Berbagi Daging Babi di Hari Galungan

LPD Kedonganan kembali menggelar program Berbagi Daging Babi menyambut hari raya Galungan dan Kuningan (10 Februari 2016 - 20 Februari 2016. Krama dan nasabah pun antusias menyambut program rutin ini.

LPD Kedonganan Serahkan Dana Pembangunan Rp 1,8 Milyar

LPD Desa Adat Kedonganan menyerahkan dana pembangunan sebesar Rp 1,8 milyar kepada Desa Adat Kedonganan. Dana pembangunan ini diterima Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja, di ruang pertemuan gedung LPD Desa Adat Kedonganan, Minggu (5/4)

Hadiah Utama Selae Tiban LPD Kedonganan

Untuk pertama kali, hadiah utama undian nasabah berupa satu unit mobil Toyota Agya. Selain itu, masih ada lima unit sepeda motor di jajaran hadiah utama. Seluruh hadiah itu akan diundi pada puncak perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan, Minggu, 27 Desember 2015.

Parade Tabuh Klasik Pagongan dan Bebarongan

LPD Kedonganan menggelar Parade Tabuh Klasik Pagongan dan Bebarongan di Banjar Pasek, 20-22 Desember 2015. Parade diikuti lima seka gong di lima banjar se-Desa Adat Kedonganan serta satu seka pendamping dari luar Kedonganan.

Penyerahan Hadiah Utama Undian Nasabah dan Kupon Punia Berhadiah

Bertepatan dengan acara tutup tahun 2015 dan menyambut tahun 2016, LPD Kedonganan mengumumkan para pemenang undian nasabah dan punia berhadiah serangkaian perayaan Selae Tiban LPD Desa Adat Kedonganan. Hadiah para pemenang juga sekaligus diserahkan saat itu di kantor LPD Desa Adat Kedonganan.

Minggu, 19 Juni 2016

LPD Kedonganan Segera Lakukan Transformasi Tata Kelola

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan segera melakukan transformasi tata kelola yang lebih mencerminkan LPD sebagai lembaga keuangan komunitas adat Bali. Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang mengakui dan mengayomi LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas yang diatur dalam hukum adat Bali. Transformasi tata kelola ini pun sudah disepakati dalam rapat antara Badan Pengurus, Badan Pengawas, prajuru desa adat, krama perwakilan masing-masing banjar serta kelian adat pada Minggu (19/6). 

Rapat transformasi tata kelola LPD Kedonganan, Minggu (19/6)

Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., menjelaskan ada dua hal pokok yang diputuskan dalam rapat. Pertama, peserta rapat menyetujui Sadguna Manajemen Solution (Samas) dijadikan konsultan dalam hal pembuatan pararem panyahcah LPD serta meyusu transformasi tata kelola LPD Kedonganan. Kedua, Bendesa Adat Kedonganan segera membentuk tim pendamping sesuai dengan kebutuhan yang akan dibahas 

"Transformasi tata kelola menjadi inti dari pertemuan. Kami menargetkan transformasi tata kelola diselesaikan dalam waktu satu tahun," kata Madra. 

Samas Consultant dipilih sebagai konsultan, menurut Madra, karena merupakan satu-satunya lembaga konsultan yang mau membahas dan membedah tata kelola LPD dengan konsep pengecualian dari hukum positif sebagaimana amanat UU LKM. Transformasi tata kelola penting dilakukan LPD Kedonganan agar LPD tetap bisa dipertahankan sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali dengan fungsi sosial-budaya-ekonomi yang khas Bali. 

"Sistem pengelolaan sekarang cenderung mengarahkan LPD ke model kapitalis. Itu tidak cocok dengan spirit awal pendirian LPD sebagai lembaga keuangan komunitas adat Bali untuk menyangga upaya pemertahanan adat, budaya dan agama masyarakat Bali," beber Madra. 

Madra menjamin sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki LPD Kedonganan sudah sangat siap untuk bertransformasi. Selama ini, kata Madra, LPD Kedonganan menjadi pamrakarsa atau inisiator transformasi tata kelola LPD di Bali. Lebih dari 25 tahun, LPD Kedonganan juga dikelola dengan prinsip-prinsip lembaga keuangan komunitas adat Bali yang dijiwai nilai-nilai agama Hindu. 

