Selae Tiban (25 Tahun) LPD Desa Adat Kedonganan

Tahun 2015 ini, LPD Desa Adat Kedonganan genap berusia 25 tahun. Di ulang tahun perak ini, LPD Kedonganan mengadakan program khusus bertajuk "Selae Tiban LPD Desa Adat Kedonganan". Kata selae tiban dalam bahasa Bali berarti '25 tahun'

LPD Kedonganan Serahkan Dana Pembangunan Rp 1,8 Milyar

LPD Desa Adat Kedonganan menyerahkan dana pembangunan sebesar Rp 1,8 milyar kepada Desa Adat Kedonganan. Dana pembangunan ini diterima Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, di ruang pertemuan gedung LPD Desa Adat Kedonganan, Minggu (5/4)

LPD Kedonganan Kembali Bagikan Gratis 6 Ton Daging Babi

Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, LPD Desa Adat Kedonganan kembali membagikan daging babi gratis kepada seluruh krama desa dan nasabahnya. Kali ini pembagian dilaksanakan pada Minggu (12/7) pagi tadi di jaba sisi Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir kantor LPD Kedonganan.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan Pura Dalem Kahyangan

Setelah 23 tahun lalu, Desa Adat Kedonganan kembali melaksanakan Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Puncak karya dilaksanakan 21 Juli 2015. Seluruh krama Desa Adat Kedonganan diharapkan ikut ngastitiang, ngayah sekaligus nyanggra karya ini.

ST Banjar Kerthayasa Juarai Lomba Wirausaha Muda

Sekaa Teruna (ST) Banjar Kerthayasa menjuarai Lomba Wirausaha Muda serangkaian HUT ke-25 LPD Kedonganan, Sabtu, 22 Agustus 2015 lalu. Dengan proposal usaha tentang Bakso Lemuru, ST Banjar Kerthayasa berhasil meyakinkan tim juri yang dipimpin Guru Besar Ekonomi Undiknas, Prof. Dr. IB Raka Suardana.

Sabtu, 22 Agustus 2015

ST Banjar Kerthayasa Juarai Lomba Wirausaha Muda

Sekaa Teruna (ST) Banjar Kerthayasa menjuarai Lomba Wirausaha Muda serangkaian HUT ke-25 LPD Kedonganan, Sabtu, 22 Agustus 2015 lalu. Dengan proposal usaha tentang Bakso Lemuru, ST Banjar Kerthayasa berhasil meyakinkan tim juri yang dipimpin Guru Besar Ekonomi Undiknas, Prof. Dr. IB Raka Suardana.

Juara II diraih ST Banjar Pasek dengan proposal usaha produk dendeng Lucyfood. Sementara juara III disabet ST Banjar Pengenderan dengan proposal usaha kerajinan parcel.

Peserta Lomba Wirausaha Muda LPD Kedonganan berpose bersama Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra dan tim juri.
Lomba Wirausaha Muda digelar LPD Kedonganan sebagai upaya mendorong tumbuhnya wirausaha muda di Desa Adat Kedonganan. Sebelumnya, LPD juga sudah menggelar Temu Wirausaha Muda sebagai media berbagi pengalaman berwirausaha yang diharapkan dapat merangsang tumbuhnya minat generasi muda Kedonganan menjadi wirausahawan.

Peserta Lomba Wirausaha Muda berasal dari ST di enam banjar se-Desa Adat Kedonganan. Mereka membuat proposal kegiatan usaha yang kreatif dan produktif. Proposal dipresentasikan di hadapan tim juri.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menyatakan pihaknya akan mengarahkan para pemenang lomba untuk benar-benar menekuni bisnis secara nyata. “Bila perlu dibuatkan badan usahanya dan kami dari LPD Kedonganan siap untuk mem-back up dari sisi pendanaan. Dengan demikian, akan tumbuh wirausaha-wirausaha muda yang menjaga keberlangsungan perekonomian di desa adat Kedonganan,” tegas Madra.

