Selasa, 08 Januari 2013

“Kami Ingin Ikut “Mapunia” Untuk Membangun Desa”

Pengakuan Para Nasabah Setia

Putu Nuaja
JIKA dibandingkan dengan lembaga keuangan lain, layanan LPD Kedonganan tentu masih kalah jauh. Dalam urusan bunga misalnya, banyak lembaga keuangan kini menawarkan bunga menggiurkan untuk nasabah deposan dan tabungan. Begitu juga untuk kredit, tak sedikit yang menawarkan bunga di bawah satu digit. Belum lagi fasilitas anjungan tunai mandiri (ATM) yang memudahkan nasabah menjadi daya tarik lain.

Tapi, bagi salah seorang krama Desa Adat Kedonganan, Putu Nuaja, S.Sos., LPD tetap ada di hati. Nuaja menilai layanan LPD justru lebih bagus karena lebih cepat dan mudah. Tak cuma itu, pendekatan kepada nasabah pun lebih bersifat kekeluargaan.

“Kalau di bank pelayanan memang bagus, tapi tak secepat, semudah serta senyaman di LPD. Kalau meminjam uang di bank, persyaratannya banyak dan berat. Berbeda dengan di LPD, prosesnya lebih gampang. Apalagi kalau bayar kreditnya lancar, kita dapat lebih banyak kemudahan,” kata Guru Nuaja, panggilan akrab Putu Nuaja.

I Nyoman Karya
Itu sebabnya, Nuaja memilih LPD sebagai tempat untuk menyimpan maupun meminjam dana. Nuaja menuturkan dana duwe tengah milik keluarganya didepositokan di LPD. Sebaliknya, Nuaja juga meminjam di LPD untuk kebutuhan usahanya. “Saya punya beberapa usaha dan semuanya berkembang dengan dana pinjaman dari LPD,” kata Nuaja.

Nyoman Karya, krama Kedonganan yang sehari-hari menjadi guru SD 4 Jimbaran serta I Wayan Kabul Aryana, krama Kedonganan yang bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) juga menjadikan LPD Kedonganan sebagai pilihan pertama utama dalam menyimpan dan meminjam dana. Keduanya tercatat sebagai nasabah deposan setia di LPD Kedonganan.

“LPD ini kan milik desa. Artinya milik kami juga. Kalau bukan kami yang mendukung LPD, lalu siapa lagi? Toh, hasil dari LPD ini kami nikmati kembali dalam bentuk pembangunan di desa. Dan itu sudah terbukti nyata dan bisa dirasakan seluruh krama,” kata Karya yang juga mantan Penyarikan Desa Adat Kedonganan.

Kabul Aryana menambahkan LPD Kedonganan selama ini sudah terbukti bermanfaat bagi krama dan Desa Adat Kedonganan. Beban warga dalam melaksanakan upacara adat dan agama pun kian diringankan. “Kini kami sudah tidak pernah kena urunan untuk piodalan di pura lagi. Itu semua berkat LPD,” kata Kabul.

Nuaja menambahkan dirinya tetap menjadi nasabah LPD karena merasakan hal itu sebagai bagian dari kewajiban sebagai krama Desa Adat Kedonganan. ”Desa kini sudah tidak lagi membebani krama dengan urunan. Nah, kini kami ingin mapunia membangun desa dengan jalan menyimpan dan meminjam dana di LPD,” kata Nuaja.

I Nyoman Kabul Aryana
Ditanya soal kelemahan pengelolaan LPD Kedonganan selama ini, baik Nuaja, Karya dan Kabul mengaku belum melihatnya. Justru, kata mereka, selama ini pengelola LPD sudah cukup transparan.

“Malah saya bisa kapan saja ngobrol dengan Pak Madra (Ketua LPD) menyampaikan kritik atau saran saya terhadap pengelolaan LPD. Pak Madra terbuka karena menganggap LPD ini milik krama, termasuk saya sebagai salah seorang krama,” kata Nuaja.

Hanya memang, imbuh Nuaja, jika dimungkinkan dirinya berharap LPD Kedonganan bisa menurunkan suku bunga kredit lagi sedikit sehingga bisa meringankan beban krama yang meminjam uang di LPD. Bunga kredit yang rendah, kata Nuaja, juga akan makin menggairahkan usaha produktif krama sehingga berimplikasi pada meningkatnya kesejahteraan krama. Bila krama sejahtera, tentu LPD juga akan menikmati dampaknya karena tabungan dan deposito juga akan meningkat. (*)
           

                       

           

0 komentar:

Posting Komentar