"Bagi kami di LPD Kedonganan, transformasi tata kelola itu tidak sulit karena selama ini sudah kami lakukan," tandas Madra. (*)

Senin, 08 Februari 2016

Sambut Galungan, LPD Kedonganan Kembali Berbagi Daging Babi Gratis

Untuk ke sekian kali, LPD Desa Adat Kedonganan kembali membagikan daging babi gratis kepada krama dan nasabah LPD Desa Adat Kedonganan, Senin (8/2). Pembagian daging babi ini sebagai “hadiah” hari raya Galungan kepada krama dan nasabah yang telah setia mendukung dan menggunakan layanan LPD Kedonganan.

Ketua LPD Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan pembagian daging babi ini merupakan program rutin setiap enam bulan menurut kalender Bali atau tujuh bulan menurut kalender Masehi. Krama dan nasabah yang memiliki saldo mengendap Rp 200.000 berhak mendapat 3 kg daging babi serta uang bumbu Rp 50.000.




“Ini wujud revitalisasi tradisi mapatung. Tujuannya, tentu saja simakrama antar-krama menyongsong perayaan hari Galungan,” kata Madra.

Madra berharap, melalui produk berbagi daging babi ini, masyarakat Kedonganan bisa mengajegkan tradisi sekaligus menjalankan Tri Hita Karana di Desa Adat Kedonganan.

Total daging babi yang dibagikan seberat 5,6 ton. Jumlah krama penerima daging babi tercatat 1.250 kepala keluarga serta ratusan nasabah krama tamiu. Babi yang disembelih sudah diperiksa dari aspek kesehatan hewan sehingga layak dikonsumsi.

Bendesa Adat Kedonganan, I Ketut Puja menjelaskan berbagi daging babi di hari Galungan sudah menjadi tradisi di LPD Kedonganan. Tujuannya untuk memupuk rasa kegotongroyongan krama serta senantiasa menjaga toleransi dan kebersamaan krama. Kegiatan ini upaya memperkuat rasa memiliki krama terhadap LPD.




“Tradisi mapatung yang difasilitasi LPD Kedonganan ini luar biasa. Kami cukup bangga masyarakat Kedonganan juga sangat antusias untuk datang. Program ini sangat membantu krama menyambut hari raya Galungan,” kata Puja.

Jro Junita, salah seorang krama Kedonganan mengaku senang dan bersyukur dengan adanya program berbagi daging babi yang difasilitasi LPD Kedonganan ini. Dia berharap program serupa akan terus ditingkatkan lagi. (*)

Sabtu, 16 Januari 2016

Dukung Pencabutan dan Perubahan Perda LPD Bali, Hapus Dana Pemberdayaan

Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menyambut positif  dan mendukung rencana DPRD Bali mencabut Perda Provinsi Bali No. 4 tahun 2012 tentang Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Bali dan menyusun rancangan peraturan daerah (ranperda) inisiatif mengenai LPD Bali. Gubernur dan DPRD Bali diminta agar dalam penyusunan ranperda itu diselaraskan  dengan UU No. 1/2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang secara tegas sudah mengakui LPD sebagai lembaga keuangan milik komunitas adat, yang diatur berdasarkan hukum adat.

Ditegaskan Madra, dalam memandang LPD, UU LKM menggunakan semangat penghormatan terhadap kekhususan dan keunikan LPD sebagai lembaga adat yang menjalankan fungsi keuangan komunitas adat Bali. Karena itu, UU LKM memberikan keleluasaan masyarakat adat mengatur sendiri keberadaan LPD dan Lumbung Pitih Nagari (LPN) di Padang dan tidak tunduk dengan UU LKM.




