LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan.

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10).

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

LPD Kedonganan menggelar lomba paduan suara antar-PKK se-Desa Adat Kedonganan serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7).

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Jumat, 24 November 2017

51 Siswa Ikuti Tes Beasiswa Prestasi LPD Kedonganan

Upaya LPD Kedonganan  Wujudkan Estafet Kepemimpinan  


Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan kembali menggelar tes beasiswa prestasi tingkat Sekolah Dasar (SD)  se-Kelurahan Kedonganan, serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27. Tes yang dilaksanakan selama dua hari, 23-24 November 2017 itu, diikuti 51 siswa dari 4 SD se-Kelurahan Kedonganan.  

Menurut Ketua Panitia, I Made Andry Susila Wijaya, tes beasiswa prestasi kali ini memasuki tahun ke-20. Pertama kali, kegiatan ini digelar tahun 1996. Ada tujuh mata pelajaran yang wajib diikuti peserta, yakni Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali. 



“Lomba ini diikuti anak–anak SD kelas III hingga kelas V. Masing–masing sekolah mengirimkan siswa berprestasi juara kelas I, II, III di masing-masing tingkatan kelas,“ beber Andry.

Lebih jauh Andry menjelaskan, kegiatan ini melibatkan  tim penilai dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan di Kecamatan Kuta. 

Di mata guru SD di Kedonganan, kegiatan yang dicetuskan LPD Kedonganan ini dipandang positif untuk memacu semangat siswa meraih prestasi gemilang. “Kegiatan ini sangat positif, ada semangat untuk belajar, tidak mesti di luar sekolah dan ini kegiatan yang luar biasa dan kami berharap program yang bagus ini bisa berkelanjutan,” kata I Wayan Sena, guru agama SD 2 Kedonganan.

Sekretaris LPD Kedonganan, I Wayan Suriawan mengungkapkan LPD dalam upaya meningkatkan dan memotovasi siswa–siswa berprestasi telah menjalankan program  bidang pendidikan dengan berbagai kegiatan. “Melalui lomba siswa berprestasi ini diharapkan ada motivasi bagi siswa–siswa di Kedonganan agar mereka kelak mampu menjalankan estafet kepemimpinan. Jadi kita sejak dini menciptakan siswa-siswa berprestasi,“ kata Suriawan.

Selain perlombaan, LPD Kedonganan  juga telah  mengelontorkan program beasiswa kepada anak kurang mampu. “Kami tidak ingin ada anak di Kedonganan yang putus sekolah. Untuk itu LPD berkomitmen mendorong memberikan beasiswa dari SD hingga SMA bahkan ke perguruan tinggi,” bebernya. (*)

Senin, 30 Oktober 2017

LPD Kedonganan Berbagi 7 Ton Daging Babi

LPD Desa Adat Kedonganan konsisten melanjutkan program Berbagi Daging Babi  sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Senin (30/10), sekitar 7 ton daging babi dibagikan untuk 2.300 krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan. 

Masing-masing krama dan nasabah yang memenuhi persyaratan, menerima kupon yang akan ditukarkan dengan 3 kg daging babi serta uang bumbu senilai Rp 50.000. Krama adat yang berhak menerima kupon minimal memiliki saldo mengendap Rp 200.000. 



Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan program Berbagi Daging Babi sudah dilaksanakan sejak tahun 2010 dan tahun ini memasuki pelaksanaan ke sembilan. Program ini kini diperkuat dengan telah disahkannya Pararem LPD Desa Adat Kedonganan sebagai implementasi dari Panca Kertha dalam mendukung pelaksanaan Panca Yadnya yang menjadi tujuan LPD Kedonganan.

Dijelaskan Madra, Panca Kertha meliputi Kertha Angga, Kertha Warga, Kertha Desa, Kertha Bhuwana, dan Kertha Wisesa. Pembagian daging babi saat hari Galungan merupakan implementasi Kertha Angga dan Kertha Warga, yaitu kesejahteraan diri pribadi dan krama desa menyongsong hari raya Galungan dan Kuningan. 

