Bagikan Daging Babi Sehat, Kedonganan Jadi Pionir

Desa Adat Kedonganan yang membagikan daging babi sehat melalui program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan" LPD Kedonganan menjadi poionir tanggap darurat MSS di Kabupaten Badung

"Mabuug-buugan Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Kabupaten Badung

Tradisi Mabuug-buugan yang dilaksanakan krama Desa Adat Kedonganan saban hari Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi, ditetapkan sebagai warisan budaya Kabupaten Badung. Penetapan ini disampaikan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prastha saat acara Segara Langu di Pantai Kedonganan, Rabu, 29 Maret 2017.

Kunjungan Prodi Magister Manajemen Undiknas Denpasar

Sejumlah dosen dan mahasiswa Pascasarjana (S2) Program Studi Magister Manajemen (MM) Undiknas Denpasar berkunjung ke LPD Desa Adat Kedonganan, Senin, 20 Maret 2017. Kunjungan ini bertujuan mengenal lebih dekat pengelolaan lembaga keuangan berbasis adat dan budaya Bali.

Penyerahan Santunan Kematian dan Dana Duka Cita Kepada Keluarga Almarhum I Gede Arsa Kusuma Wijayaongan

LPD Desa Adat Kedonganan menyerahkan dana santunan kematian bagi peserta program Tabungan Beasiswa (Tabe) Plus yang meninggal dunia karena kecelakaan di air terjun Tegenungan, I Gede Arsa Kusuma Wijaya. Santunan kematian sebesar Rp 20 juta itu diterima ayah almarhum I Gede Rai Wijaya di rumah keluarga almarhum, Jumat,17 Maret 2017. Selain santunan kematian, almarhum juga menerima dana duka cita dari LPD Kedonganan sebesar Rp 2 juta.

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Minggu, 03 September 2017

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

PKK Banjar Kerthayasa Juara


Saking manah tulus, lurus, serius
Pinaka dasar ngayah ring desa
Ngwangun LPD
Labda Pacingkrean Desa
Sami saking warga desa

Petikan lirik lagu "Mars LPD Kedonganan" itu terus berkumandang di tengah gemuruh krama Desa Adat Kedonganan yang memenuhi areal Banjar Pasek, Desa Adat Kedonganan, Minggu (3/9) sore. Lagu ciptaan Panji Kuning itu menjadi lagu wajib dalam lomba paduan suara (padus) antar-PKK banjar se-Desa Adat Kedonganan yang digelar serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Tim Paduan Suara Banjar Kerthayasa yang tampil sebagai juara I.
Ketua LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. menegaskan lomba paduan suara merupakan wujud perhatian LPD Kedonganan kepada krama istri yang tergabung dalam PKK banjar karena menjadi tiang penyangga keluarga adat Bali. Keberadaan krama istri, kata Madra, berperan besar dalam menopang keberlanjutan adat dan budaya Bali yang dijiwai agama Hindu. LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di desa adat, patut memberi perhatian dan memfasilitasi potensi dan prestasi krama istri, khususnya ibu-ibu PKK banjar.

Tim Paduan Suara Banjar Kubu Alit yang tampil sebagai juara II.
Madra berharap, melalui lomba padus dengan “Mars LPD Kedonganan” sebagai lagu wajib, ibu-ibu PKK menjadi duta LPD dalam mensosialisasikan spirit LPD Kedonganan, yakni tulus, lurus, dan serius (Tri-Us). “Tulus itu keikhlasan ngayah untuk membangun desa, lurus itu sikap taat pada aturan dan rambu-rambu di LPD dan di desa adat, serta serius adalah kesungguhan bekerja untuk memajukan LPD dan Desa Adat Kedonganan,” kata Madra.

Konsep Tri-Us, menurut Madra, memang dicetuskannya dalam kerangka pengelolaan LPD. Sejatinya, konsep itu digali dari kearifan lokal masyarakat adat Bali, termasuk di Desa Adat Kedonganan. Konsep itu juga dimunculkan dalam Pararem Panyacah Awig yang secara khusus mengatur tata kelola LPD Kedonganan.