Sesungguhnya, kata Madra, pemberian kekhususan dalam mengelola sendiri LPD merupakan hasil perjuangan komponen masyarakat Bali, para pengelola LPD, akademisi, wakil-wakil Bali di DPD dan DPR RI serta pemangku kepentingan yang menyadari keunikan LPD yang merupakan aset masyarakat adat Bali yang harus diselamatkan. Jika disamakan dengan LKM, bank atau pun koperasi, keunikan LPD akan hilang dan bisa jadi bukan lagi jadi milik masyarakat adat Bali. Karena itu, melalui diplomasi dan diskusi yang elok dengan penyusun UU, LPD Bali dikecualikan.


"Makanya aneh kalau kita sendiri orang Bali malah menolak UU LKM yang justru memberi keleluasaan bagi masyarakat adat Bali mengatur LPD-nya sendiri. Parahnya, para pengelola LPD mau dipecah untuk pro terhadap perda atau pro terhadap UU LKM," ujar Madra.

Lebih lanjut Madra mengatakan, Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali sudah sejak lama mengantisipasi dan menyikapi UU LKM ini hingga muncul Keputusan Paruman Agung III MDP Bali No. 007/SK-PA III/MDP Bali/VIII/2014 tentang Pararem LPD Bali. Pararem yang disepakati para bendesa adat se-Bali ini sebagai wujud hukum adat Bali yang memayungi LPD Bali. MUDP juga dinilainya melangkah serius membentuk Dewan LPD Bali berdasarkan keputusan Sabha Kerta MUDP Bali pada 20 Agustus 2015, untuk merancang sistem keuangan adat Bali guna melindungi keberadaan LPD sebagaimana diamanatkan UU LKM.

Sayangnya, kata Madra, ada pihak-pihak tertentu yang tidak nyaman dengan hal ini karena takut kehilangan peran dan sumber daya. LPD pun dibiarkan dalam ketidakpastian dan para pengelola dipecah belah.


Namun, Madra bersyukur karena ada komponen masyarakat Bali yang peduli lalu mengingatkan potensi keilegalan LPD jika tetap tak menjalankan amanat UU LKM yang justru memberikan keleluasaan LPD untuk diatur dengan hukum adat. Bahkan, kini DPRD Bali bersama Gubernur Bali bersepakat merespons amanat UU LKM dengan rencana pencabutan Perda LPD dan merancang perda baru yang lebih sejalan dengan amanat UU LKM dan roh LPD sebagai lembaga keuangan komunitas adat Bali.

Hapus Dana Pemberdayaan 

Madra juga menyambut baik gagasan Gubernur Mangku Pastika untuk menghapus kewajiban LPD nenyetorkan 5% labanya sebagai dana pemberdayaan. Gubernur mengusulkan agar dana pemberdayaan diambil dari APBD karena merupakan kewajiban pemerintah.

"Selama ini dana pemberdayaan ini yang selalu jadi masalah. Karena peruntukan dan pertanggungjawabannya tidak jelas. Justru saat LPD bermasalah, lembaga pembina atau pemberdaya tak banyak berperan. LPD berjuang sendiri mengatasi masalahnya," tandas Madra.

Jumat, 01 Januari 2016

Tantangan 2016 Lebih Berat, LPD Kedonganan Ajak Krama Berjuang Bersama

Tantangan yang dihadapi LPD Desa Adat Kedonganan pada tahun 2016 akan lebih berat dari tahun 2015. Hal ini dikarenakan LPD Kedonganan akan mengubah sistem tata kelola mengikuti sistem keuangan adat Bali yang kini tengah dirancang Dewan LPD Bali. Dewan LPD Bali memang menetapkan LPD Kedonganan sebagai role model (contoh) pengelolaan lembaga keuangan khusus adat Bali. Langkah ini sebagai amanat UU Nomor 1/2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) serta Pararem LPD Bali yang sudah ditetapkan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali. 

"Perubahan sistem tata kelola itu cerminan kesungguhan kita memperkuat LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di Desa Adat Kedonganan," kata Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M., saat menyampaikan laporan akhir tahun LPD Kedonganan di ruang pertemuan LPD Kedonganan, Kamis (31/12). Pertemuan itu dihadiri para pemangku desa, Badan Pengawas, Prajuru dan Panglingsir Desa Adat Kedonganan, unsur pemerintahan dinas Kelurahan Kedonganan, LPM Kedonganan, kelian banjar, kepala lingkungan, karang taruna, karyawan LPD, tokoh-tokoh masyarakat dan para penerima hadiah undian nasabah dan punia berhadiah Selae Tiban LPD Kedonganan. 