Madra mengatakan kegiatan membangun semangat kewirausahaan di kalangan ST sudah menjadi komitmen LPD sejak lama. Program ini dilakukan tiap ulang tahun dengan memberikan bonus dan hadiah kepada para pemuda yang proposal bisnisnya menjadi pemenang. Dengan demikian, selain berani menumbuhkan ide-ide cerdas dalam sektor ekonomi, para pemuda pun sejak dini diajarkan untuk terus mencintai LPD sebagai lembaga komunitas yang juga menjadi milik mereka.

Raka Suardana mengapresiasi langkah LPD Kedonganan yang secara konsisten menggelar berbagai upaya membangkitkan semangat kewirausahaan anak-anak muda terutama dari kalangan ST. Hal ini sesuai dengan komitmen LPD sebagai lembaga keuangan komunitas adat di Bali yang mengemban misi menjaga budaya Bali melalui penguatan sektor perekonomian masyarakat adat.

Dia pun menyatakan bangga dengan ide-ide rencana bisnis yang disuguhkan anak-anak muda Kedonganan dalam lomba wirausaha muda itu. Para pemuda setempat dinilai mampu mengangkat nilai dan cirri khas Kedonganan sebagai kampung seafood, sehingga produk olahan dari ikan menjadi ciri khas desa Kedonganan.


“Mudah-mudahan ke depannya LPD tidak berhenti sampai di sini, dan terus berlanjut membangun dan menjadi motivator perekonomian masyarakat yang dimulai dari anak-anak mudanya,” tegasnya. (*)

Selasa, 21 Juli 2015

Menyelami Proses Penciptaan Dunia, Memetik Anugerah Sang Pencipta

Memaknai Upacara Mapaselang dan Mapadhanan


Puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan, Selasa (21/7) berlangsung khidmat. Sejak pagi, ribuan krama Desa Adat Kedonganan berpakaian serbaputih memenuhi areal Pura Dalem. Saking membludaknya, krama yang ngaturang muspa mesti rela melakukannya dari jaba pura.

Setelah upacara ngenteg linggih ngingkup utama di Pura Dalem dan Pura Mrajapati yang dimulai pukul 08.00, tibalah prosesi puncak yang dinanti-nanti. Ritual ini bernama Mapaselang dan Mapadhanan.

Prosesi Mapaselang
Mapaselang ditandai dengan prosesi diturunkannya seluruh pratima dan pelawatan Ida Batara dari bale pangaruman menuju bale paselang, sebuah bale khusus yang merupakan nyasa (simbol atau lambang) Sang Hyang Purusa-Pradhana (Semara-Ratih) menciptakan bumi beserta segala isinya. Untuk menuju bale paselang, seluruh pratima dan pelawatan mesti menyusuri jalur khusus (lantaran) yang dilapisi kain putih panjang. Sebelum tiba di bale paselang, seluruh palawatan dan pratima itu mesti menyentuh sesaji khusus yang diatasnya dilapisi kulit dan kepala kerbau serta menapaki tangga tebu ratu. Prosesi ini kerap disebut matiti-mamah.

Setelah seluruh pratima dan pelawatan berkumpul di bale paselang, sulinggih yajamana karya membacakan lontar Pajejiwan, teks berbahasa Kawi yang menjelaskan proses penciptaan dunia.

Usai ritual Majejiwan, seluruh pratima dan pelawatan tedun ke bale panggungan di jaba tengah pura. Dari sini lantas seluruh palawatan dan pratima kembali diusung menuju bale padanan di madya mandala. Di sinilah kemudian dilakukan prosesi Mapadhanan. Krama desa mendekat memperebutkan berbagai barang yang tersedia di bale pedhanan. Agar tidak ricuh, panitia berkreasi dengan melemparkan amplop ke kerumunan warga. Tiap amplop berisi nomor yang bisa ditukarkan dengan benda-benda yang tersedia di bale padhanan.

Prosesi Mapadhanan

Yajamana Karya, Ida Pedanda Putra Telaga menjelaskan ritual Mapeselang dan Mapadhanan memang menjadi prosesi inti dalam Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan dalam tingkatan utama. Mapeselang bermakna turunnya Ida Bhatara untuk menciptakan kembali dunia beserta segala isinya. Sesudahnya, dalam prosesi Mapadhanan, Ida Batara mapaica dhana (memberikan anugerah) kepada seluruh umat.