Tim Paduan Suara Banjar Anyar Gede yang tampil sebagai juara III.
Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag. menyambut baik inisiatif LPD Kedonganan menggelar lomba padus antar-PKK banjar. Menurut Puja, antusiasme krama istri berlomba serta krama desa menyaksikan lomba menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan di kalangan krama. “Ibu-ibu yang umumnya sibuk dalam kegiatan rumah, baik di dapur maupun kegiatan yadnya, mampu tampil dengan baik, termasuk memberi teladan dalam berpenampilan sesuai budaya Bali,” kata Puja.

Tim Paduan Suara Banjar Pengenderan yang tampil sebagai peringkat IV.
Lomba paduan suara berlangsung meriah. Masing-masing banjar tampil disaksikan para suporternya. Tim juri terdiri atas para akademisi dan praktisi dalam bidang seni suara dan musik, di antaranya AA Alit Sudarsana, Luh Gedong Renen, dan Putu Aryama.

Tim juri menetapkan pemenang menetapkan PKK Banjar Kerthayasa sebagai pemenang I (nilai 1.932), disusul PKK Banjar Kubu Alit sebagai pemenang II (nilai 1.846) dan PKK Banjar Anyar Gede sebagai pemenang III (nilai 1.841). Sementara peringkat IV, V dan VI, masing-masing diraih PKK Banjar Pengenderan (nilai 1.782), PKK Banjar Ketapang (nilai 1.740) dan PKK Banjar Pasek (nilai 1.719).

Tim Paduan Suara Banjar Ketapang yang tampil sebagai peringkat V.
Selain lomba paduan suara, pada pagi hari juga digelar lomba lagu pop Bali solo remaja antarpemuda se-Kedonganan dan lomba lagu pop Bali solo anak-anak antar SD se-Kedonganan. Lomba lagu pop Bali solo remaja dimenangi STT Kertha Muda Yasa sebagai juara I (nilai 1.456), STT Dharma Sentana sebagai juara II (nilai 1.431) dan STT Suka Karya sebagai juara III (nilai 1.389). Lomba lagu pop Bali solo anak-anak dimenangi SD 2 Kedonganan sebagai juara I (nilai 1.432), SD 4 Kedonganan sebagai juara II (nilai 1.405), dan SD 1 Kedonganan sebagai juara III (nilai 1.326).

 Tim paduan suara Banjar Pasek yang meraih peringkat VI. 
“Hadiah kepada para pemenang akan diserahkan saat puncak HUT ke-27 LPD Kedonganan, Sabtu (9/9) mendatang,” kata Ketua Panitia HUT ke-27 LPD Kedonganan, I Made Andry Susila Wijaya, S.E.. (*)

Sabtu, 29 Juli 2017

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7). Kegiatan serangkaian perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Kedonganan itu, selain untuk meringankan beban krama juga mewujudkan Panca Kertha di Desa Adat Kedonganan.

“Dalam pararem LPD, juga memberi ruang akan hal tersebut. Itu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masuk dalam panca kertha, menjaga keseimbangan sekala dan niskala mencapai moksartham jagadhita,” beber Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra.

Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal Desa Adat Kedonganan, Sabtu (29/7).

Upacara ini, imbuh Madra, merupakan buah dari sinergi masyarakat adat. Ke depan, kata dia, kegiatan ini akan menjadi salah satu produk LPD Kedonganan.


“Panglukatan Sapuh Leger merupakan amanat sastra agama. Sebagai lembaga keuangan adat Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu, kami mencoba meresponsnya,” kata Madra. 

Upacara Panglukatan Sapuh Leger diikuti lebih dari 700 krama. Upacara di-puput Ida Pandita Mpu Jaya Wijayanandha dari Griya Kutuh, Kuta.