Selain tantangan internal berupa perubahan sistem tata kelola, LPD Kedonganan juga akan menghadapi tantangan eksternal berupa situasi ekonomi yang masih belum bisa diprediksi. Karena itu, kata Madra, dibutuhkan dukungan, kerja sama dan kerja keras semua pihak di Desa Adat Kedonganan agar LPD Kedonganan tetap eksis dan kian mampu menunjukkan perannya di tengah-tengah krama Desa Adat Kedonganan. 

Sepanjang tahun 2015, diakui Madra, situasi pelambatan ekonomi secara nasional maupun lokal, berdampak pada perkembangan LPD Kedonganan. Sejumlah target yang ditetapkan tidak bisa tercapai, seperti target pemupukan dana pihak ketiga seperti tabungan dan deposito, penyaluran kredit dan aset. Tidak tercapainya target pemupukan dana tabungan dan deposito memang disebabkan pelambatan ekonomi. Hal ini berdampak pada aset LPD. Aset LPD Kedonganan hingga 31 Desember 2015 tercatat Rp 266,2 miliar, lebih rendah dari target Rp 290 miliar. Sementara tidak terpenuhinya target penyaluran kredit karena memang ada strategi baru yang diterapkan LPD Kedonganan untuk mengurangi penyaluran pinjaman, khususnya kepada krama tamiu (penduduk pendatang beragama Hindu) dan tamiu (penduduk pendatang non-Hindu). 

"Kredit kepada krama tamiu dan tamiu kami batasi karena kami ingin mengoptimalkan kredit bagi krama Desa Adat Kedonganan sendiri. Hakikat LPD memang begitu, membuka akses keuangan bagi komunitas adat terbatas di satu wilayah desa adat," kata Madra. 

Selama ini, imbuh Madra, kredit untuk krama tamiu dan tamiu yang tinggal di wawengkon (wilayah) Desa Adat Kedonganan bisa diberikan tetapi dengan persyaratan yang ketat, terutama ada krama Desa Adat Kedonganan sebagai penjamin. Dalam sistem tata kelola yang baru nanti, penyaluran kredit untuk krama tamiu dan tamiu ini bakal diatur kembali dalam koordinasi Dewan LPD dengan berdasarkan prinsip-prinsip pasidhikaran antardesa adat. 

Meskipun sejumlah target tidak terpenuhi, khusus target laba justru terlampaui. Tahun 2015, laba LPD Kedonganan ditargetkan Rp 11,088 miliar, tetapi realisasi laba LPD Kedonganan per 31 Desember 2015 senilai Rp 11,105 miliar.

"Tahun 2016, laba LPD Kedonganan ditargetkan Rp 12,088. Agar target ini bisa dicapai, semua pihak, baik pengurus dan karyawan LPD, prajuru desa, badan pengawas dan seluruh krama Desa Adat Kedonganan mesti berjuang bersama. Tingkatkan tabungan, tambah deposito, optimalkan kredit di LPD Kedonganan. Kita berjuang bersama," kata Madra. (*)

Inilah Para Pemenang Undian Nasabah dan Punia Berhadiah Selae Tiban LPD Kedonganan

Bertepatan dengan acara tutup tahun 2015 dan menyambut tahun 2016, LPD Kedonganan mengumumkan para pemenang undian nasabah dan punia berhadiah serangkaian perayaan Selae Tiban LPD Desa Adat Kedonganan. Hadiah para pemenang juga sekaligus diserahkan saat itu di kantor LPD Desa Adat Kedonganan.

Berikut nama-nama para pemenang tersebut.

1. Hadiah Utama Tabungan dan Punia 

I Putu Gde Ardhita Waisnawa (kiri) menerima hadiah utama satu unit mobil Toyota Agya.

