpa dikenai biaya. Kebetulan, seluruh krama Desa Adat Kedonganan sudah memiliki tabungan Sipadat di LPD Kedonganan. Jadi, praktis semua krama desa adat berhak mendapat hak santunan kematian Rp 2 juta bila meninggal dan diikutkan dalam upacara ngaben masa setiap tiga tahun sekali tanpa dikenai biaya.

Namun, Madra buru-buru menambahkan, sesungguhnya ngaben masa di Kedonganan tidaklah gratis seperti yang dipahami awam. Dana ngaben itu sebetulnya diambil dari pengelolaan dana Sipadat milik warga.

“Artinya, bukan LPD yang ngaben, tapi krama pemilik sawa. Dananya pun berasal dari masyarakat. Hanya saja, dana itu merupakan hasil dari pengolahan dana masyarakat yang disimpan di LPD,” kata Madra.

Sementara desa adat, imbuh Madra, menjadi fasilitator dan pengoordinir pelaksanaan upacara ngaben masa. “Intinya, ngaben masa dilaksanakan secara gotong-royong, bersama-sama antara krama, desa adat dan LPD,” kata Madra.

Ngaben dan nyekah masa periode pertama digelar tahun 2006. Pada periode pertama, ngaben dan nyekah masa diikuti 114 sawa. Periode kedua dilaksanakan tahun 2009. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Sabtu, 22 Agustus 2009 dan puncak upacara nyekah dilaksanakan 14 September 2009. Upacara ngaben masa kedua ini diikuti 32 sawa serta 48 ngelungah. Upacara nyekah diikuti 56 peserta.

Tahun 2012, ngaben dan nyekah masa memasuki periode ketiga. Puncak upacara ngaben dilaksanakan Minggu, 18 November 2012, sedangkan puncak upacara nyekah digelar pada Jumat, 30 November 2012.

Ketua Panitia Pelaksana Karya Atiwa-tiwa lan Atmawedana Sinarengan Desa Adat Kedonganan 2012,  Made Sukada mengatakan peserta ngaben tahun ini sebanyak 32 sawa serta 42 ngelungah. Sementara nyekah diikuti 79 peserta. Upacara di-puput tiga sulinggih: Ida Pedanda Putra Telaga dari Griya  Sanur, Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda dari Griya Kutuh Kuta dan Ida Rsi Bujangga dari Griya Sesetan, Denpasar.

Tahun ini, imbuh Sekretaris Panitia, I Made Suwinda, LPD Kedonganan mensubsidi Rp 12 juta untuk masing-masing sawa. Adapun total dana yang disiapkan LPD Kedonganan mencapai Rp 960 juta.

Kendati telah dibiayai LPD, prinsip gotong-royong memang tetap terasa kuat dalam ngaben masa di Kedonganan ini. Meski sudah dianggarkan dana oleh LPD, toh krama banyak yang menyumbang berbagai perlengkapan upacara. Ada yang menyumbangkan dana, minuman, transportasi serta tenaga.

“Prinsipnya memang gotong-royong, bersama-sama membayar utang leluhur dengan ketulusan dan keikhlasan,” tandas Jro Mangku Made Sukadi, salah seorang krama yang juga panglingsir di Kedonganan.

Prinsip gotong-royong, imbuh Madra, sejatinya juga sudah terlihat dalam pendanaan. Dana ngaben yang diambil dari pengelolaan dana masyarakat di LPD merupakan wujud subsidi silang. Masyarakat yang memiliki simpanan dana lebih besar mensubsidi masyarakat yang tabungannya lebih kecil.

“Tapi bukan berarti yang punya tabungan lebih kecil itu tidak mampu. Namun inilah wujud kebersamaan, implementasi konsep kegotong-royongan yang sesungguhnya menjadi ciri khas budaya Bali,” tandas Madra. (*)


0 komentar:

Posting Komentar