Manggala Prawartaka Karya, Nyoman Suarjana menjelaskan para peserta itu terbagi dalam 19 kategori. Ada kategori anak yang dilahirkan pada rahina Tumpek Wayang, anak melik, anak sampir (anak yang dilahirkan berkalung tali pusar), tiba angker (anak yang terlahir terbelit tali pusar atau tidak menangis), anak jempina (anak terlahir premature), anak margana (anak yang terlahir di tengah perjalanan), anak wahana (anak yang lahir di tengah keramaian), anak julung aangi (anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit), anak julung sungsang (anak yang lahir tepat tengah hari), anak kembar, anak kembar buncing, tawang gantungan (anak lahir kembar selisih satu hari), pancoran apit telaga (tiga bersaudara: perempuan-laki-perempuan), telaga apit pancoran (laki-perempuan-laki), papilan (lima bersaudara: 4 perempuan dan 1 laki), padangon (lima bersaudara: 4 laki dan 1 perempuan), sanan empeg (anak yang lagir diapit oleh saudara yang meninggal), puja daha (perempuan yang sedang hamil melewati Tumpek Wayang), serta anak julung sarab, julung macan, dan julung caplok (anak yang lahir pada saat matahari tenggelam).

Suarjana mengakui, ritual ini baru pertama kali digelar di Desa Adat Kedonganan. Pelaksanaan ritual itu didasari atas keputusan prajuru Desa Adat Kedonganan, dengan persiapan kurang lebih selama dua minggu. 

“Tentu ini menjadi momentum yang sangat luar biasa bagi masyarakat. Masyarakat tentu akan sangat diringankan, karena semua biaya ditanggung oleh desa adat,” ujarnya. 

Suarjana berharap agar ritual bisa terselenggara secara berkelanjutan, minimal  sekali dalam setahun. “Meski ini baru dilaksanakan pertama kalinya, masyarakat tampaknya sangat antusias. Buktinya, peserta yang ikut cukuplah banyak,” tandasnya. (*)

Minggu, 28 Mei 2017

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

“Jiwa wirausaha harus dikembangkan sejak dini agar mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri,” kata Ketua Karang Taruna Eka Çanthi Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana dalam acara seminar wirausaha bertajuk “Kolaborasi Membangun Kedonganan” di ruang pertemuan LPD kedonganan, Sabtu (27/5).

Para pembicara dan tokoh masyarakat Kedonganan berpose usai seminar.

Seminar yang dihadiri ratusan peserta ini menampilkan pembicara praktisi bisnis, Gendro Salim; Ketua BPKP2K Desa Adat Kedonganan, Wayan Mertha; serta Kapala LPD Kedonganan, Ketut Madra. Turut hadir pula Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Badung, Ketut Karpiana mewakili Bupati Badung; Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya, tokoh masyarakat Kedonganan serta anggota Karang Taruna Eka Çanthi Kedonganan.

Gendro Salim mengatakan perekonomian secara nasional dan global tengah berkembang. Ekonomi Indonesia tumbuh semakin baik, bahkan pertumbuhan ekonomi Bali di atas pertumbuhan nasional. Ia mendorong generasi muda Kedonganan ikut ambil bagian dalam pertumbuan ekonomi Indonesiaitu. Ia pun siap mendampingi generasi muda Kedonganan untuk menjadi pelaku wirausaha yang tangguh. “Berikan saya 10 orang saja, saya akan mendidik mereka menjadi wirausahawan yang tangguh,” ucapnya

Kepala LPD Kedonganan, Ketut Madra mengatakan sebagai pilar ekonomi desa pihaknya mendukung segala kegiatan yang dilaksanakan krama termasuk generasi muda guna meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Desa Adat Kedonganan. LPD Kedonganan, kata dia, sangat ingin generasi muda Kedonganan berani menjadi wirausaha yang tangguh dan mandiri serta mampu menggarap potensi-potensi yang ada di Desa Adat Kedonganan.