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 I Putu Gde Ardhita Waisnawa Mobil Toyota Agya Kubu Alit
2 I Ketut Putra  Sepeda Motor Honda CBR Kubu Alit
3 Ni Putu Bintang Budiasih Sepeda Motor Yamaha NMAX Ketapang
4 I Nyoman Mustika/I Gst. Komang Astawa Sepeda Motor Honda Vario Techno Anyar Gede
5 I Nyoman Juliantara Jaya Sepeda Motor Honda Scoopy Pengenderan
6 KSU Kertha Dana/I Wayan Luntra Sepeda Motor Honda Beat Pop Kerthayasa

Ni Putu Bintang Budiasih menerima hadiah utama sepeda motor Yamaha NMAX.

2. Hadiah Hiburan Tabungan dan Punia 

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 I Made Astika Dharma Yoga Mesin Cuci Electrolux Ketapang
2 Ni Ketut Rima Redita P.  Lemari Es Toshiba Dua Pintu Ketapang
3 Ni Nyoman Samini TV LED LG 32 Inch Anyar Gede
4 I Wayan Tika/ DT Mesin Cuci Samsung Pengenderan
5 Ni Made Sukarmi TV LED 24 Inch Ketapang
6 I Made Suwirna Lemari Es Toshiba Satu Pintu Anyar Gede

Penyerahan hadiah utama sepeda motor Honda Vario Techno

3. Hadiah Tabe Plus

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 Gst Ayu Made Rika Suryaningsih Sepeda Motor Honda Beat Pop Jalan Segara Wangi Kedonganan
2 Ni Nym Tri Mahayani Laptop Ketapang
3 Ni Kadek Rika Pramesti Ipad Mini Pasek
4 I Gst Ketut Adi Triyoga Putra Sepeda Santai Kubu Alit

4. Hadiah Deposan

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 Ni Komang Nilasati Bhidari Deposito LPD @ Rp 10.000.000 Pasek
2 Ni Wayan Gandri Deposito LPD @ Rp 5.000.000 Anyar Gede
3 Desak Nyoman Oka Antari, S.Sos. Sepeda Gunung Polygon Pengenderan
4 I Made Parka, S.H. TV LED LG 24 Inc Pasek

5. Hadiah Debitur

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 I Komang Pariana Sepeda Gunung Polygon Lingk. Pasek
2 I Made Nyutra/ I Made Sorna TV LED LG 24 Inc Pengenderan
3 I Made Pasek Lemari Es Toshiba Satu Pintu Anyar Gede

6. Hadiah Jalan Santai

No Nama Pemenang Hadiah Banjar/Alamat
1 I Ketut Sudiasa Sepeda Motor Honda Scoopy Anyar Gede
2 I Nyoman Mayun Sepeda Motor Honda Beat Pop Pasek

Minggu, 27 Desember 2015

Syukuri LPD Membuat Makin "Elah", Tapi Jangan "Ngelahin"

Wawancara Khusus dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 


Selama 25 tahun, LPD Kedonganan menjadi lokomotif pembangunan di Desa Adat Kedonganan. Kehadiran lembaga keuangan komunitas adat di Kedonganan ini membuat krama dan Desa Adat Kedonganan kian elah, makin mudah, baik dalam hal pembangunan fisik maupun nonfisik. Namun, justru kondisi kian elah ini membiakkan kekhawatiran. Mengapa? Berikut wawancara dengan Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M.

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., M.M. 
Apa makna usia 25 tahun ini bagi LPD Kedonganan?

Ya, bagi sebuah lembaga, usia 25 tahun itu pertanda memasuki tahap kematangan. Selama seperempat abad ini, LPD Kedonganan sudah memainkan peran sebagai motor penggerak, stabilisator dan dinamisator pembangunan di desa adat. LPD men-drive kehidupan kita beradat dan berbudaya Bali berlandaskan ajaran agama Hindu.

Di usia ke-25 tahun ini, LPD Kedonganan merasa sudah sukses?