“Upacara ini memang mengajak umat menyelami proses penciptaan kembali dunia menuju lembaran hidup baru yang lebih baik. Karena itu, setelah puncak karya, nanti akan disusul dengan upacara Makebat Daun. Makna Makebat Daun, membuka lembaran baru dalam hidup. Jadi, setelah karya ini, krama Desa Adat Kedonganan mesti membuka lembaran hidup yang baru, lebih baik dari kemarin dan hari ini,” papar Ida Pedanda.

Sejumlah krama yang mendapatkan amplop pun terlihat girang. Mereka pun menukarkan amplop-amplop itu ke prajuru yang bertugas di bale padhanan. Ada yang mendapatkan gayung, kuali, panci, palu dan berbagai barang lainnya.

Prosesi Mapaselang dan Mapadhanan berlangsung hingga pukul 13.00. Sore hari dilanjutkan dengan melaksanakan prosesi Pangilen-ilen (lokacara) pamangku.


Manggala Karya, I Ketut Madra berharap krama Desa Adat Kedonganan memahami dan memaknai karya ini sepenuh hati. Dengan begitu, biaya besar yang dikeluarkan dengan tulus ikhlas dan rasa bhakti bisa menjadi yadnya yang satwika (suci). (*)

Hari Ini, Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Dalem Kahyangan

Hari ini, Selasa, 21 Juli 2015, bertepatan dengan Anggara Umanis wuku Kuningan, dilaksanakan puncak Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Kedonganan. Prosesi puncak karya dimulai pukul 08.00 dan di-puput delapan sulinggih

Ketua Panitia Karya, I Ketut Madra, S.H., M.M., menjelaskan prosesi upacara dimulai pukul 08.00 di Pura Dalem Kahyangan berupa Ngenteg Linggih Ngingkup Utama dengan sarana upakara nyatur muka serta di Pura Mrajapati berupa ngenteg linggih dengan sarana upakara nyatur rebah. Upacara di Pura Dalem Kahyangan di-puput tiga orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Bajing, Ida Pedanda Sari Arimbawa, dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri. Upacara di Pura Mrajapati di-puput Ida Pedanda Oka Timbul.

(Foto: Mahendra De Winatha)

Sekitar pukul 11.00 dilanjutkan dengan upacara Mapeselang dengan sarana upakara nyatur rebah malantaran kebo di Pura Dalem. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Putra Telaga dan Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa. 

Upacara Ida Bhatara Tedun ke Paselang adalah yasa patemon Hyang Widhi dalam prabawa Semara-Ratih, untuk menciptakan dunia ini dengan segenap prabawa-Nya.Upacara ini sebagai wujud cinta kasih Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk jenis ciptaan-Nya, yang menyebabkan manusia hidup dengan makmur dan sejahtera. Dewa Semara Ratih  (Kamajaya-Kamaratih) dipuja dengan warna yang serba kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara ini juga menyimbolkan bhakti disambut asih dari Hyang Widhi Wasa sebagai jiwa seluruh alam dan sebagai sumber kehidupan di Tri Bhuwana ini. Jiwa kita ini pun adalah pinjaman dari Hyang Widhi Wasa.

Upacara Mapeselang ini adalah lambang bertemunya Hyang Widhi Wasa dengan umat manusia, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta kasih. Cinta kasih Hyang Widhi Wasa kepada umat-Nya telah terbukti dalam bentuk pencipta dunia beserta isinya, dengan kekuatan-kekuatan sucinya mengatur dunia ini. Beliau menciptakan gunung, laut, danau, hutan, sawah, ladang, matahari, segala materi yang berharga serta semuanya merupakan kekuatan kehidupan manusia. Inilah bentuk cinta kasih Tuhan untuk umat manusia.

Dalam upacara “Mapeselang” Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam wujud Purusa Predana sebagai Dewa Semara Ratih, lambang dewa Cinta kasih.

Saat upacara Mapeselang inilah dilaksanakan prosesi Majejiwan, yakni pembacaan lontar Pajejiwan oleh sulinggih. Dalam teks Pajejiwan itu jelas sekali diungkapkan adisrsti (ciptaan mulia) Hyang Widhi, nresti alam raya ini dengan komponen-komponennya, sehingga umat manusia dan makhluk lainnya menjadi makmur, sejahtera dan bahagia dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.

