Senin, 21 Januari 2013

LPD Sebagai Motor Pembangunan Desa Adat


Oleh 
I Ketut Madra, S.H., M.M. 
Kepala LPD Desa Adat Kedonganan

            SECARA sederhana, LPD dapat dikatakan sebagai lembaga yang bertujuan ganda, malah mungkin multitujuan. Di satu sisi, LPD didirikan untuk membangun dan memperkokoh perekonomian masyarakat desa adat. Di sisi lain juga memperkuat dan menjaga adat dan budaya masyarakat Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu.
            Karena itu, mencapai aset dan keuntungan maksimal bukanlah tujuan akhir LPD. Tujuan akhir LPD adalah tetap tegaknya adat dan budaya masyarakat Bali. Memang, tujuan itu diwujudkan melalui penyaluran dana pembangunan 20% dari keuntungan. Tapi, itu sungguh tidak cukup. LPD tidak bisa berposisi pasif, justru diharapkan LPD lebih aktif untuk memberdayakan masyarakat adat Bali. Lebih dari itu, melalui kemampuannya dalam menyerap dan menyalurkan modal milik masyarakat adat, LPD diharapkan bisa turut berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah sosial dalam menopang kebertahanan dan keberlanjutan adat dan budaya Bali.
            Salah satu masalah klasik dalam mewujudkan tetap bertahannya adat dan budaya Bali yakni stereotif bahwa adat dan budaya Bali itu mahal. Kesan ini memang tidak sepenuhnya salah karena kenyataannya eksistensi adat dan budaya Bali membutuhkan dukungan finansial yang tidak kecil. Jika LPD mau dan berani memainkan peran, tentu kesan adat dan budaya Bali yang mahal itu bisa ditepis. Caranya, melalui produk-produk atau program-program kegiatan yang berorientasi untuk meringankan beban biaya adat dan budaya. Pola yang ditempuh bisa memanfaatkan sikap hidup gotong-royong yang dilandasi semangat kebersamaan dan kekeluargaan.
            Misalnya, tradisi ngaben yang dianggap sebagai kewajiban personal umat Hindu membutuhkan biaya yang cukup besar. Di sisi lain, tradisi ini merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan. Jika kewajiban ini tidak ditunaikan, bisa berkembang menjadi masalah komunitas, bukan lagi sebatas masalah personal umat Hindu. Karena itu, pantas kiranya jika komunitas juga turut mengatasi masalah ini. Artinya, ngaben tidak lagi sebatas kewajiban personal tetapi juga menjadi tugas komunitas adat Bali. Pada titik inilah, sebagai lembaga keuangan khusus komunitas, LPD diharapkan bisa berperan besar.
            Masih banyak persoalan lain berkaitan dengan kebertahanan dan keberlanjutan adat dan budaya Bali yang membutuhkan peran LPD sebagai problem solving. Di antaranya, masalah kesempatan meraih pendidikan yang baik bagi krama, pengangguran, kenakalan remaja dan sejuta persoalan sosial lainnya yang jika tidak diatasi bisa menjadi batu sandungan bagi tetap terjaganya adat dan budaya Bali.
            LPD tentu akan menikmati keuntungan yang tak ternilai jika mampu memainkan peran dengan memberikan benefit lebih bagi krama desa. Yang dipupuk tidak saja kepercayaan krama tetapi juga LPD bakal semakin kokoh karena dirasakan kehadiran dan manfaatnya di tengah-tengah krama.
            Selama 21 tahun perjalanannya, LPD Desa Adat Kedonganan mencoba mengambil peran itu: sebagai motivator, motor penggerak serta dinamisator dalam pembangunan adat, budaya serta sosial ekonomi masyarakat Desa Adat Kedonganan. Tentu hasil yang dicapai tak sepenuhnya sesempurna yang dimimpikan. Tapi, justru itu terus menginspirasi LPD Kedonganan untuk tiada henti berinovasi demi tercapainya visi dan misi membangun komunitas adat Kedonganan yang sejahtera secara ekonomi sekaligus bermartabat dalam adat, budaya dan agamanya.(*)



0 komentar:

Posting Komentar