Penilaian itu seharusnya diberikan krama. Tapi, kami di LPD Kedonganan memiliki ukuran sukses itu pada tiga aspek, yakni sukses parhyangan, sukses pawongan dan sukses palemahan. Kami menyebutnya trisukses LPD Kedonganan. Dari aspek parhyangan, kami bersyukur, semua parhyangan di desa adat kini sudah diperbaiki dan di situ ada peran LPD. Pelaksanaan upacara, aci rutin di kahyangan desa maupun banjar-banjar juga sudah tidak lagi menjadi masalah karena sumber pendanaannya dari LPD. Bahkan LPD memberikan punia secara rutin ke dadia dan paibon. Masih dalam kaitan yadnya, LPD juga memfasilitasi program desa adat berupa ngaben dan nyekah ngemasa setiap tiga tahun. Dalam aspek pawongan, LPD selama ini tidak pernah absen membina prestasi belajar anak-anak Kedonganan melalui tes beasiswa prestasi, lomba cerdas cermat dan beasiswa untuk anak yang orang tuanya kurang mampu. Kami juga mendorong tumbuhnya wirausaha muda melalui pelatihan dan lomba. Dari sisi palemahan, LPD juga menjadi motor penggerak dan fasilitator penataan Pantai Kedonganan hingga kini berkembang menjadi kawasan wisata kuliner berbasis komunitas adat. Di satu sisi palemahan tertata, di sisi lain pawongan secara ekonomi juga berkembang. Kami terus berupaya mensinergikan tiga aspek ini agar makin bermanfaat bagi krama dan desa adat. 

Usia 25 tahun kerap diidentikkan dengan zona nyaman. Komentar Anda?

Kita sadari hal itu. Kami membagi perkembangan LPD Kedonganan ini ke dalam empat periode. Pertama, periode perintis yang dimulai tahun 1990 hinga sekitar tahun 1995. Ini masa awal yang sulit karena kami tak hanya berjuang membangun lembaga tetapi juga merebut kepercayaan krama. Kedua, periode pengembang. Periode ini ditandai dengan pendirian kantor yang representatif dan kepercayaan krama mulai tumbuh. Ketiga, periode penikmat. Pada periode ini manfaat LPD makin dirasakan krama. Periode inilah yang perlu kita sikapi secara hati-hati. Pada umumnya ketika sudah merasa nyaman, masyarakat berpikir elah (mudah, gampang), akhirnya lengah. Masyarakat merasa sudah ada LPD yang menjadi tumpuan. Prajuru juga merasa sudah ada LPD yang mendukung pendanaan desa. Karyawan merasa, LPD kita sudah besar. Akhirnya, tidak ada antisipasi atas berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kalau kita lengah di periode ini, bisa saja kita terejembab ke periode keempat, periode penghancur. Karena itu, krama desa, prajuru desa dan karyawan LPD tidak boleh ngelahin (menggampangkan) hanya karena melihat LPD kini sudah besar. Jusrtu di sinilah kita harus lebih serius dan waspada.

Apa indikator LPD Kedonganan kini memasuki zona nyaman?

Hal itu bisa dilihat dari beberapa contoh. Pembangunan Pura Bale Agung, dianggarkan Rp 3 miliar, habis juga Rp 3 miliar. Miskin kreativitas untuk mencari sumber-sumber dana lain. Pengelolaan pasar desa adat di KUD, enam tahun tidak ada hasil, masyarakat tak memasalahkan. Usaha kafe di pantai jor-joran memberikan komisi, tak ada yang memikirkan untuk mengatasinya dan malah merasa itu wajar. Padahal, itu membunuh kita pelan-pelan. Kenapa bisa begitu? Karena semua merasa nyaman, semua merasa sudah ada yang mem-back up, sudah ada LPD. Kita pun kini jadi manja. Kalau tidak ada uang, tak mau bergerak. Dulu, saya bikin lomba baleganjur, tanpa ada dana pembinaan ke banjar-banjar, orang bersemangat latihan. Sekarang, hal semacam itu sulit kita dapatkan. Terus terang, saya ngeri membayangkan masa depan generasi Kedonganan. Apalagi yang saat ini berusia di bawah 25 tahun. Mereka sudah menerima LPD dalam kondisi besar. Padahal, di balik apa yang kini disebut kesuksesan LPD, awalnya adalah sikap tulus, lurus dan serius para pendahulu.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Tatkala saya menggandengkan undian HUT LPD dengan kegiatan penggalian dana pembangunan Pura Puseh-Desa dan promosi kafe, banyak teman-teman yang bertanya, tak mengerti. Bahkan ada yang bertanya, untuk apa lagi menjual kupon, toh sudah ada dana? Inilah cerminan sikap nyaman. Ini bagian dari upaya merawat semangat untuk terus berusaha, tiada henti berkreativitas. Dengan pola sinergi itu, semua aspek digerakkan, terutama partisipasi krama. Dalam teori pemerintahan modern, partisipasi masyarakat adalah kunci utama. Pola kupon bersama ini membuat partisipasi krama berjalan secara simultan, beriringan dengan aspek ngayah untuk pembangunan pura. Di tengah-tengah LPD menjadi dinamisatornya dengan memberikan hadiah. Pada akhirnya, gerak simultan itu akan memberi manfaat bagi LPD. Memang, upaya ini belum berjalan maksimal, mungkin karena pemahaman yang belum utuh terhadap aspek tujuan dan manfaatnya. Tapi, dampaknya sudah bisa dirasakan. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan fisik Pura Puseh-Desa lebih rendah dari biaya yang dianggarkan. Kenapa bisa begitu? Ada unsur partisipasi krama. Intinya, jangan terlena, jangan malas, jangan cepat berpuas diri. Kita harus terus berusaha.