Program Berbagi Daging Babi juga merupakan revitalisasi tradisi mapatung yang biasa dilakukan krama Bali menyongsong hari raya Galungan. Semangat yang menjiwai tradisi mapatung selaras dengan semangat LPD, yakni kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong.

"Mapatung adalah wujud kami membangun LPD, yang berimbas pada tradisi mebat yang spiritnya kebersamaan dengan semangat pada payu, pada gelahang dan pada mamargi.  Ketiga konsep ini akan membuat menjadi satu rasa atau pasikian," kata Madra. 

Krama Desa Adat Kedonganan mengapresiasi program Berbagi Daging Babi yang tetap dilaksanakan LPD Kedonganan. Wayan Wiryanta berterima kasih atas apa yang telah diberikan LPD Kedonganan. Wayan Suarjana berharap program ini bisa terus berlanjut. Hal senada juga disampaikan 

Bendesa Adat Kedonganan, Ketut Puja menyambut baik dan bangga dengan konsistennya LPD Kedonganan melaksanakan program Berbagi Daging Babi sebagai revitalisasi tradisi mapatung menjelang hari raya Galungan. Konsistensi ini tidak terlepas dari kemajuan yang dialami LPD Kedonganan. Kemajuan ini juga berkat kerja keras pengurus, karyawan, prajuru dan seluruh krama Desa Adat Kedonganan yang terus-menerus mendukung berbagai produk dan program LPD Kedonganan. 

"Semoga LPD Kedonganan ini selalu jaya, selalu bisa meningkatkan usaha untuk menunjang program desa adat yang berkelanjutan," tandas Puja. (*)

Minggu, 29 Oktober 2017

Ketua Pemuda Eka Santhi Raih Penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi Nasional

Satu lagi pemuda Kedonganan mengukir prestasi di tingkat nasional. I Wayan Yustisia Semarariana meraih juara II Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional 2017. Penghargaan bergengsi ini diterima Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan itu di Jakarta pada Jumat (27/10) malam.

Prestasi ini diraih Yustisia berkat usaha kesehatan hewan di bawah bendera Usadha Buron Indonesia (UBI) yang didirikannya. Usaha yang bermarkas di Kedonganan ini dinilai berkontribusi memberikan sentuhan manajemen bisnis dalam bidang usaha kesehatan hewan.


I Wayan Yustisia Semarariana (kiri) menerima penghargaan Wirausaha Muda Pemula Berprestasi dar Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi (kanan) di Jakarta, Jumat (7/10).
Melalui UBI, Yustisia menghimpun para dokter-hewan muda di Bali untuk bekerja sama. Yustisia memfasilitasi manajemennya, sedangkan para dokter-hewan muda itu memberikan layanan terbaik bagi para konsumen.

“Obsesi saya, memberikan layanan kesehatan hewan yang profesional bagi konsumen, terutama orang-orang asing yang memiliki hewan peliharaan,” kata jebolan Magister Kedokteran Hewan Unud ini.



“Kenapa buronBuron itu bukan buronan, tapi itu istilah dalam bahasa Bali untuk menyebut hewan. Saya ingin memunculkan kearifan lokal Bali dalam usaha yang saya rintis ini,” imbuh Yustisia.

Yustisia memang ingin menjawab kesan yang selama ini melekat pada profesi dokter hewan susah mengembangkan diri sebagai wirausahawan. Memang, kata Yustisia, jika para dokter hewan itu melangkah sendiri-sendiri, sulit untuk berkembang. Belajar dari folosofi sapu lidi, Yustisia menghimpun rekan-rekannya sesama dokter-hewan muda di bawah bendera UBI.

“UBI mengkombinasikan aspek bisnis dan profesionalisme dalam bidang kesehatan hewan,” ujar Ketua Pemuda Eka Santhi Kedonganan ini.