Dalam teks Pajejiwan disebutkan, di samping Hyang Widhi menciptakan alam raya ini dengan langit, matahari, bulan dan bintang, juga diciptakan gunung, danau, sungai dan segara (laut). Termasuk menciptakan tarulata, gulma, sthawara dan jenggama serta berbagai ciptaan mulia (adisrsti) lainnya.

Sarana upakara yang digunakan yakni nyatur rebah dengan lantaran kerbau. Karya Agung padudusan AgungNgenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan menggunakan seekor kerbau yos brana. Kerbau jenis ini dalam bahasa Latin diberi nama Bubalus bubalis. Kerbau yos brana adalah kerbau piaraan yang dihasilkan dari perkawinan kerbau jantan (kulit dan bulunya berwarna hitam) dengan kerbau betina (kulit dan bulunya berwarna putih). Ciri khas kerbau yos brana adalah kulit berwarna hitam, bulu berwarna putih.

Pukul 15.00 dilaksanakan upacara Mapadhanan di Pura Dalem dengan sarana upakara nyatur rebah caru ngempong asu. Upacara ini di-puput dua orang sulinggih, yakni Ida Pedanda Putraka Timbul dan Ida Pedanda Anom Timbul. 

Upacara Mapedhanan dilaksanakan dengan cara berjalan beramai-ramai merebut benda-benda di  PedananPedhanan merupakan nyasa prakertti/kehidupan. Pedhanan juga merupakan lambang untuk melepaskan diri pribadi dari sifat-sifat yang tidak baik. Segala sifat tidak baik, itu disalurkan ke dalam upacara dengan benda-benda di Pedanan. Diharapkan sifat-sifat yang negatif yang melekat pada diri pribadi masing-masing hilang lenyap sehingga manusia menjadi suci ikhlas, tidak serakah.

Prosesi puncak acara diakhiri dengan parikrama pangilen-ilen (lokacara) pamangku sekitar pukul 19.00. 

Ketut Madra berharap seluruh krama Desa Adat Kedonganan tedun untuk menyukseskan puncak karya. Menurut Madra, Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan sesungguhnya sebagai upaya mapahayu parhyangan untuk mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)



Minggu, 19 Juli 2015

Sejarah Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan

Tidak mudah melacak kapan Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan berdiri. Namun, dapat diduga, Pura Dalem Kahyangan ini berusia sezaman dengan pendirian Desa Adat Kedonganan.

Awalnya, Pura Dalem Kahyangan terpisah dengan daratan. Hal ini dikarenakan areal pura di pantai timur dikelilingi oleh rawa-rawa. Warga sering menyebut Pura Dalem Kahyangan sebagai pura di tengah laut. Untuk mencapai pura ini warga harus melintasi sebuah jembatan bambu, terutama jika air laut sedang pasang.

Kondisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan tahun 1992 (Foto: Dokumentasi Ketut Madra)

Hingga akhir tahun 1990-an, kondisi Pura Dalem Kahyangan sungguh memprihatinkan. Atap palinggih pura banyak yang bocor, dinding pura pun mulai rapuh karena dekat dengan pantai. Kondisi pura yang kurang representatif membuat krama merasa miris.

Pada tahun 1992, paruman desa yang dipimpin Bendesa Adat Kedonganan kala itu, I Gede Berata memutuskan memugar Pura Dalem Kahyangan. Namun, pemugaran tidak mudah dilakukan karena sulit membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi pura. Karena itu, dibuatkan jembatan sederhana yang menghubungkan daratan dengan pura. Lama-kelamaan jembatan ini diuruk sehingga antara daratan dan lokasi pura pun terhubung, menyatu dengan daratan. Kini, krama sudah mudah mengakses lokasi pura.

Tantangan lain yang dihadapi untuk memugar Pura Dalem Kahyangan tentu saja aspek biaya. Ketika itu, kondisi perekonomian desa maupun krama desa masih kurang memprihatinkan. Sebagian besar warga Kedonganan berprofesi sebagai nelayan dengan pendapatan yang sangat minim. Sementara pembangunan Pura  Dalem Kahyangan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta.