Apa harapan ke depan?  


Saya berharap kepada pemuda. Itu sebabnya, saya gosok-gosok mereka, saya dorong mereka menjadi wirausaha, saya dorong mereka ikut mengkritisi LPD dan dinamika pembangunan di desa. Mereka harus belajar dari sejarah, dari para pendahulu. (*)

Ribuan Krama Hadiri Jalan Santai Selae Tiban LPD Kedonganan

Ribuan krama Desa Adat Kedonganan tumpah ruah menghadiri acara jalan santai serangkaian Selae Tiban (25 Tahun) LPD Desa Adat Kedonganan, Minggu (27/12) pagi. Krama tampak antusias mengikuti acara ini, terlebih lagi hadiah utama yang diperebutkan dalam door prize (undian berhadiah) berupa dua buah sepeda motor dan belasan hadiah lain. 

Jalan santai dilepas Camat Kuta, I Gde Rai Wijaya di depan kantor LPD Kedonganan, Jalan Catus Pata Kedonganan. Rute jalan santai mengelilingi wawengkon (wilayah) Desa Adat Kedonganan dan berakhir di Pantai Kedonganan, sebelah utara Pura Segara. 

Krama tumpah ruah mengikuti jalan santai Selae Tiban LPD Kedonganan.
Wajah-wajah ceria pun tergambar dari krama yang mengikuti jalan santai. Canda tawa renyah menyeruak di sela-sela jalan santai. Penuh keakraban dan kebersamaan. 

Sejumlah warga mengaku senang mengikuti acara jalan santai HUT LPD Kedonganan ini. Menurut mereka, acara jalan santai ini menjadi ajang bagi warga yang bertemu dan saling bertegur sapa.

"Saat acara begini, semua warga keluar, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ini momentum berharga untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara krama," kata I Made Widiana, salah seorang tokoh masyarakat Kedonganan. 

Hal senada juga diungkapkan Ketua Badan Pengelola Kawasan Pariwisata Pantai Kedonganan (BPKP2K), I Wayan Mertha. Menurut Mertha yang baru saja lulus sebagai doktor ilmu Ekonomi di Program Pascasarjana Unud ini, kegiatan semacam jalan santai HUT LPD Kedonganan mampu memperkuat modal sosial masyarakat Kedonganan. 

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra menyatakan krama Kedonganan sudah menjadikan kegiatan jalan santai HUT LPD sebagai program rutin, semacam kebutuhan yang harus ada. Itu sebabnya, setiap tahun krama selalu mengingatkan agar kegiatan jalan santai tidak dihilangkan. 

"Walaupun LPD tak menyediakan baju seragam mereka tetap bersemangat mengikuti jalan santai. Untuk perayaan Selae Tiban kali ini, kami buatkan baju seragam," kata Madra. 