“LPD Kedonganan siap mendukung terciptanya pengusaha-pengusaha muda Kedonganan yang tangguh dan berdaya saing tinggi,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua BPKP2K Desa Adat Kedonganan, Wayan Mertha. Dia mengajak peserta seminar melihat peluang-peluang usaha yang bisa digarap, khususnya di Desa Adat Kedonganan. Dipaparkannya, banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan. Namun, diakui Mertha, perlu sinergi semua pihak, bersatu menyamakan persepsi dalam menggarap peluang tersebut.


Bupati Badung yang diwakili Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Badung, Ketut Karpiana menyambut positif kegiatan seminar kewirausahaan yang digelar Karang Taruna Eka Çanthi dan LPD Kedonganan. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan keinginan generasi muda dalam membangun usaha demi terciptanya kesejahteraan di masyarakat sehingga berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi di Desa Adat Kedonganan khususnya dan Kabupaten Badung pada umumnya. (*)

Senin, 03 April 2017

Tak Khawatirkan MSS, Warga Kedonganan Tetap Berjubel Ikuti Program "Berbagi Daging Babi"

Meskipun merebak isu bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS), krama Desa Adat Kedonganan sepertinya tidak terlalu khawatir. Buktinya, krama yang datang mengikuti program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan" di LPD Kedonganan tetap berjubel. Mengenakan pakaian adat madya, krama dan nasabah datang ke jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Kedonganan sejak pukul 07.00 hendak menukarkan kupon dengan 3 kg daging babi.

Krama dan nasabah antre hendak menukarkan kupon untuk mendapatkan 3 kg daging babi dari LPD Kedonganan. 
Sejumlah krama mengungkapkan mereka tidak khawatir dengan merebaknya isu bakteri MSS karena sudah ada penjelasan dari pakar dan pemerintah mengenai bagaimana menyiapkan dan mengolah daging babi yang sehat dan aman. "Lagi pula saya biasanya goreng saja, jadikan gorengan lebih enak dan aman," kata salah seorang krama.

 Merebaknya isu bakteri MSS tak membuat warga Kedonganan khawatir mengkonsumsi daging babi.
I Ketut Wiji, seorang  nasabah LPD Kedonganan juga mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai bakteri MSS yang belakangan ramai diberitakan. Wij mengaku selalu menyuci bersih daging yang akan diolah. Setelah dicuci bersih, daging babi itu dimasak sampaibenar-benar matang.

"Kalau sudah bersih dan dimasak matang, tak perlu khawatir," ujar Wiji. (*)


Bagikan Daging Babi Sehat, Kedonganan Jadi Pionir Tanggap Darurat MSS

Upaya serius LPD dan Desa Adat Kedonganan memeriksa babi sebelum dipotong dan dibagikan kepada krama dalam program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan dan Kuningan" diapresiasi Pemkab Badung. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja yang mewakili Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menyebut Desa Adat Kedonganan sebagai satu-satunya desa adat tanggap darurat bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS). 

"Kedonganan menjadi pionir dalam upaya mewujudkan daging babi yang sehat untuk dikonsumsi warga," kata Sudaratmaja saat memberikan sambutan dalam acara pembagian daging babi kepada krama Desa Adat Kedonganan di jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Kedonganan, Senin, 3 April 2017.

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja didampingi Camat Kuta, I Gde Rai Wijaya, Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja dan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyerahkan daging babi secara simbolis kepada para kelian banjar se-Desa Adat Kedonganan. 
Menurut Sudaratmaja, berkaca pada kasus penyebaran MSS serta program positif di Kedonganan, Badung sudah mengintensifkan pengawasan kegiatan pemotongan babi di wilayah Badung menjelang hari raya Galungan. Bahkan, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun ini, pihaknya mengusulkan anggaran untuk kegiatan pemeriksaan babi yang akan dipotong di seluruh desa adat di Kedonganan setiap menjelang hari raya Galungan.