Usaha yang dirintis Yustisia pun dilirik pemerintah. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga pun mengajukan UBI sebagai kandidat dalam ajang pemilihan Wirausaha Muda Pemula Berprestasi tingkat nasional tahun 2017 yang diselenggarakan Kementerin Pemuda dan Olahraga RI. Setelah melalui seleksi yang ketat dan bersaing dengan 878 peserta dari seluruh Indonesia, Yustisia meraih juara II nasional bidang perdagangan dan jasa. Penghargaan bergengsi ini diterima Yustisia langsung dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi di Jakarta, Jumat (27/10) lalu. Selain Yustisia, ada seorang lagi dari Bali yang meneria penghargaan, yakni I Made Artana untuk kategori Penggerak Wirausaha Muda melalui Inkubator Bisnis STMIK Primakara.

Yustisia tentu senang, tapi bukan karena menerima penghargaan, tapi karena pemerintah mengapresiasi keberadaan dokter hewan. “Bagaimana pun, selama ini dokter hewan masih terkesan kurang bergengsi di mata masyarakat,” kata Yustisia sembari tersenyum.

Yustisia berharap, penghargaan yang diterimanya ini bisa memantik kontribusi yang lebih besar dari UBI bagi masyarakat dalam bidang kesehatan hewan. Mimpi besar Yustisia, dokter hewan Indonesia mampu bersaing di tengah era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). (*)

Minggu, 03 September 2017

LPD Kedonganan Sosialisasi Spirit Tri-Us Lewat Lomba Padus

PKK Banjar Kerthayasa Juara


Saking manah tulus, lurus, serius
Pinaka dasar ngayah ring desa
Ngwangun LPD
Labda Pacingkrean Desa
Sami saking warga desa

Petikan lirik lagu "Mars LPD Kedonganan" itu terus berkumandang di tengah gemuruh krama Desa Adat Kedonganan yang memenuhi areal Banjar Pasek, Desa Adat Kedonganan, Minggu (3/9) sore. Lagu ciptaan Panji Kuning itu menjadi lagu wajib dalam lomba paduan suara (padus) antar-PKK banjar se-Desa Adat Kedonganan yang digelar serangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Desa Adat Kedonganan. Lomba diikuti enam banjar adat yang ada di Desa Adat Kedonganan.

Tim Paduan Suara Banjar Kerthayasa yang tampil sebagai juara I.
Ketua LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. menegaskan lomba paduan suara merupakan wujud perhatian LPD Kedonganan kepada krama istri yang tergabung dalam PKK banjar karena menjadi tiang penyangga keluarga adat Bali. Keberadaan krama istri, kata Madra, berperan besar dalam menopang keberlanjutan adat dan budaya Bali yang dijiwai agama Hindu. LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di desa adat, patut memberi perhatian dan memfasilitasi potensi dan prestasi krama istri, khususnya ibu-ibu PKK banjar.

Tim Paduan Suara Banjar Kubu Alit yang tampil sebagai juara II.
Madra berharap, melalui lomba padus dengan “Mars LPD Kedonganan” sebagai lagu wajib, ibu-ibu PKK menjadi duta LPD dalam mensosialisasikan spirit LPD Kedonganan, yakni tulus, lurus, dan serius (Tri-Us). “Tulus itu keikhlasan ngayah untuk membangun desa, lurus itu sikap taat pada aturan dan rambu-rambu di LPD dan di desa adat, serta serius adalah kesungguhan bekerja untuk memajukan LPD dan Desa Adat Kedonganan,” kata Madra.

Konsep Tri-Us, menurut Madra, memang dicetuskannya dalam kerangka pengelolaan LPD. Sejatinya, konsep itu digali dari kearifan lokal masyarakat adat Bali, termasuk di Desa Adat Kedonganan. Konsep itu juga dimunculkan dalam Pararem Panyacah Awig yang secara khusus mengatur tata kelola LPD Kedonganan.