Melihat kenyataan itu, prajuru Desa Adat Kedonganan membentuk panitia pembangunan pura yang diketuai salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Ritig. Ketika itu, Desa Adat Kedonganan baru dua tahun memiliki sebuah lembaga keuangan milik desa adat bernama Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan. Sebagai wadah kekayaan desa adat, LPD Kedonganan pun dilibatkan sebagai pengelola dana. Karena itu, Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra didudukkan sebagai bendahara panitia. Sinergi antara panitia dan pengurus LPD pun terjalin.


Untuk mendapatkan dana awal, prajuru desa dan panitia pembangunan pura mendorong krama desa, terutama yang mampu secara ekonomi, untuk mapunia. Tiap-tiap krama desa yang mampu mapunia Rp 60.000. Punia itu pun dicicil selama setahun atau Rp 5.000 per bulan. Dari dana iuran ini terkumpul dana sekitar Rp 60 juta. Dana inilah yang dijadikan modal awal untuk melaksanakan pemugaran pura. Dengan adanya modal awal ini, para pemborong menjadi percaya dengan kemampuan panitia untuk merampungkan pemugaran dan krama pun yakin pemugaran bisa diselesaikan.

Selanjutnya panitia menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dana pembangunan pura, seperti mengadakan bazar dan terus mendorong dana punia, terutama dari krama yang memiliki usaha. Sejumlah krama desa yang memiliki usaha toko bahan bangunan, selain turut mapunia juga memberikan keleluasaan sistem pembayaran bahan bangunan bagi panitia. Krama desa juga bahu-membahu ikut terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan pura. Akhirnya, Pura Dalem Kahyangan bisa dirampungkan.

Berkat kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini pula, tumbuh kepercayaan diri krama Desa Adat Kedonganan untuk membangun desanya menjadi lebih baik. Bahkan, kesuksesan pembangunan Pura Dalem Kahyangan ini berdampak pada perkembangan LPD Kedonganan sebagai lembaga keuangan milik Desa Adat Kedonganan.

Pada tahun 2015, Pura Dalem Kahyangan kembali direnovasi. Namun, renovasi dilakukan dalam tingkatan ringan. Hal ini dikarenakan usia pura yang sudah mencapai 23 tahun sejak dipugar total tahun 1993 silam. Ada beberapa alasan renovasi ringan terhadap Pura Dalem Kahyangan. Pertama, kondisi fisik pura yang sudah dipandang perlu untuk diperbaiki. Kedua, umur padagingan di pura pada tahun 2015 sudah mencapai 23 tahun dan sudah saatnya dilaksanakan karya mupuk mapadagingan. Ketiga, sebagai bagian dari persiapan nyanggra karya padudusan.

Setelah berkonsultasi dengan sulinggih dan merujuk sumber-sumber sastra agama Hindu, paruman Desa Adat Kedonganan memutuskan menggelar Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan.


Sabtu, 18 Juli 2015

Begini Makna Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih dan Mupuk Padagingan

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan merupakan jenis upacara besar dalam kelompok Dewa Yadnya yang dilaksanakan terhadap pura yang baru selesai dibangun maupun pura yang baru selesai direnovasi. Selain itu, upacara semacam ini biasanya digelar dalam siklus selama-lamanya 30 tahun. Hal ini sesuai dengan lontar Dewa Tattwa dan lontar Medang Kemulan.

Padudusan Agung bermakna sebagai penyucian pada tingkatan utama. Kata padudusan berasal dari akar kata dus dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti ‘mandi’, dyus berarti ‘air mandi’ atau ‘air untuk upacara penyucian’ dan adyus berarti ‘mandi’ atau ‘bermandi’. Dalam konteks upacara, padudusan diartikan sebagai menyucikan.

(Foto kolase oleh Mahendra De Winatha)

Ada dua jenis karya padudusan, yakni padudusan alit dan padudusan agung. Karya padudusan alit biasanya dilaksanakan pada pura-pura keluarga atau pun tingkatan awal untuk pura kahyangan desa, sedangkan padudusan agung digelar pada pura kahyangan jagat, termasuk kahyangan desa atau karya tingkatan utama.