"Mengapa saat hari raya Idul Adha kita bisa lakukan pengawasan pemotongan hewan korban, sedangkan saat Penampahan Galungan tidak? Tradisi pemotongan babi menjelang hari raya Galungan ini juga harus kita kawal sehingga warga dipastikan mengkonsumsi daging babi yang sehat," kata Sudaratmaja.

Sudaratmaja menjelaskan, di Badung terdapat 122 desa adat. Karena itu, kata dia, tidak sulit bagi pihaknya mengadakan pengawasan. Setiap ada kelompok warga yang melaksanakan tradisi mapatung, pihaknya akan menerjunkan tim untuk memastikan babi yang dipotong memang sehat.

"Pemeriksaan meliputi antemortem sebelum hewan dipotong dan postmortem setelah babi dipotong. Yang diperiksa tentu bukan hanya bakteri MSS tapi penyakit secara umum. Kalau babinya sakit, jangan dipotong. Intinya, masyarakat bisa mengkonsumsi daging segar," kata Sudaratmaja. 

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja dan Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya didampingi Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra serta para kalian banjar berpose bersama menunjukkan bahwa daging babi sehat aman dikonsumsi.
Mengenai personel yang akan dilibatkan dalam pengawasan ke desa-desa adat, Sudaratmaja mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. "Itu gampang dilakukan. Kalau memang kekurangan personel, kami bisa libatkan mahasiswa untuk ikut mengadakan pengawasan," kata Sudaratmaja, 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja mengungkapkan merebaknya kasus bakteri MSS memang cukup meyita perhatian masyarakat. Namun di sisi lain, kegiatan mapatung di Kedonganan yang difasilitasi LPD melalui program "Berbagi Daging Babi" sudah menjadi tradisi sehingga tetap harus dijalankan. Untuk itu, pihaknya menggelar rapat melibatkan prajuru desa, kelian banjar, serta pengurus LPD yang memutuskan untuk membentuk tim dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah yang menangani masalah kesehatan hewan.

"Astungkara, babi yang dipotong dan dibagikan hari ini dalam keadaan sehat. Karena itu, tidak perlu ragu untuk menerima dan mengolah daging babi ini. Sepanjang diolah dengan benar dan bersih, olahan babi itu aman untuk dikonsumsi," kata Puja.

Puja pun menyampaikan terima kasih kepada tim serta Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung serta Balai Veteriner Bali yang telah membantu memastikan kesehatan babi yang akan dipotong dan dibagikan kepada krama Desa Adat Kedonganan. 

Plt. Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Wayan Suriawan menjelaskan pembagian daging babi menjelang hari Galungan ini sudah menjadi program rutin LPD sebagai wujud labda (manfaat) yang diberikan LPD kepada krama sebagai pemilik dan nasabah. Program ini dimulai tahun 2010 dan tahun ini memasuki pelaksanan ke delapan.

"Tahun ini total babi yang dipotong 6,7 ton. Krama yang menerima daging babi sebanyak 2.250 orang," beber Suriawan.

Setiap nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200 ribu menerima masing-masing 3 kg daging babi. Selain daging babi, krama juga menerima uang bumbu Rp 50.000.  (*)

Minggu, 02 April 2017

Pastikan Aman Dikonsumsi, LPD Kedonganan Tetap Bagikan Daging Babi Galungan Besok

Meskipun merebak isu penyakit meningitis streptococcus suis (MSS) atau meningitis babi, LPD Desa Adat Kedonganan didukung Desa Adat Kedonganan tetap akan melaksanakan kembali program berbagi daging babi menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Pembagian daging babi bakal dilaksanakan besok, Senin (3/4) pagi di jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Desa Adat Kedonganan. 

“Program berbagi daging babi ini sudah menjadi program rutin LPD Desa Adat Kedonganan sehingga diputuskan untuk tetap dilanjutkan. Tapi, kami tetap memastikan agar babi yang dipotong benar-benar sehat dan bebas dari bakteri  Streptococcus suis (S.s),” kata Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja.