Tim Paduan Suara Banjar Anyar Gede yang tampil sebagai juara III.
Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, S.Ag. menyambut baik inisiatif LPD Kedonganan menggelar lomba padus antar-PKK banjar. Menurut Puja, antusiasme krama istri berlomba serta krama desa menyaksikan lomba menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan di kalangan krama. “Ibu-ibu yang umumnya sibuk dalam kegiatan rumah, baik di dapur maupun kegiatan yadnya, mampu tampil dengan baik, termasuk memberi teladan dalam berpenampilan sesuai budaya Bali,” kata Puja.

Tim Paduan Suara Banjar Pengenderan yang tampil sebagai peringkat IV.
Lomba paduan suara berlangsung meriah. Masing-masing banjar tampil disaksikan para suporternya. Tim juri terdiri atas para akademisi dan praktisi dalam bidang seni suara dan musik, di antaranya AA Alit Sudarsana, Luh Gedong Renen, dan Putu Aryama.

Tim juri menetapkan pemenang menetapkan PKK Banjar Kerthayasa sebagai pemenang I (nilai 1.932), disusul PKK Banjar Kubu Alit sebagai pemenang II (nilai 1.846) dan PKK Banjar Anyar Gede sebagai pemenang III (nilai 1.841). Sementara peringkat IV, V dan VI, masing-masing diraih PKK Banjar Pengenderan (nilai 1.782), PKK Banjar Ketapang (nilai 1.740) dan PKK Banjar Pasek (nilai 1.719).

Tim Paduan Suara Banjar Ketapang yang tampil sebagai peringkat V.
Selain lomba paduan suara, pada pagi hari juga digelar lomba lagu pop Bali solo remaja antarpemuda se-Kedonganan dan lomba lagu pop Bali solo anak-anak antar SD se-Kedonganan. Lomba lagu pop Bali solo remaja dimenangi STT Kertha Muda Yasa sebagai juara I (nilai 1.456), STT Dharma Sentana sebagai juara II (nilai 1.431) dan STT Suka Karya sebagai juara III (nilai 1.389). Lomba lagu pop Bali solo anak-anak dimenangi SD 2 Kedonganan sebagai juara I (nilai 1.432), SD 4 Kedonganan sebagai juara II (nilai 1.405), dan SD 1 Kedonganan sebagai juara III (nilai 1.326).

 Tim paduan suara Banjar Pasek yang meraih peringkat VI. 
“Hadiah kepada para pemenang akan diserahkan saat puncak HUT ke-27 LPD Kedonganan, Sabtu (9/9) mendatang,” kata Ketua Panitia HUT ke-27 LPD Kedonganan, I Made Andry Susila Wijaya, S.E.. (*)

Sabtu, 29 Juli 2017

LPD Kedonganan Fasilitasi Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal

LPD Desa Adat Kedonganan memfasilitasi upacara panglukatan sapuh leger massal bagi krama Desa Adat Kedonganan bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, Sabtu (29/7). Kegiatan serangkaian perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-27 LPD Kedonganan itu, selain untuk meringankan beban krama juga mewujudkan Panca Kertha di Desa Adat Kedonganan.

“Dalam pararem LPD, juga memberi ruang akan hal tersebut. Itu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masuk dalam panca kertha, menjaga keseimbangan sekala dan niskala mencapai moksartham jagadhita,” beber Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra.

Upacara Panglukatan Sapuh Leger Massal Desa Adat Kedonganan, Sabtu (29/7).

Upacara ini, imbuh Madra, merupakan buah dari sinergi masyarakat adat. Ke depan, kata dia, kegiatan ini akan menjadi salah satu produk LPD Kedonganan.


“Panglukatan Sapuh Leger merupakan amanat sastra agama. Sebagai lembaga keuangan adat Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu, kami mencoba meresponsnya,” kata Madra. 

