Senin, 14 Januari 2013

Dari "Kado" Jadi Kado





MASA-masa awal yang pahit dan getir saat pendirian LPD Kedonganan tak terlepas dari kondisi masyarakat Kedonganan kala itu yang belum begitu berkembang. Kedonganan saat itu masih identik sebagai desa nelayan yang miskin. Menyebut Kedonganan, orang membayangkan sebuah tempat yang kumuh dan berbau.
Memang, sebagian besar masyarakat Kedonganan menggantungkan hidup dari laut, sebagai nelayan. Pendidikan masyarakat pun belum berkembang. Jumlah sarjana atau pun tamatan SMA masih bisa dihitung dengan jari. Tentu sangat tidak produktif bagi sebuah lembaga yang lahir dalam atmosfir masyarakat yang dilanda ketidakpercayaan dan pesimisme.
            Bendesa Adat Kedonganan kala itu, Wayan Gandil pun mengakui hal itu. “Ketika itu krama memang sudah jerih, sulit diharapkan untuk menabung di LPD,” kenang Wayan Gandil.
       Sikap masyarakat ini sebetulnya buah dari proses panjang yang telah terjadi di Desa Adat Kedonganan. Masyarakat trauma dengan kehadiran lembaga-lembaga keuangan maupun usaha lainnya di desa. Bendesa Adat I Wayan Gandil pun kesulitan mensosialisasikan kehadiran LPD. 
Pesimisme warga Kedonganan kemudian memuncak ketika mencuat keinginan untuk mengubah nama Desa Adat Kedonganan. Alasannya, nama Kedonganan tidak membawa hoki. Kedonganan dimaknai sebagai kegagalan atau kado (bahasa Bali). Buktinya, setiap usaha, setiap program di Kedonganan kerap kali menuai kegagalan. LPD Desa Adat Kedonganan menjadi korban dari sebuah stereotif yang telanjur terbentuk dalam benak masyarakatnya.
Terasa sekali nuansa irasional dalam pemikiran untuk mengubah nama Desa Kedonganan itu. Inilah refleksi keputusasaan yang lebih dipicu oleh keterbatasan kualitas SDM yang ada. Padahal, kegagalan dalam usaha atau pun melaksanakan program lebih dikarenakan kelemahan SDM, bukan karena kesalahan nama. Ibarat pepatah, “buruk rupa, cermin dibelah”.
Tapi, LPD Kedonganan akhirnya mampu membuktikan diri sebagai lembaga keuangan yang mampu eksis dan berkembang. Bahkan, LPD Kedonganan mampu berkontribusi dalam pembangunan di desa adat.
Jika pada awal didirikan, modal LPD Kedonganan hanya Rp 4.600.000, di akhir tahun 1995, modalnya sudah meningkat menjadi Rp 195.957.000. Bahkan, di akhir tahun 2011, modal LPD Kedonganan melesat menjadi Rp 21.677.952.000. Aset LPD Kedonganan juga berkembang pesat dari hanya Rp 67.842.000 pada akhir tahun 1990 menjadi Rp 162.478.762.000 pada akhir tahun 2011. Sementara laba yang berhasil dibukukan di akhir tahun 2011 sebesar Rp 5.095.821.000.
Kontribusi LPD Kedonganan terhadap pembangunan di desa adat juga cukup besar. Sesuai ketentuan Perda LPD, 20% dari keuntungan LPD diserahkan ke desa adat sebagai dana pembangunan. Hingga tahun 2011, jumlah dana pembangunan yang diserahkan LPD Kedonganan ke desa adat lebih dari Rp 8 milyar.
Karena itu, di mata krama Desa Adat Kedonganan, LPD kini telah dirasakan sebagai “kado”, sebagai “hadiah” yang benar-benar memberi manfaat. LPD tidak saja dirasakan manfaatnya dari sisi pemberdayaan perekonomian masyarakat, tetapi juga sebagai salah satu solusi dalam mengatasi beban sosial dan budaya sebagai manusia Bali.
“Kami di Desa Adat Kedonganan sangat berterima kasih atas adanya LPD dan kami berharap kontribusi dan peran aktif LPD selama ini dapat terus ditingkatkan bagi kesejahteraan masyarakat dan ajegnya adat serta budaya Bali di Kedonganan,” tandas Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Yasmika. (*)

0 komentar:

Posting Komentar