Memang, dalam rapat antara Bendesa Adat Kedonganan, prajuru desa serta pengurus LPD Kedonganan pada 20 Maret 2017 lalu, disepakati membentuk tim khusus untuk memastikan kesehatan babi yang akan dipotong. Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menunjuk krama Desa Adat Kedonganan yang berkompeten dalam bidang kesehatan hewan berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Veteriner Bali serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk terlebih dahulu memeriksa kesehatan babi yang akan dipotong.

Rapat Bendesa Adat Kedonganan, prajuru desa, serta pengurus LPD Kedonganan membahas program berbagi daging babi menjelang hari raya Galungan.
Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan program berbagi daging babi sudah menjadi ikon LPD Kedonganan. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk tetap melaksanakan program itu, meskipun di masyarakat merebak isu MSS. Pihaknya bertambah yakin tetap melanjutkan program ini karena pakar dan instansi terkait memastikan daging babi aman dikonsumsi sepanjang dalam kondisi sehat dan diproses dengan cara yang benar.

“Sejak pertama kali program ini dilaksanakan, kami memang sudah selalu mendahului melakukan pemeriksaan kesehatan babi yang akan dipotong. Kami selalu menyertakan dokter hewan untuk memastikan daging babi itu layak potong dan layak konsumsi. Kini, pemeriksaan diintensifkan dengan melibatkan instansi terkait,” kata Madra.

Krama yang ditugasi menjadi tim khusus pemeriksaan kesehatan babi, Wayan Yustisia Semarariana menjelaskan pihaknya sudah mengambil sampel darah babi yang akan dipotong. Sampel darah itu juga sudah dikirim ke Balai Besar Veteriner Bali dan dikoordinasikan kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Badung.

“Kalau babinya segar, tak mungkin ada bakteri. Babi yang dipotong untuk program berbagi daging babi di LPD Kedonganan ini tergolong segar dan sehat, sehingga aman untuk dikonsumsi,” kata dokter hewan yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Unud ini.

Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kesehatan babi yang akan dipotong.
Yus juga mengajak krama Desa Adat Kedonganan untuk tidak ragu mengolah daging babi yang didapat dalam program berbagi daging babi LPD Kedonganan. Sepanjang daging babi itu diolah dengan benar, olahan daging babi itu aman untuk dikonsumsi.


Sebelumnya guru besar Fakultas Peternakan Unud yang juga Ketua Asosiasi Ilmuwan Peternakan, Komang Budarsa menyebutkan isu MSS jangan sampai menjadi ketakutan berlebih bagi masyarakat, apalagi sampai menjauhi kuliner khas Pulau Dewata itu. Menurutnya, bakteri S.s akan mati saat dimasak dengan matang dalam suhu 56 derajat. “Jadi sebenarnya masyarakat tidak perlu takut. Jangan takut hanya karena ada isu ini. Sesungguhnya tidak segawat itu,” ujarnya saat diskusi kajian ilmiah Streptococcus suis yang digelar Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Peradah Badung dan BEM Peternakan Unud, pertengahan Maret lalu. 

LPD Kedonganan akan membagikan sekitar 7 ton daging babi. Setiap krama nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200 ribu menerima 3 kg daging babi serta uang bumbu.

Krama Desa Adat Kedonganan diharapkan berkumpul di jaba Pura Bale Agung atau halaman parkir timur LPD Kedonganan mulai pukul 07.00. (*)


Rabu, 29 Maret 2017

"Mabuug-buugan" Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Kabupaten Badung

Tradisi Mabuug-buugan yang dilaksanakan krama Desa Adat Kedonganan saban hari Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi, ditetapkan sebagai warisan budaya Kabupaten Badung. Penetapan ini disampaikan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prastha saat acara Segara Langu di Pantai Kedonganan, Rabu, 29 Maret 2017. 

Mabuug-buugan sempat vakum selama puluhan tahun. Tradisi ini kembali dihidupkan dengan inisiasi Sekaa Teruna Desa Adat Kedonganan, Eka Santhi mulai tahun 2015 lalu. Tradisi yang berwujud mandi lumpur di Segara Kangin ini pun mendapat apresiasi positif krama Desa Adat Kedonganan serta warga luar Kedonganan. 