Upacara Panglukatan Sapuh Leger diikuti lebih dari 700 krama. Upacara di-puput Ida Pandita Mpu Jaya Wijayanandha dari Griya Kutuh, Kuta.

Manggala Prawartaka Karya, Nyoman Suarjana menjelaskan para peserta itu terbagi dalam 19 kategori. Ada kategori anak yang dilahirkan pada rahina Tumpek Wayang, anak melik, anak sampir (anak yang dilahirkan berkalung tali pusar), tiba angker (anak yang terlahir terbelit tali pusar atau tidak menangis), anak jempina (anak terlahir premature), anak margana (anak yang terlahir di tengah perjalanan), anak wahana (anak yang lahir di tengah keramaian), anak julung aangi (anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit), anak julung sungsang (anak yang lahir tepat tengah hari), anak kembar, anak kembar buncing, tawang gantungan (anak lahir kembar selisih satu hari), pancoran apit telaga (tiga bersaudara: perempuan-laki-perempuan), telaga apit pancoran (laki-perempuan-laki), papilan (lima bersaudara: 4 perempuan dan 1 laki), padangon (lima bersaudara: 4 laki dan 1 perempuan), sanan empeg (anak yang lagir diapit oleh saudara yang meninggal), puja daha (perempuan yang sedang hamil melewati Tumpek Wayang), serta anak julung sarab, julung macan, dan julung caplok (anak yang lahir pada saat matahari tenggelam).

Suarjana mengakui, ritual ini baru pertama kali digelar di Desa Adat Kedonganan. Pelaksanaan ritual itu didasari atas keputusan prajuru Desa Adat Kedonganan, dengan persiapan kurang lebih selama dua minggu. 

“Tentu ini menjadi momentum yang sangat luar biasa bagi masyarakat. Masyarakat tentu akan sangat diringankan, karena semua biaya ditanggung oleh desa adat,” ujarnya. 

Suarjana berharap agar ritual bisa terselenggara secara berkelanjutan, minimal  sekali dalam setahun. “Meski ini baru dilaksanakan pertama kalinya, masyarakat tampaknya sangat antusias. Buktinya, peserta yang ikut cukuplah banyak,” tandasnya. (*)

Minggu, 28 Mei 2017

Generasi Muda Kedonganan Harus Berani Berwirausaha

Generasi muda Kedonganan harus memiliki kemampuan dan keberanian berwirausaha. Mereka mesti melihat dan menggarap secara maksimal peluang usaha yang ada di Desa Adat Kedonganan.

“Jiwa wirausaha harus dikembangkan sejak dini agar mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri,” kata Ketua Karang Taruna Eka Çanthi Kedonganan, I Wayan Yustisia Semarariana dalam acara seminar wirausaha bertajuk “Kolaborasi Membangun Kedonganan” di ruang pertemuan LPD kedonganan, Sabtu (27/5).

Para pembicara dan tokoh masyarakat Kedonganan berpose usai seminar.

Seminar yang dihadiri ratusan peserta ini menampilkan pembicara praktisi bisnis, Gendro Salim; Ketua BPKP2K Desa Adat Kedonganan, Wayan Mertha; serta Kapala LPD Kedonganan, Ketut Madra. Turut hadir pula Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Badung, Ketut Karpiana mewakili Bupati Badung; Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya, tokoh masyarakat Kedonganan serta anggota Karang Taruna Eka Çanthi Kedonganan.

