Rabu, 09 Januari 2013

I Wayan Gandil, Sang Pembuka Jalan


I Wayan Gandil
            Krama Desa Adat Kedonganan pantas berterima kasih kepada I Wayan Gandil. Dialah sosok yang memainkan peranan penting pada pendirian LPD Desa Adat Kedonganan. Pada saat dia menjadi bendesa adatlah, LPD Desa Adat Kedonganan berdiri.
            Memang, pendirian LPD merupakan “hadiah” dari pemerintah menyusul keikutsertaan Desa Adat Kedonganan dalam lomba desa adat pada tahun 1989. Namun, “hadiah” itu tidak akan terwujud jika tak ada orang gigih semacam I Wayan Gandil yang membuka jalan.

            Betapa tidak, tatkala hendak mengirimkan krama untuk mengikuti pelatihan calon pengurus LPD di Hotel Bali Mulia, Denpasar, Gandil terantuk masalah. Tak ada krama yang mau mengikuti pelatihan tersebut. Akhirnya, melalui pendekatan dengan Ketua Pemuda Eka Santhi Desa Adat Kedonganan, I Made Subamia, ditemukanlah sosok I Ketut Madra yang akan dikirim mengikuti pelatihan. Ketut Madra dikirim mengikuti pelatihan bersama I Made Antara dan I Nyoman Darta.
            Namun, persoalan tidak selesai sampai di sana. Setelah ketiga anak muda Kedonganan itu mengikuti pelatihan, LPD tak kunjung terbentuk. I Wayan Gandil pun mendorong Madra dkk., untuk segera membentuk LPD.
            I Wayan Gandil menyadari keterbatasan desanya untuk mendukung pendirian LPD. “Pada awal berdiri, tiang pinjamkan dulu tempat untuk melaksanakan kegiatan LPD di Banjar Anyar Gede. Setelah itu barulah memiliki gedung sendiri di lokasi sekarang, tapi masih sederhana,” tutur I Wayan Gandil.
            Tantangan yang dihadapi I Wayan Gandil tidak hanya masalah ketersediaan fasilitas dan modal. Dukungan masyarakat juga masih rendah. Kepercayaan krama terhadap kehadiran LPD sangat minim. “Ketika itu krama memang sudah jerih, sulit diharapkan untuk menabung di LPD,” kenang Wayan Gandil.
            Akan tetapi, Wayan Gandil tak patah arang. Dia terus memotivasi krama untuk menabung atau pun meminjam uang di LPD Desa Adat Kedonganan. Hal itu terus dilakukan I Wayan Gandil hingga dirinya mapamit sebagai bendesa adat.
             Kendati sudah tidak lagi ngayah sebagai bendesa adat, Wayan Gandil tetap mengamati perkembangan LPD yang turut dibidaninya. Rasa syukur pun terpetik dari hatinya melihat perkembangan pesat LPD Desa Adat Kedonganan. Bahkan, Wayan Gandil secara jujur menyampaikan terima kasih dan rasa bangganya karena LPD Desa Adat Kedonganan telah mampu menjadi penyangga kegiatan adat dan budaya masyarakat Kedonganan. Dia menyebut pembangunan pura-pura di wilayah Desa Adat Kedonganan hingga ngaben dan nyekah masa gratis sebagai buah manis dari LPD Desa Adat Kedonganan.
            “Dulu, sebelum ada LPD, kami hanya mengandalkan hasil di laut untuk membangun pura atau pun melaksanakan upacara. Semua tentu tahu, berapa hasil laut di Kedonganan. Kini LPD telah mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu,” tandas Wayan Gandil dengan senyum bangga.

0 komentar:

Posting Komentar