Suasana tradisi Mabuug-buugan di Segara Kangin (areal hutan mangrove di Pantai Timur) Desa Adat Kedonganan.
Itu sebabnya, pada pelaksanaan ketiga kali tahun ini, pesertanya cukup membludak, sekitar 500 orang. Mereka tidak hanya dari kalangan anak-anak, remaja, juga orang dewasa dan orang tua.

Salah seorang peserta Mabuug-buugan, Shanti mengaku senang dengan tradisi ini. Dia berharap tradisi ini akan dilanjutkan karena menjadi media efektif untuk merekatkan kebersamaan di antara krama Desa Adat Kedonganan, khususnya anak-anak muda. 

"Saya senang banget, kita bisa ngumpul-ngumpul dengan sesama teman di Desa Adat Kedonganan," kata Shanti. 

Pemangku Pura Dalem Desa Adat Kedonganan, I Made Maja menyatakan tradisi Mabuug-buugan sarat dengan makna. Tujuan utama tradisi Mabuug-buugan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. "Melalui tradisi ini, umat diharapkan memiliki pikiran yang suci dan bersih menyongsong kehidupan baru yang lebih baik di tahun baru Saka 1939," kata Maja.

Ketua Panitia, Made Adi Bagiastra menjelaskan tradisi Mabuug-buugan secara filosofis bermakna penyucian bhuwana alit dan bhuwana agung. "Kami hanya melanjutkan tradisi yang sudah diwariskan leluhur," kata Adi. 

Tradisi Mabuug-buugan diawali di depan Pura Desa Ada Kedonganan. Selanjutnya, peserta menuju Segara Kangin. Di sinilah tradisi Mabuug-buugan dilaksanakan. Para peserta bermandi lumpur di areal hutan mangrove dengan riang. Bahkan, para peserta saling lempar lumpur hingga terkesan seperti perang lumpur. Setelah puas bermain lumpur, peserta berkeliling desa menuju Segara Kauh. Di Pantai Kedonganan, mereka melukat bersama.

Tradisi Mabuug-buugan tahun ini juga dirangkaikan dengan kegiatan Segara Langu. Saat acara Segara Langu dilaksanakan pertunjukan seni dan pameran berbagai makanan tradisional Bali. (*)

Simak juga beritanya di Bali TV berikut ini.





Senin, 20 Maret 2017

Kunjungan Prodi Magister Manajemen Undiknas Denpasar

Sejumlah dosen dan mahasiswa Pascasarjana (S2) Program Studi Magister Manajemen (MM) Undiknas Denpasar berkunjung ke LPD Desa Adat Kedonganan, Senin, 20 Maret 2017. Kunjungan ini bertujuan mengenal lebih dekat pengelolaan lembaga keuangan berbasis adat dan budaya Bali.

Kunjungan dosen dan mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM) Pascasarjana (S2) Undiknas Denpasar, 20 Maret 2017. 
Rombongan yang dipimpin I Gusti Ngurah Suryanata ini diterima Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra. Kepada rombongan, Ketut Madra menjelaskan keberadaan LPD Kedonganan sebagai lenbaga keuangan khas milik komunitas adat Bali sebagai penyangga keberlangsungan adat dan budaya Bali serta agama Hindu di Desa Adat Kedonganan. 

Kini, kata Madra, LPD Kedonganan tengah melakukan transformasi tata kelola mengacu kepada UU LKM serta Pararem LPD Bali. "Kami baru saja menyelesaikan Pararem Panyahcah Awig-awig sebagai payung hukum adat dalam pengeloaan LPD Kedonganan sehingga lembaga ini benar-benar sebagai lembaga keuangan milik komunitas adat yang berlandaskan kearifan lokal masyarakat Bali yakni Tri Hita Karana," tandas Madra. (*)