Gendro Salim mengatakan perekonomian secara nasional dan global tengah berkembang. Ekonomi Indonesia tumbuh semakin baik, bahkan pertumbuhan ekonomi Bali di atas pertumbuhan nasional. Ia mendorong generasi muda Kedonganan ikut ambil bagian dalam pertumbuan ekonomi Indonesiaitu. Ia pun siap mendampingi generasi muda Kedonganan untuk menjadi pelaku wirausaha yang tangguh. “Berikan saya 10 orang saja, saya akan mendidik mereka menjadi wirausahawan yang tangguh,” ucapnya

Kepala LPD Kedonganan, Ketut Madra mengatakan sebagai pilar ekonomi desa pihaknya mendukung segala kegiatan yang dilaksanakan krama termasuk generasi muda guna meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Desa Adat Kedonganan. LPD Kedonganan, kata dia, sangat ingin generasi muda Kedonganan berani menjadi wirausaha yang tangguh dan mandiri serta mampu menggarap potensi-potensi yang ada di Desa Adat Kedonganan.

“LPD Kedonganan siap mendukung terciptanya pengusaha-pengusaha muda Kedonganan yang tangguh dan berdaya saing tinggi,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua BPKP2K Desa Adat Kedonganan, Wayan Mertha. Dia mengajak peserta seminar melihat peluang-peluang usaha yang bisa digarap, khususnya di Desa Adat Kedonganan. Dipaparkannya, banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan. Namun, diakui Mertha, perlu sinergi semua pihak, bersatu menyamakan persepsi dalam menggarap peluang tersebut.


Bupati Badung yang diwakili Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Badung, Ketut Karpiana menyambut positif kegiatan seminar kewirausahaan yang digelar Karang Taruna Eka Çanthi dan LPD Kedonganan. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan keinginan generasi muda dalam membangun usaha demi terciptanya kesejahteraan di masyarakat sehingga berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi di Desa Adat Kedonganan khususnya dan Kabupaten Badung pada umumnya. (*)

Senin, 03 April 2017

Tak Khawatirkan MSS, Warga Kedonganan Tetap Berjubel Ikuti Program "Berbagi Daging Babi"

Meskipun merebak isu bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS), krama Desa Adat Kedonganan sepertinya tidak terlalu khawatir. Buktinya, krama yang datang mengikuti program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan" di LPD Kedonganan tetap berjubel. Mengenakan pakaian adat madya, krama dan nasabah datang ke jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Kedonganan sejak pukul 07.00 hendak menukarkan kupon dengan 3 kg daging babi.

Krama dan nasabah antre hendak menukarkan kupon untuk mendapatkan 3 kg daging babi dari LPD Kedonganan. 
Sejumlah krama mengungkapkan mereka tidak khawatir dengan merebaknya isu bakteri MSS karena sudah ada penjelasan dari pakar dan pemerintah mengenai bagaimana menyiapkan dan mengolah daging babi yang sehat dan aman. "Lagi pula saya biasanya goreng saja, jadikan gorengan lebih enak dan aman," kata salah seorang krama.

 Merebaknya isu bakteri MSS tak membuat warga Kedonganan khawatir mengkonsumsi daging babi.
I Ketut Wiji, seorang  nasabah LPD Kedonganan juga mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai bakteri MSS yang belakangan ramai diberitakan. Wij mengaku selalu menyuci bersih daging yang akan diolah. Setelah dicuci bersih, daging babi itu dimasak sampaibenar-benar matang.

"Kalau sudah bersih dan dimasak matang, tak perlu khawatir," ujar Wiji. (*)


Bagikan Daging Babi Sehat, Kedonganan Jadi Pionir Tanggap Darurat MSS

Upaya serius LPD dan Desa Adat Kedonganan memeriksa babi sebelum dipotong dan dibagikan kepada krama dalam program "Berbagi Daging Babi Hari Raya Galungan dan Kuningan" diapresiasi Pemkab Badung. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja yang mewakili Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menyebut Desa Adat Kedonganan sebagai satu-satunya desa adat tanggap darurat bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS). 

"Kedonganan menjadi pionir dalam upaya mewujudkan daging babi yang sehat untuk dikonsumsi warga," kata Sudaratmaja saat memberikan sambutan dalam acara pembagian daging babi kepada krama Desa Adat Kedonganan di jaba Pura Bale Agung sekaligus halaman parkir timur LPD Kedonganan, Senin, 3 April 2017.