Ngenteg Linggih berasal dari dua kata, yaitu ngenteg dan linggih. Ngenteg atau enteg berarti ‘pageh’, ‘ajeg’, ‘kokoh’, ‘stabil’, ‘langgeng’ atau ‘abadi’. Linggih memiliki arti ‘duduk’. Karena itu, ngenteg linggih diartikan sebagai ngentegang linggih atau memantapkan, memperkokoh, atau menstabilkan kesucian stana Ida Bhatara.

Ada dua jenis tingkatan upacara ngenteg linggih yaitu ngenteg linggih mamungkah dilaksanakan saat melakukan pembangunan atau pemugaran total pura, dan ngenteg linggih mupuk yang dilaksanakan setiap selama-lamanya 30 tahun sekali atau saat dilaksanakan renovasi ringan terhadap bangunan pura. Karya yang dilaksanakan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan saat ini termasuk ngenteg linggih mupuk karena dilaksanakan setelah pura direnovasi ringan.

Mupuk padagingan berasal dari kata mupuk dan padagingan. Kata mupuk biasanya disejajarkan dengan kata nyusun yang berarti ‘memperbarui benda yang telah lapuk atau rusak’. Padagingan berasal dari kata daging yang berarti ‘isi’ atau ‘inti’. Dalam lontar Dewa Tattwa disebutkan setiap kahyangan wajib menggunakan padagingan.

mwah yan hana wwang angwangun kahyangan, nora mapadagingan nista, madya, utama, ne mawasta pawangunan sthanan dewa, yan nora kadi harep dudu kahyangan dewa, dadi umah bhuta kubandha, tan pegat anandang wyadi sang madruwe kahyangan mwang kagringan kapati-pati, salah ton karangsukan dening bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”

Artinya,

“dan bila ada orang membangun kahyangan, tidak memakai padagingan nista, madya, utama, yang namanya palinggih/sthana Dewa, bila tidak seperti di depan, bukanlah kahyangan Dewa, akan menjadi rumahnya para bhutakala kubandha, tidak henti-hentinya akan tertimpa mala petaka orang yang memiliki kahyangan, serta akan tertimpa penyakit sampai ajal merengut nyawa, akibat dari tidak sesuai dengan tujuan, sehingga disusupi bhuta kabandha, pisaca, cuwil.”
           
Padagingan inilah, setelah pura dipugar atau direnovasi wajib diperbarui lagi. Bila pun tidak direnovasi, dalam rentang waktu selama-lamanya 30 tahun, wajib juga dilakukan upacara penyucian kembali. Upacara penyucian kembali inilah biasanya berupa disebut Mupuk Padagingan.

Secara filosofis, upacara penyucian kembali selama-lamanya 30 tahun setelah upacara penyucian sebelumnya, dimaksudkan untuk tetap mempertahankan kesucian pura. Setelah tiga dasa warsa, diyakini kesucian pura semakin memudar. Ibarat energi, daya tarik energi pura yang disimbolkan dalam bentuk padagingan sudah mulai luntur sehingga perlu diperkuat lagi, patut diperbarui lagi.

Secara sosiologis, pelaksanaan upacara penyucian pada rentang waktu selama-lamanya 30 tahun juga sebagai upaya alih generasi. Melalui upacara penyucian kembali, generasi penerus diharapkan memahami tugas dan tanggung jawab untuk menjaga keajekan agama Hindu serta adat dan budaya Bali di desa adat.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kedonganan dilaksanakan setelah 23 tahun upacara serupa digelar. Karena itu, karya di Pura Dalem Kahyangan ini sesuai tuntunan sastra agama Hindu karena dilaksanakan sebelum melewati rentang waktu 30 tahun.

Karya Padudusan Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Padagingan ini tidak semata sebagai upacara untuk memantapkan kesucian palinggih Ida Bhatara, tetapi juga bermakna memantapkan sradha dan bhakti umat panyungsung pura. Karena itu, selain melaksanakan upacara ngenteg linggih di pura, krama desa juga selayaknya ngentegang linggih di dalam diri masing-masing, meneguhkan sradha dan bhakti ke hadapan Ida Bhatara.