Suasana jalan santai semakin meriah dengan tampilnya penyanyi lagu pop Bali, AA Raka Sidan, dkk. Krama bertambah antusias tatkala tiba pengundian door prize peserta jalan santai. Dua unit sepeda motor serta berbagai hadiah lain, seperti lemari es, TV LED, kamera digital, mesin cuci serta tea set diberikan kepada peserta yang beruntung. 

Selain itu, panitia juga memberikan hadiah menarik bagi peserta yang mampu mengumpulkan sampah terbanyak. Sepanjang rute jalan santai, peserta diimbau mengumpulkan sampah yang dijumpainya. Sampah-sampah itu disetorkan kepada panitia yang bekerja sama dengan DKP Badung. Lima peserta dengan volume sampah terbanyak mendapat hadiah khusus. 

Para peserta pengumpul sampah terbanyak menerima hadiah.
Ketua Panitia, I Wayan Suriawan menjelaskan perayaan Selae Tiban LPD Kedonganan mengusung tema "Ngulati Kasukertan Krama dan Desa, Ngrajegang Adat lan Budaya Bali". Tema ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan, meliputi lomba-lomba, dialog, serta aksi sosial.

"Ada tiga bidang utama kegiatan, yaitu parahyangan, pawongan dan palemahan sesuai dengan visi LPD Kedonganan mewujudkan kesejahteraan krama dan Desa Adat Kedonganan berdasarkan Tri Hita Karana," kata Suriawan. 

Seluruh rangkaian kegiatan sudah berlangsung sejak Mei 2015. Dana yang dianggarkan untuk berbagai kegiatan mencapai Rp 1,2 miliar. 

Malam hari ini acara masih dilanjutkan dengan Refleksi Selae Tiban LPD Kedonganan yang disertai undian berhadiah bagi nasabah penabung, deposan dan kredit. Hadiah utama berupa satu unit mobil Toyota Agya, lima unit sepeda motor dan berbagai hadiah menarik lain senilai total Rp 342 juta. (*)


Sabtu, 26 Desember 2015

Besok Puncak Perayaan Selae Tiban LPD Kedonganan, Ini Hadiah Utamanya

Perayaan Selae Tiban (25 Tahun) LPD Kedonganan tidak saja istimewa dari sisi rangkaian kegiatannya yang panjang dan variatif. Hadiah undian nasabah penabung, deposan, debitur dan Tabe Plus juga istimewa. Untuk pertama kali, hadiah utama undian nasabah berupa satu unit mobil Toyota Agya. Selain itu, masih ada lima unit sepeda motor di jajaran hadiah utama. Seluruh hadiah itu akan diundi pada puncak perayaan HUT ke-25 LPD Kedonganan, Minggu, 27 Desember 2015.


Ketua Panitia HUT ke-25 LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan, total hadiah yang diundi pada perayaan kali ini senilai Rp 342 juta dengan jumlah hadiah sebanyak 50 buah. “Ini termasuk nilai hadiah terbesar sepanjang sejarah undian nasabah yang dilaksanakan LPD Kedonganan,” kata Suriawan.

Di luar hadiah utama, masih ada tiga unit sepeda motor lagi. Satu unit diberikan untuk nasabah Tabe Plus dan dua unit lagi diberikan sebagai hadiah undian bagi peserta jalan santai. Hadiah lainnya juga cukup menarik, seperti lemari es, mesin cuci, televisi, sepeda gunung, laptop, kamera digital, ipad mini, kompor gas, hingga dinner set.

Menurut Suriawan, berbagai hadiah undian nasabah dan jalan santai itu sebagai tanda terima kasih LPD Kedonganan atas dukungan dan kepercayaan krama dan nasabah. Suriawan berharap, dukungan dan kepercayaan itu akan terus terjaga bahkan makin meningkat kualitasnya. Dengan begitu, LPD Kedonganan bisa makin maksimal pula memberikan manfaat bagi krama, nasabah dan Desa Adat Kedonganan. Pasalnya, hasil pengelolaan LPD Kedonganan akan dikembalikan kepada krama dan Desa Adat Kedonganan. (*)