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja didampingi Camat Kuta, I Gde Rai Wijaya, Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja dan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyerahkan daging babi secara simbolis kepada para kelian banjar se-Desa Adat Kedonganan. 
Menurut Sudaratmaja, berkaca pada kasus penyebaran MSS serta program positif di Kedonganan, Badung sudah mengintensifkan pengawasan kegiatan pemotongan babi di wilayah Badung menjelang hari raya Galungan. Bahkan, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun ini, pihaknya mengusulkan anggaran untuk kegiatan pemeriksaan babi yang akan dipotong di seluruh desa adat di Kedonganan setiap menjelang hari raya Galungan.

"Mengapa saat hari raya Idul Adha kita bisa lakukan pengawasan pemotongan hewan korban, sedangkan saat Penampahan Galungan tidak? Tradisi pemotongan babi menjelang hari raya Galungan ini juga harus kita kawal sehingga warga dipastikan mengkonsumsi daging babi yang sehat," kata Sudaratmaja.

Sudaratmaja menjelaskan, di Badung terdapat 122 desa adat. Karena itu, kata dia, tidak sulit bagi pihaknya mengadakan pengawasan. Setiap ada kelompok warga yang melaksanakan tradisi mapatung, pihaknya akan menerjunkan tim untuk memastikan babi yang dipotong memang sehat.

"Pemeriksaan meliputi antemortem sebelum hewan dipotong dan postmortem setelah babi dipotong. Yang diperiksa tentu bukan hanya bakteri MSS tapi penyakit secara umum. Kalau babinya sakit, jangan dipotong. Intinya, masyarakat bisa mengkonsumsi daging segar," kata Sudaratmaja. 

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja dan Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya didampingi Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra serta para kalian banjar berpose bersama menunjukkan bahwa daging babi sehat aman dikonsumsi.
Mengenai personel yang akan dilibatkan dalam pengawasan ke desa-desa adat, Sudaratmaja mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. "Itu gampang dilakukan. Kalau memang kekurangan personel, kami bisa libatkan mahasiswa untuk ikut mengadakan pengawasan," kata Sudaratmaja, 

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja mengungkapkan merebaknya kasus bakteri MSS memang cukup meyita perhatian masyarakat. Namun di sisi lain, kegiatan mapatung di Kedonganan yang difasilitasi LPD melalui program "Berbagi Daging Babi" sudah menjadi tradisi sehingga tetap harus dijalankan. Untuk itu, pihaknya menggelar rapat melibatkan prajuru desa, kelian banjar, serta pengurus LPD yang memutuskan untuk membentuk tim dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah yang menangani masalah kesehatan hewan.

"Astungkara, babi yang dipotong dan dibagikan hari ini dalam keadaan sehat. Karena itu, tidak perlu ragu untuk menerima dan mengolah daging babi ini. Sepanjang diolah dengan benar dan bersih, olahan babi itu aman untuk dikonsumsi," kata Puja.

Puja pun menyampaikan terima kasih kepada tim serta Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung serta Balai Veteriner Bali yang telah membantu memastikan kesehatan babi yang akan dipotong dan dibagikan kepada krama Desa Adat Kedonganan. 

Plt. Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Wayan Suriawan menjelaskan pembagian daging babi menjelang hari Galungan ini sudah menjadi program rutin LPD sebagai wujud labda (manfaat) yang diberikan LPD kepada krama sebagai pemilik dan nasabah. Program ini dimulai tahun 2010 dan tahun ini memasuki pelaksanan ke delapan.

"Tahun ini total babi yang dipotong 6,7 ton. Krama yang menerima daging babi sebanyak 2.250 orang," beber Suriawan.

Setiap nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200 ribu menerima masing-masing 3 kg daging babi. Selain daging babi, krama juga menerima uang bumbu Rp 50.000.  (*)